
Kenyataan hidup sepahit apa pun harus tetap dihadapi. Tidak akan bisa lari dari takdir Ilaihi Robbi. Semua ada pada nasib dan garis hidup masing-masing setiap insan yang bernyawa.
Sudah berkali-kali Kak Mursida tidak sadarkan diri setelah Bu Maya dan Pak Misbah memberikan kabar tentang berpulangnya suami tercinta. Seolah tidak percaya suami pergi bersamaan hadirnya putri kecil tercinta.
Hanya dengan memberikan dukungan dan pengertian, lambat laun Kak Mursida bisa menerima walaupun dengan berat hati. Dengan terus berlinang air mata, doa dan harapan terus dipanjatkan. Semoga bahagia di sisi Allah yang maha kuasa.
"Kamu harus tetap kuat dan ikhlas, ingat putrimu juga sangat membutuhkan kamu. Harus tetap semangat," nasihat Ibu Maya kepada adiknya.
"Terima kasih Kak Maya. Mengapa harus suami Mur yang diambil, mengapa tidak Mur saja?" Kak Mur masih terus meratapi nasibnya.
"Allah maha tahu, semua sudah ada pada takdir masing-masing. Ingat Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan kita, pasti kamu bisa menghadapi ini dengan hati ikhlas dan sabar."
Sambil mengusap air mata yang terus mengalir. Kak Mursida hanya bisa memanjatkan doa dalam hati. Harus bisa menerima dengan lapang dada garis takdir yang baru saja dihadapi.
Satu persatu dan bergantian sahabat dan keluarga berkunjung mengucapkan bela sungkawa. Kelahiran bayi mungil disertai duka yang teramat dalam. Membuat Kak Mursida semakin merasakan terpuruk.
"Kak, Mur ingin ke makam Bang Aan, Mur ingin menemani Abang di sana, pasti Abang sendiri," rengek Kak Mursida selalu teringat almarhum suami tercinta.
"Nanti kalau kondisi dan kesehatan kamu membaik, pasti diantar ke sana," jawab Bu Maya dengan sabar.
"Dokter juga belum mengizinkan kamu untuk keluar dari rumah sakit, bersabarlah sebentar ya!" Pak Misbah juga ikut memberikan nasehat.
"Kamu tidak sendiri, masih ada kami yang akan selalu ada dan akan membantu." Wahono juga tidak ketinggalan memberikan dukungan kepada Kak Mur.
"Bang Wah, mengapa tidak kamu larang Bang Aan pergi, Mur sangat membutuhkan dia saat ini?"
"Semua sudah ada yang mengatur, bersabarlah, insyaallah Almarhum Aan diberikan jalan terang di sana.
"Aamiin."
Dukungan dan nasihat terus diberikan untuk Kak Mursida. Bahkan Erina yang baru saja melahirkan juga ikut mengunjungi Kak Mursida hanya untuk sekedar mengucapkan turut berduka cita. Tidak lupa memberikan dukungan dan doa yang terbaik untuk keluarga yang ditinggalkan.
Selama satu minggu sudah berlalu, sahabat dan keluarga selalu mendukung dan mendampingi Kak Mursida. Selalu memberikan perhatian yang khusus terutama bayi yang baru saja lahir. Hari ini Kak Mursida dan bayinya diizinkan pulang oleh Dokter.
Siang harinya ditemani keluarga dan sahabat, Kak Mursida ziarah ke makam suami tercinta. Termasuk Vefe dan Khan juga ikut mendampingi. Hanya Erina saja yang tidak bisa ikut, tetapi diwakili oleh Daniel.
Dengan linangan air mata yang terus membasahi pipi. Kak Mursida memanjatkan doa khusus untuk Almarhum Aan. Kedua tangan menengadah demi kebahagiaan sang suami yang sudah menghadap keharibaan Ilahi Robbi.
__ADS_1
Pulang dari pemakaman keluarga kembali ke rumah Kak Mursida. Sebagian sahabat berkumpul di rumah Wahono. Mereka berbincang di sasana tinju yang sering dipakai oleh Aan. Mereka tidak ada yang berani memakai sasana tinju itu.
"Mengapa semua pada takut sih, Pi?"
"Mereka masih terbayang wajah Aan saat berlatih di situ."
"Mungkin nanti seiring berjalannya waktu, pasti akan digunakan lagi."
