Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 122. Tujuh Bulanan


__ADS_3

Umur kandungan Vefe memasuki bulan ke tujuh. Bertepatan dua bulan Erina tinggal di panti asuhan jika malam hari dan di rumah sendiri saat siang hari untuk bekerja. Bertepatan juga hari ini keluarga inti yang ada di Manhatten akan datang.


Bunda Fatia yang bersikukuh akan mengadakan acara tujuh bulanan untuk cucu laki-laki pertamanya. Akan diadakan secara meriah di Surabaya. Tidak cuma keluarga inti yang akan berkumpul seluruh anggota panti asuhan akan di boyong ke Surabaya.


"Mengapa anak-anak juga di ajak semua, Nak Khan?" tanya Umi Maryam saat Khan Khan dan Vefe berkunjung di panti asuhan.


"Dulu Khan pernah berjanji kalau akan mengajak Anak-anak ke Trans Studio, ini moment yang tepat karena anak-anak libur sekolah dan Bunda akan mengadakan acara tujuh bulanan Ve."


"Trans Studio bukannya di Bandung, Mas?" tanya Erina.


"Sekarang di Surabaya juga sudah ada, tidak kalah besarnya seperti yang ada di Bandung, kamu juga siap-siap, Rin. Setelah acara tujuh bulanan selesai kalian harus segera menikah!" perintah Khan.


"Siap ... Bro. Gue sudah siap lahir dan batin sekarang." Daniel mengacungkan jempol kepada Khan.


Selama dua bulan ini, selain kuliah Daniel di sibukkan dengan membangun ruko yang ada di rumah Erina. Memperbesar toko Verin Olshop, menambah jumlah dagangan. Mempersiapkan pernikahan yang akan di gelar sederhana di rumah Erina.


"Bagaimana dengan transportasi ke Surabaya, Nak. Anak-anak lebih dari lima puluh orang."


Vefe tersenyum saat mendengarkan kekhawatiran bunda Maryam, "Jangan khawatir, Bun. Kalau pesawat tidak cukup masih ada helikopter."


"Bunda ... jangan ragukan menantumu yang ganteng ini dong," canda Khan dengan melirik Vefe.


"Idiiih ... Mas narsis," jawab Vefe sambil tergelak.


"Eeee kenyataan, benarkan Mas ganteng?"


"Iya ... iya Mas memang paling ganteng di mata Ve seorang. Bagi Erin yang paling ganteng ya Bang Daniel."


"Naaah itu yang betul," jawab Danien senang.


Hari Jum'at anak-anak menerima raport kenaikan kelas dengan nilai yang memuaskan. Setelah sholat Jum'at anak-anak berangkat menuju bandara dengan bus. Di Surabaya anak-anak tinggal di sewakan satu wisma yang ada di seberang komplek perumahan milik Bunda Fatia.


Acara tujuh bulanan Vefe di adakan hari Minggu pagi hari pukul sepuluh. Mengadakan pengajian mengundang tetangga sebelah. Keluarga Bunda Fatia dari Ngawi juga hadir. Dan kebetulan ustad yang mengisi pengajian Uncle kyai sendiri sebagai penceramah.


Ceramah di adakan dari jam sebelas siang sampai menjelang zuhur. Di lanjutkan dengan makan bersama. Menikmati manisnya es cendol dan segarnya rujak serut yang di buat dalam jumlah banyak.


"Mas, Ve mau rujaknya."


"Makan dulu dong, Sayang!"

__ADS_1


"Mas saja yang makan, nanti Ve minta beberapa suap."


"Baiklah ... Mas yang nyuapin Ve. Ini pegang dulu rujaknya."


"Minumnya es cendol juga ya, Mas. Jangan lupa!"


"Air putihnya satu gelas saja?"


"Terserah ...."


Khan menyuapi Vefe bergantian dengan dirinya. Vefe makan nasi bergantian dengan makan rujak. Hanya dalam waktu sekejap rujak satu piring kecil ludes tanpa sisa.


"Ve mau tambah rujak ya, Mas?"


"Sini Mas saja yang mengambilnya, Ve duduk saja!"


"Terima kasih."


Bunda Fatia mendekati Vefe yang sedang menunggu Khan untuk mengambil rujak, "Sayang, mengapa tidak makan?"


