Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 236. Innalilahi


__ADS_3

Malam itu juga Khan dan Vefe berangkat ke rumah Kakek Raharjanto. Tante Darwati menghubungi sambil menangis sesunggukan. Mengabarkan jika Kakek Raharjanto tidak bangun lagi setelah sholat magrib.


Tante Darwati berniat membangunkan Kakek Raharjanto untuk sholat isya berjamaah. Hanya sayangnya dibangunkan tidak ada respon sama sekali. Sedangkan suami dan keluarga Tante Suprapti tidak ada di rumah.


Khan hanya berpesan kepada bibi pembantu untuk menjaga baby Aaron yang tidur di kamar. Tidak berpamitan kepada Bunda Fatia ataupun Mommy Astrid. Karena panik dan khawatir tidak sempat bercerita.


Dalam perjalanan Vefe terus meminta Khan untuk melajukan mobilnya lebih cepat lagi. Pikiran dan hati seolah tidak bisa diajak sejalan. Terus ingin cepat sampai rumah Kakek Rharjanto padahal membutuhkan waktu lebih lama karena sering macet jalanan.


Baru memasuki gerbang rumah Kakek Raharjanto. Vefe langsung loncat turun dan berlari sekencang mungkin menerobos pintu yang tidak di kunci. Mobil masih dalam keadaan berjalan sudah tidak diperdulikan lagi oleh Vefe.


"Mi ... sabar dulu, ya Allah!" teriak Khan sambil memarkirkan mobilnya.


"Papi loding sih!"


"Assalamualaikum ... Tante!"


Tante Darwati sudah duduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu, "Ayah sudah tidak bergerak, Nak."


Bergegas Vefe memegang lengan Kakek Raharjanto. Memeriksa nadi dan memeriksa napas dengan mendekatkan tangan di hidung. Hanya sayangnya sudah tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kakek masih ada.


Badannya terasa masih hangat namun napas sudah tidak ada. Berkali-kali Vefe memeriksa kakek untuk memastikan. Sampai Khan juga masuk dan ikut memeriksa kakek.


"Suda tidak ada ya, Pi?"


"Innalilahi wa inna ilaihi rojiun, Kakek sudah berpulang ke hadapan Ilahi Robbi."


Tante Darwati semakin tergugu mendengar perkataan Khan, "Maafkan Dar, Ayah. mengapa cepat sekali Ayah meninggalkan kami," rintih Tante Darwati sesunggukan.


"Sabar ... Allah lebih sayang Kakek, Tante. Semoga segala dosanya diampuni dan husnul hotimah."


"Aamiin."


Vefe hanya bisa memeluk Tante Darwati yang terus menangis. Menghibur dan menenangkan hati yang sedang berduka. Mungkin memang sudah waktunya kakek meninggalkan kita semua.

__ADS_1


Vefe hanya bisa mengatakan setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Waktu, tempat dan kapan tidak seorangpun yang bisa menebaknya. Hanya bisa menunggu giliran kapan waktunya tiba.


Tidak ada daya upaya yang bisa mengubah takdir yang maha kuasa. Jika sudah waktu ajal tiba saat itulah kita harus ikhlas melepasnya. Yang ditinggalkan hanya bisa berdoa semoga diterima disisi yang maha kuasa.


Khan terus menghubungi keluarga, terutama suami Tante Darwati, keluarga Tante Suprapti yang sedang keluar. Dan menghubungi keluarga besar anggota dewan serta sahabat kakek.


Malam itu juga satu persatu keluarga datang. Keluarga besar anggota dewan terkait juga datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Menteri bahkan orang nomor dua Indonesia juga hadir untuk mengucapkan turut berduka cita.


"Adik kandung Ayah yang di Wonogiri menghubungi akan ke sini, apakah bisa di tunggu sebentar?" tanya Tante Suprapti.


"Berapa orang yang mau ke sini, Tante?" tanya Khan.


"Sekitar empat orang."


Khan duduk sambil termenung. Sekarang ini sudah pukul sebelas malam. Rencana besok pagi pukul sepuluh akan di makamkan di makam pahlawan.