Tanpa di duga Kak Mursida ikut menyusul ikut ke rumah Wahono. Dengan alasan ingin berkumpul dan mengenang saat Aan berlatih. Membuat semua kaget dan bertanya-tanya.
"Seharusnya Kak Mur beristirahat, jaga kesehatan demi si kecil, Kak!" Dewi membimbing Kak Mur duduk di sasana tinju.
"Kak Mur mau duduk di sini sebentar."
Kak Mursida duduk termenung dengan pandangan mata yang kosong. Hanya bisa mengenang kenangan yang terukir indah di hati peristiwa yang sudah berlalu. Tidak akan mungkin bisa kembali semua kenangan itu bersama perginya orang terkasih.
Setelah dua jam termenung, Kak Mur berjalan dan mendekati Vefe dan Khan yang sedang berbincang, "Ve, apakah bisa tolong antarkan Kak Mur pulang?"
"Tentu Kak, dengan senang hati." Vefe menggandeng Kak Mur untuk keluar rumah Wahono.
Rumah Kak Mursida hanya berjarak lima rumah dari rumah Wahono. Dengan berjalan kaki hanya kurang dari sepuluh menit sudah sampai, "Ayo masuk dulu, Ve!" ajak Kak Mursida.
Di rumah Kak Mursida masih ada keluarga Pak Misbah dan keluarga Aan yang dari Bogor. Mereka berbincang dan menjaga bayi mungil yang baru kehilangan ayahnya.
"Kak Mur, mengapa lama betul, kami mengkhawatirkan keadaan Kakak?" tanya Bahar berlari mendekat.
"Kak Mur baik-baik saja."
Bahar langsung tersenyum dan mengangguk melihat Vefe yang menggandeng Kak Mursida, "Eee ada Kak Ve, apa kabar?"
"Alhamdulillah."
"Kak Ve sendiri ke sini?"
Tanpa diduga Khan muncul dengan membuka pintu di belakang Vefe, "Tidak, dia bersama ku!" teriak Khan cepat.
"Ooo Mas Khan juga ikut."
__ADS_1
Khan langsung duduk dan berbincang dengan Pak Misbah da Bu Maya. "Apa kabar, Om dan Tante?"
"Kami baik, Nak. Di mana Bunda dan Ayah?"
"Ayah dan Bunda masih di Manhatten, hanya bisa titip salam dan berdoa saja."
"Terima kasih, Nak."
Sambil berbincang, Bahar masih sering melirik Vefe. Cara memandang Vefe masih seperti dulu seolah memuja dan menggumi. Tanpa memperdulikan tatapan mata tajam Khan yang terlihat kesal.
Sekarang ini situasinya terbalik. Saat kasus Eno, yang selalu melirik Eno pada Khan. Sekarang ini Bahar yang selalu melirik ke arah Vefe.
Hanya bedanya, dulu Vefe bersikap wajar dan biasa saja menanggapi Eno. Namun, sekarang ini Khan menunjukkan rasa tidak suka dan cemburu.
"Biasa saja kali, Pi. Jangan cemburu berat begitu," bisik Vefe di telinga Khan.
"Itu mata Bahar minta di colok pakai tusuk sate," jawab Khan juga ikut berbisik.
"Tidak perlu di tanggapi, Ve juga tidak tertarik dengan dia kok, Pi."
"Papi sangat percaya sama, Mami. Hanya dengan mata Bahar sama sekali tidak percaya."
Khan berbincang dengan Pak Misbah dan Bu Maya. Namun, selalu waspada dengan mengawasi Bahar yang matanya jelalatan dan sering melirik Vefe. Tidak rela istri tercinta selalu dipandang dengan penuh kekaguman.
Hampir satu jam Khan dan Vefe berbincang dengan keluarga Kak Mursida. Bahar juga tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya. Terus dan selalu curi pandang pada Vefe.
"Pi, ayo kita pulang saja, risih juga lama-lama melihat si Bahar itu," bisik Vefe di telinga Khan.
"Tunggu sebentar lagi, Mami. Papi punya rencana agar si Bahar itu kapok dan tidak berani memandangi Mami lagi."
"Eeee mau diapain dia, Pi?"
"Mami tenang saja, tunggu tanggal mainnya."
BERSAMBUNG
yok mampir kk di novel teman author yang rekomen banget ini, pasti tidak akan menyesal, bagus banget lo
__ADS_1