
Ada suara gaduh di antara rumah Bunda Fatia dan rumah Eno. Ada beberapa orang yang berlari dengan membawa kayu balok. Ada juga orang yang berlari menghindari dari tempat suara gaduh.
"Ada apa sih, Pak?" tanya Khan kepada security yang sedang berdiri di depan pintu gerbang.
"Ada seseorang wanita cantik mabuk berat, Tuan."
"Siapa wanita itu, Pak?" tanya Bunda Fatia.
"Katanya teman pengantin wanita yang baru saja datang, dia hampir menghancurkan pelaminan."
"Siapa teman Eno yang suka mabuk, Khan?" tanya Bunda Fatia.
Khan menggelengkan kepala sambil berusaha melihat ke arah tempat keributan. Walaupun lampu terlihat terang, namun wajah mereka tidak terlihat jelas. Banyak terhalang orang yang lalu-lalang datang dan pergi melihat keributan.
Ayah Jose dan Asisten Satria ikut berlari di belakang Khan karena melihat dan mendengar keributan, "Ada apa, Tuan?" tanya Asisten Satria berdiri di belakang Khan.
"Ada apa, Bun?" tanya Ayah Jose.
"Naah ... seharusnya kamu tahu wanita yang mabuk itu, Satria?" tanya Bunda Fatia.
"Wanita siapa sih, Nyonya Bunda?"
"Kata security ada teman Eno yang baru datang, dia mabuk di sana, coba kamu lihat!" perintah Bunda Fatia.
"Baiklah, saya lihat sebentar."
Asisten Satria membuka gerbang dibantu security. Dengan setengah berlari mendekati dan melewati orang yang bergerombol. Ada wanita yang merancu dan duduk bersila di lantai teras rumah tetangga.
Asisten Satria langsung mendekati wanita itu. Dia masih terus merancu tidak karuan. Matanya langsung terbuka lebar dan tertawa setelah melihat Asisten Satria.
"Bang Sat ha ... ha ... ha, maaf. Apakah gue sudah kembali ke Jakarta, kok bisa gue ketemu Bang Satria?"
Wanita itu berusaha berdiri, namun sempoyongan dan terduduk lagi, "Sorry ya ... Bang, tolong bilangin Eno. Nasehati dia!"
__ADS_1
Banyak ucapan dari wanita itu yang tidak bisa dipahami. Orang yang melihat kejadian itu sebagian bingung karena baru pertama kali melihat wanita itu. Dia baru pertama kali berkunjung ke rumah Eno.
"Cak Satria kenal wanita itu?" tanya salah satu tetangga Bunda Fatia.
"Kenal sekali, Pak. Dia bernama Emy Suratmi teman Eno di Jakarta."
Asisten Satria termenung teringat tiga sahabat yang dikenal setelah Eno tidak lagi bekerja di PT KURNIA. Tiga wanita lajang yang berpendidikan tinggi. Memiliki kemampuan bekerja yang tidak diragukan lagi.
Retno Wulandari, Mayangsari dan Emy Suratmi adalah tiga sahabat yang saling mendukung dan saling suport. Mereka tinggal di satu komplek apartemen berjajar dalam lantai yang sama.
Dari tiga sahabat itu yang paling beruntung adalah Emy Suratmi. Dia bekerja di sebuah bank ternama di Jakarta. Tidak ikut mendirikan arisan dan koperasi ibu-ibu sosialita. Hanya sayangnya wanita itu sering ke klub malam dan menenggak minuman keras.
"Bang ... tolong seret saja Eno dari kamarnya!" perintah Emy Suratmi masih terus mengoceh dan merancu tidak karuan.
Asisten Satria mengibaskan tangan wanita itu saat dia ingin menarik tangannya, "Untuk apa harus menyeret Eno?" tanya Asisten Satria.
"Abang tahu sendiri si Eno, sudah berkali-kali gue nasehati jangan sama duda itu, coba lihat sekarang dia bingung dan susah sendiri."
"Susah bagaimana, Eno sekarang bahagia sebentar lagi dia akan menikah?"
Tanpa sungkan Emy Suratmi menunjuk Asisten Satria. Padahal biasanya wanita itu selalu menghormati Asisten Satria saat bertemu. Wibawa dan ketegasan Asisten Satria yang selalu membuat dia segan.
"Mereka berdua itu penghianat, Bang. Mata gue sendiri yang menyaksikan itu!" teriak Emy Suratmi lagi.
