Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 67. Resah


__ADS_3

Khan menggelengkan kepala setelah melihat Erina cengar-cengir sambil menempelkan ponsel di telinga. Umi Maryam menghubungi berkali-kali tidak diangkat karena Dia sedang berbincang dengan seseorang.


"Ve dimana, Rin?"


"Ve sedang mengantar pesanan, Mas. Ada apa mencari Vefe?"


"Mas menghubungi dia, tetapi ponselnya tidak aktif."


"Ooo itu ponselnya di meja!" tunjuk Erina pada ponsel Vefe yang tergeletak di meja.


"Mengapa ponselnya mati?"


"Kata Vefe, tadi pagi dia lupa mengisi daya baterai, dia lupa membawa charger ponsel."


Khan mulai memahami mengapa ponsel tidak bisa dihubungi. Begegas Khan menghubungi Umi Maryam agar tidak khawatir. Mengatakan jika ponsel Vefe mati karena baterai habis.


"Sekarang Ve ada di mana?"


"Dia mengantar pesanan pelanggan di dekat pasar tradisional, mungkin sekitar setengah jam lagi sudah kembali ke sini. Apakah Anda ingin menunggu?"


"Terima kasih, Mas tunggu di mobil saja."


Khan keluar dari Verin Olshop, tidak ingin hanya berdua dengan sahabat Vefe. Dari tadi berbicara dengan dia hanya dari samping pintu saja. Jarang nyaman jika berbincang dengan wanita yang belum kenal betul.


Setengah jam bagi Khan lebih dari setengah hari. Jam yang melingkar di tangan seolah berjalan dengan lambat. Netranya tertuju pada jalan dan melihat satu persatu motor yang berlalu-lalang di jalan raya.


Berharap sang kekasih hati yang datang dengan senyuman yang menawan. Debaran hati terus saja berdegup kencang tanpa henti. Rasa cemas, khawatir dan rindu menjadi satu.


Kini setengah jam telah berlalu, namun yang diharap tak junjung datang. Khan sampai mengacak rambutnya sendiri karena kesal, "Berapa lama lagi sih, Mas menunggu, Ve?"


Suara motor mendekat, gadis yang memakai kemeja kotak-kotak dengan wajahnya yang tertutup helm mendekati mobilnya. Senyumnya yang mengembang seolah melelehkan hati yang tadi kesal. Semua kekhawatiran dan kecemasan langsung hilang tanpa bekas.


Yang ada tinggal debaran hati yang mulai terobati. Wajah Khan ikut berseri-seri secerah mentari pagi. Khan langsung turun dan berlari mendekati Vefe yang baru memarkirkan motornya.


"Ve ...!" Hanya nama itu saja yang mampu diucapkan.


"Mengapa Mas ada di sini?"


"Mas cari belahan jiwa yang hilang," jawab Khan sekenanya saja.


"Eee ... Siapa yang hilang?"


Khan tidak menjawab pertanyaan Vefe. Dia lebih memilih tersenyum simpul dan menggandeng tangannya mengajak untuk naik mobil, "Mas mau minta maaf."


Jantung Vefe berdegup kencang teringat perkataan resepsionis tadi pagi. Vefe merasa resah takut Khan akan membahas tentang saat datang dengan berpenampilan seadanya. Takut membuatnya malu karena penampilannya.


"Tunggu dulu, Mas. Ve mau memberikan laporan dulu pada Erin!" Vefe menarik tangan nya agar terlepas darinya.

__ADS_1


Khan menghentikan langkahnya memandangi wajahnya yang terlihat cemas, "Maafkan Mas dulu baru boleh masuk!"


"Mas Khan salah Apa?"


"Mas mematikan ponsel saat meeting tadi pagi."


Itu bukan kesalahan, Mas. Itu namanya bertanggung jawab."


"Apakah Ve mengalami kesulitan saat masuk perusahaan tadi pagi?"


"Tidak ada kok, Mas. Semua baik-baik saja." Vefe hanya menghembuskan napasnya perlahan. Merasa lega ternyata dia tidak mengetahui apa yang dialami saat di lobi.


"Sana laporan dulu, Mas tunggu di sini!"


"Ini masih jam kerja, Mas mau ke mana?"


"Ini jam istirahat, Ve. Mas lapar, temani maakan siang ya?"


Vefe hanya menjawab dengan mengangguk. Ada rasa lega Khan tidak membicarakan penampilannya seperti bayangnnya sendiri. Bergegas masuk Verin Olshop dengan langkah panjang.