"Itu Bun, Mas Khan lagi ngambil rujak buat Ve."


"Sudah kok, Bun. Itu nasinya kita satu piring berdua," Vefe menunjuk satu piring nasi yang tinggal setengah yang yang ada di meja.


"Romantisnya!"


Setelah istirahat siang tamunya adalah seluruh karyawan perusahaan PT KURNIA yang ada di Surabaya. Mereka datang secara bergantian dari siang sampai pukul delapan malam. Tujuannya meminta doa restu dan menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Vefe hanya sanggup menghadiri saat pengajian dan menemui tamu sampai sore saja. Kakinya bengkak terlalu banyak berdiri dan berjalan. Setelah mandi sore dia meluruskan kaki di tempat tidur.


Khan mencari Vefe saat masih banyak tamu yang datang dan masuk kamar, "Apakah capek, Sayang. Masih ada banyak tamu yang ingin bertemu Ve?"


"Maaf ya, Mas. Kaki Ve bengkak."


Khan langsung membelalakkan matanya melihat kaki Vefe yang terlihat besar, "Eee mengapa kakinya sebesar ini, ayo kita ke rumah sakit!"


"Tidak usah, Mas. Mungkin karena capek berdiri dan banyak berjalan saja."


"Tidak bisa dong, Sayang. Ini bahaya kalau kakinya tidak bisa kembali seperti semula bagaimana?"

__ADS_1


"Ini biasa bagi ibu hamil, jangan khawatir, kalau tidak percaya coba tanya Bunda atau Umi!"


"Sebentar ... Mas turun dulu, Ve perlu dibawakan apa?"


"Tolong bawakan air putih dan buah saja, Mas."


Khan berlari mencari Bunda Fatia di ruang tamu yang sedang berbincang dengan tamu. Mencari Umi Maryam juga yang sedang duduk berbincang bersama Mpok Ria. Bahkan Ayah Jose dan Elya juga di panggil karena sangat khawatir dengan kondisi istrinya.


"Ayo Bun ... Cepat lihat Ve, ini gawat!" teriak Khan setiap keluarga yang di temui.


Mereka langsung berlari melihat keadaan Vefe di kamar. Ucapan Khan membuat seluruh keluarga Khawatir. Vefe yang menjadi heran karena keluarga berbondong-bondong datang ke kamar.


"Ada apa kok rame-rame ke sini?" tanya Vefe.


"Sayang, ada apa, kata suamimu kamu dalam keadaan gawat?"


Vefe tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Suaminya selalu berlebihan saat melihat ada hal yang tidak biasa terjadi. Pengalaman istri hamil pertama membuatnya panik dan belum berpengalaman tentang ibu hamil.


"Ve tidak apa-apa, Bun. Hanya kaki Ve bengkak saja karena banyak berdiri dan berjalan."


"Aaaah Khan ini membuat Ayah khawatir saja!" Ayah Jose menepuk pundak Khan yang masih khawatir.


"Lho ini bahaya, Ayah. Kaki Ve bengkak seperti kaki gajah, Khan jadi takut?"


Bunda Vafia dan Umi Maryam memberikan menjelasan tentang kaki gajah yang dialami ibu hamil. Disamping karena berdiri terlalu lama dan bayak berjalan. Itu bisa terjadi karena kebanyak kadar zodium pada ibu hamil.


Bisa di atasi dengan cara di rendam dengan air hangat. Beristirahat dan meluruskan kaki. Atau dioleskan minyak atau ramuan tradisional beras kencur.


"Jadi kaki Ve bisa kembali seperti semula, Bun?" tanya Khan setelah mendapatkan penjelasan.


"Bisa dong, Khan. Tidak perlu khawatir. Kami turun lagi menemui tamu," jawab Bunda Fatia.


"Umi dan Mpok Ria saja yang mencarikan baskom dan air hangat untuk merendam kali Ve."


"Mas Khan tunggu di sini saja." Khan duduk di samping Vefe dan mengusap pipi Vefe dengan lembut.


"Mas temui tamu saja sana. Nanti banyak yang tanya lo!"


"Tidak bisa dong, Sayang. Mas harus mengusir gajah yang ada di kaki Ve."

__ADS_1


"Ha ha ha!" Vefe tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Khan.


__ADS_2