Semua sudah diatur oleh pihak pemerintah karena Almarhum Kakek Raharjanto adalah mantan ketua anggota dewan. Di samping itu menurut agama juga sebaiknya tidak melewatkan waktu sholat wajib. Harus segera dimakamkan lebih cepat akan semakin baik.


Jika harus menunggu saudara kandung kakek yang ada di Wonogiri. Pasti akan menunggu lebih dari tiga waktu sholat. Harus ada solusi yang bisa mengatasi keduanya tanpa ada hambatan.


"Tante Prapti," panggil Khan.


"Ya, ada apa?"


"Tolong hubungi adik Kekek yang ada di Wonogiri untuk bersiap-siap."


"Mau dijemput, Nak?"


"Iya ada helikopter di Surabaya. mereka dijemput di lapangan terdekat saja kalau ada lapangan di sana."


Tante Suprapti mengerutkan keningnya mengingat lapangan yang ada di desa. Lapangan itu berada di tengah-tengah desa. Harus menghubungi pihak terkait agar tidak menimbulkan ketenangan di sana.


"Baik ... Nak, tante akan mengubungi paman dan izin RT. Nak Khan persiapkan tempat yang ada di sini saja."

__ADS_1


"Iya baik, Tante. Semua akan beres. Khan akan memerintahkan Asisten Satria untuk mempersiapkan semua."


Malam itu juga Asisten Satria mempersiapkan helikopter. Dengan menghubungi pilot yang stanbye di Surabaya. Untuk segera menuju Wonogiri dan menjemput keluarga.


Hampir semua keluarga tidak ada yang tidur malam ini. Menjelang sepertiga malam keluarga dari Wonogiri tiba di rumah duka. Sampai pagi hari mereka duduk dan membaca doa di samping Almarhum Kakek Raharjanto.


Umi Maryam datang bersama Bibi Kudri. Wajah Umi Maryam terlihat pucat dan sayu. Tidak menyangka laki-laki yang akhir-akhir ini selalu mengejar dipanggil yang maha kuasa.


Antara bingung dan merasa berdosa saat ini ada di dalam hati Umi Maryam. Namun semua sudah terjadi dan umur tidak ada yang bisa menebak dan memprediksi. Semua ada pada garis takdir yang setiap insan pasti akan menemui saat waktunya tiba.


"Umi ikut berduka cita ya, Nak." Umi Maryam memeluk Vefe dengan erat.


"Terima kasih, mohon maafkan kesalahan Kakek selama ini ya, Umi."


"Iya Nak. Umi memaafkan almarhum, semoga diterima disisi Allah dan diampuni segala dosanya."


"Aamiin"


Umi Maryam termenung teringat hampir tiga minggu berusaha menghindar dari Kakek Raharjanto. Seandainya tahu ajal akan menjemput mungkin minimal bertemu hanya sekedar untuk meminta maaf. Ingin menjelaskan dan mengatakan jika tidak bisa menerima keinginan dan niat hati.


Umi Maryam terus saja termenung teringat Almarhum yang diakhir hayat tidak bisa mewujudkan keinginan impian. Ada rasa bersalah tersirat dalam hati. Namun tidak bisa mengangkari hati yang tidak terpaut.


Vefe sangat mengerti apa yang dipikirkan ibu angkatnya. Kemungkinan merasa bersalah karena tidak mau memberikan kesempatan untuk bertemu. Lebih memilih menghindar saja karena merasa sungkan dan tidak nyaman.


"Umi ... jangan merasa bersalah, semua sudah takdir ilahi."


"Ada rasa bersalah dalam hati Umi, Nak. Mengapa kemarin Umi tidak menjelaskan saja ya?"


"Kita tidak tahu umur seseorang, Umi. Jika orang mengetahui ajal akan tiba mungkin sehari sebelum ajal menjemput sudah mempersiapkan liang lahat sendiri."


Umi Maryam hanya tersenyum mendengar ucapan Vefe. Tidak menjawab sama sekali dan kembali termenung. Hanya yang maha kuasa yang tahu niat hati tidak ingin bertemu karena tidak tega jika patah hati.


Tante Suprapti mendatangi Vefe yang duduk bersebelahan dengan Umi Maryam, "Umi tega banget sih, Ayah tidak bisa bertemu dengan Umi walaupun hanya sejenak."

__ADS_1


"Eee ...."


__ADS_2