Khan merasa lega setelah Vefe tidak mempermaslahkan ponsel yang tadi dimatikan. Memandangi Vefe yang berlalu masuk dan mendorong pintu. Hanya dalam waktu sepuluh menit dia sudah kembali lagi.


"Apakah Mas tidak malu bareng Ve yang hanya berpenampilan seperti ini?"


"Apa yang salah dengan penampilan Ve. Sudah cantik kok."


Tunggu sebentar." Khan membuka jas dan dasinya. Di letakkan di jok mobil bagian belakang. Membuka dasi yang melingkar di lehernya. Dan menggulung kemeja lengannya sampai siku.


"Bagaimana, apakah Mas sudah ganteng dan cocok dengan penampilan Ve yang cantik?" rayu Khan.


Vefe menggelengkan kepala sambil tergelak, berjalan meninggalkan Khan menuju mobilnya, "Ayo kita berangkat!"


"Sesuai perintah Tuan Putri."


Khan berjalan cepat mendahului Vefe, membukakan pintu mobil sambil tersenyum, "Silahkan Masuk!"


Dalam perjalanan Vefe lebih banyak diam. Hanya menjawab sekedarnya saat ditanya Khan. Sampai sekarang masih mengganjal perasaan hati. Perasaan lega seolah hanya menghilang sesaat.


"Ve, masih marah sama Mas?"


"Ve tidak marah sama Mas."


"Hari ini berbeda lo."


"Apanya yang berbeda, Mas?"


Khan berkali-kali menengok kearah Vefe yang melihat lurus ke depan, "Cantiknya sih maasih tetap, tetapi hari ini Ve banyak diam hanya menjawab pertanyaan Mas saja."

__ADS_1


Vefe mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan. Temenung dan berpikir sebenarnya ingin bersikap biasa saja, tetapi hatinya tetap tidak bisa di bohongi. Dalam hati hanya menyalahkan nasibnya bukan menyalahkan orang yang menghinanya.


"Ve Cantik, mengapa ditanya bukannya dijawab malah melamun?"


Vefe mengerucutkan bibirnya dari tadi selalu mengatakan cantik tanpa henti, "Ve tidak apa-apa, Mas. Lagi malas saja, tidak perlu merayu terus."


Khan tergelak sambil pengusap lengannya, "Bukan mearyu, memang kenyataan."


"Sudah jangan menggombal terus, mau makan di mana?"


"Di restoran langganan Mas."


Vefe langsung terasa nyeri di hati, takut ada yang memandang sebelah mata. Pasti restoran mewah seperti candlelihgt dinner seperti kemarin, "Apakah boleh Ve menentukan tempat makannya, Mas?"


"Ve pingin makan di mana?"


"Di kedai masakan Sunda."


"Dengan senang hati, Ve yang menunjukkan jalannya, ok!"


Vefe tersenyum dan mengangguk, setidaknya merasa lega. Tidak akan dipandang aneh saat berpenampilan sederhana. Bisa lebih percaya diri karena di sana pengunjung dari semua kalangan.


Kedai yang di rekomendasi oleh Vefe ternyata tempatnya luas. Kedai yang berkonsep out door dengan pemandangan banyak tanaman yang asri. Mebuat hati merasa lebih tenang dan nyaman.


Vefe memilih tempat gazebo kecil dan duduk lesehan, "Ini silahkan Mas yang memilih menu?"


Khan membaca menu makanan khas Sunda sambil tersenyum. Ada banyak varian olahan ikan asin yang tertera di sana. Teringat Bunda Fatia kemarin saat menghidangkan ikan asin, namun akhirnya yang makan Pak Gun, dan dua security.


"Mas tidak perlu memesan ikan asin, ada banyak menu selain itu!" perintah Vefe saat melihat Khan tersenyum membaca menu yang di sodorkan.


"Mas ikan bakar dan es jeruk, Ve mau pesan apa?"


"Di samakan saja, Mas."


"Tidak tambah yang lain, ini ada banyak ikan asin?"


Vefe menggelengkan kepala, "Tidak ah, Mas. Di panti kemarin sudah makan ikan asin."


"Apakah Mas boleh tanya?"


Tanya apa, Mas?"


"Ini banyak macam olahan ikan asin, apakah rasanya masih tetap asin ketika diolah dengan berbagai varian?"


BERSAMBUNG


Sambil mennggu KKJ up besok pagi mampir dulu yuk di novel teman, ini rekomen banget lo

__ADS_1



__ADS_2