"Siapa yang kamu maksud mereka berdua?" tanya Asisten Satria.
"Duda gila itu dan ... ha ha!" Emy Suratmi kembali tergelak dan merancu tidak melanjutkan ucapannya.
Semakin lama Emy Suratmi Semakin ngawur ucapannya. Eno dan May yang sering disebut namanya. Hanya sayangnya dia tidak pernah mau menyebut nama calon pengantin pria.
Dalam rancuan Emy Suratmi seolah dia sangat membenci laki-laki gaek kakak kandung Doni Prawira. Dia selalu menyebut penghianat, laki-laki gila dan masih banyak lagi hal negatif lainnya.
Semakin lama Emy Suratmi tidak sadar dan tidak berdaya. Para tetangga ngedumel meninggalkan tempat. Mereka tidak ada yang faham apa yang di katakan wanita mabuk itu.
__ADS_1
Eno sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya saat Emy Suratmi datang dan mabuk. Hanya saudara dan keluarga yang menangani dan mewakili Eno. Namun mereka hanya diam saja saat Asisten Satria berinteraksi dengan Emy Suratmi.
"Pak, bisa minta tolong bawa dia masuk!" perintah Asisten Satria.
"Baik ...!"
Dua orang yang memapah Emy Suratmi kanan dan kiri. Wanita mabuk itu mulai kelelahan dan terlihat lemah. Karena tadi mengamuk dan berteriak-teriak seperti orang kesetanan.
Asisten Satria pulang sambil memikirkan perkataan wanita mabuk itu. Biasanya ucapan tanpa sadari itu benar adanya. Namun tidak jelas orang yang dimaksud penghianat.
Yang sering disebut adalah Eno, May dan Toni Prawira. Masih banyak teka-teki yang tidak bisa ditebak dari rancuan Emy Suratmi. Membuat Asisten Satria susah menyimpulkan kemungkinan yang terjadi dengan tiga sahabat dan satu duda.
Pagi harinya acara hari pernikahan Eno mulai terlihat menggeliat. Suara musik yang penghentak mulai terdengar. Kesibukan tim cetering sudah terlihat bersiap-siap menata meja.
MUA artis yang datang langsung dari Jakarta sudah mulai merias pengantin wanita. Kedua orang tua Eno sudah mulai sibuk mengecek satu persatu persiapan baik dapur, pelaminan ataupun tempat para tamu.
Hampir semua sudah sempurna dan berjalan lanjar. Hanya satu yang sampai sekarang menjadi pertanyaan. Pengantin pria dan keluarga belum juga menampakkan batang hidungnya di tempat acara.
Saat Eno dan orang tuanya ditanya oleh keluarga dan tetangga. Mereka menjawab akan datang sesaat sebelum akad nikah dimulai. Mereka masih yakin dan percaya pengantin pria datang walaupun wajah mereka terlihat cemas.
Pukul setengah sembilan Ayah Jose bersiap-siap. Tugas dia akan menjadi saksi dari pihak pengantin wanita. Sudah diminta beberapa minggu yang lalu agar datang lebih cepat untuk bisa bertemu dengan pegawai KUA.
Seluruh keluarga Ayah Jose berangkat bersama menuju rumah Eno. Termasuk keluarga Asisten Satria juga datang bersamaan. Juga diikuti karyawan PT KURNIA yang datang satu persatu.
Suasana semakin tegang setelah Pak Penghulu dan pegawai KUA datang. Mulai mengecek ulang data pengantin, saksi dan wali nikah dimulai. Hanya sayangnya pengantin pria belum juga datang.
Tepat pukul sembilan pagi, Pengantin wanita keluar dari kamar setelah selesai di rias. Di dampingi oleh Ibu Eno dan Emy Suratmi duduk di hadapan Pak Penghulu. Wajah ketiga wanita yang berdandan cantik itu terlihat muram dan cemas.
"Di mana pengantin pria nya?" tanya Pak Penghulu.
Belum sempat ada yang menjawab pertanyaan Pak Penghulu, ada suara sirine yang memekikkan telinga. Bahkan suara hentakkan musik yang terdengar hampir kalah dengan suara sirine, "Apakah itu pengantin pria yang datang?" tanya Pak Penghulu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
jangan lupa mampir ke novel teman author sedang rekomen banget, ini di novel toon juga lo