
Setelah makan malam, Vefe santai di ruang keluarga. Khan dan baby Aaron sudah bobok cantik di kamar. Vefe masih menunggu Bunda Fatia dan Ayah Jose pulang dari tetangga sebelah yang akan mengadakan hajatan besok pagi.
Vefe masih penasaran menunggu cerita Bunda Fatia. Ingin mengetahui apakah pengantin pria sudah datang atau belum. Yang kemungkinan pengantin pria datang bersama keluarga termasuk Doni Prawira.
Sambil menyaksikan berita di telavisi, Vefe chatting dengan Tante Suprapti. Menanyakan kabar dan kegiatan selama di Surabaya. Tantenya sudah hampir dua malam di Surabaya, tetapi dia belum sempat mampir ke rumah Bunda Fatia.
Tante Suprapti dan rombongan ibu-ibu sosialita menginap di sebuah hotel bintang empat. Dalam dua hari ini mereka mengunjungi kebun bintang, pasar Turi, tugu pahlawan dan Trans Snow Word Surabaya. Sebelum meluapkan emosi mereka healing terlebih dahulu.
Vefe tersenyum sendiri saat melihat foto-foto yang dikirim oleh Tante Suprapti. Ibu-ibu sosialita selalu saja narsis dalam mengabadikan momen. Sampai Khan datang dan mendekati Vefe, sampai dia tidak menyadarinya.
"Mami, mengapa tersenyum sendiri begitu?"
"Eeee ... Papi, sudah bangun?"
"Papi belum tidur, Mi. Menunggu Mami katanya mau membangunkan dia," jawab Khan sambil menunjuk ke senjata tombak tomahawk.
Vefe tergelak sambil melirik yang di tunjuk oleh suaminya, "Palingan belum dibangunkan dia sudah terbangun dari tadi."
Khan tersenyum sambil mengangguk dan meraih tangan Vefe, "Iya sudah terbangun dari tadi, yok kita ke kamar!"
Vefe belum beranjak dari tempat duduknya. Pintu terbuka, datang Ayah Jose dan Bunda Fatia dengan membawa bingkisan kotak nasi dan paket sembako. Paket sembako dibagikan setelah keluarga Eno mengadakan doa bersama.
Ayah Jose yang mendengar ucapan Khan, mengira putranya sudah mengantuk padahal sekarang baru jam sembilan malam, "Mau tidur, Khan. Ini baru jam sembilan lo?"
"Tidak sih, Yah. Khan mau ...?" Khan tidak melanjutkan ucapannya karena ada capit kepiting mengenai pinggangnya, "Aauw!" teriaknya.
"Ada apa sih, Nak?" tanya Bunda Fatia.
"Ini ... Bun, ada capit kepiting nyangkut di pinggang."
Vefe hanya nyengir kuda melihat Khan yang merigis sambil mengusap pinggangnya. Tidak ingin kedua mertuanya mengetahui mesum suami yang sudah tingkat dewa. Walaupun mereka pasti sudah bisa menebak arah perkataan Khan.
__ADS_1
"Waaaah bingkisan sembako ini kompelit banget, Bun." Vefe mengalihkan perhatian dengan melihat paket yang diletakkan di meja.
Bingkisan paket sembako terdiri dari lima kilogram beras, satu liter minyak goreng, satu kilogram gula, teh, kopi dan mi instan. Dikemas dengan keranjang rotan dan plastik putih tranparan. Kemewahan yang coba di tunjukkan oleh keluarga Eno kepada tetangga terutama keluarga Bunda Fatia terlihat sangat jelas.
"Iya ... Nak, mereka sepertinya memang sengaja ingin pamer dan ingin dipuji," jawab Bunda Fatia.
Vefe yang dari tadi penasaran dengan calon menantu yang belum menunjukkan batang hidungnya langsung bertanya, "Apakah pengantin pria dan keluarga dari Jakarta sudah datang, Bun?"
Bunda Fatia dan Ayah Jose saling pandang dengan senyum yang seolah mengejek. Mereka menggelengkan kepala bersamaan. Mengerucutkan bibir juga bersamaan terlihat sangat kompak.
"Bang Toni belum datang, Bun?" tanya Khan.
"Tidak ada ... malam ini Eno dan ibunya juga ikut menghilang. Bunda tidak pamit mereka saat pulang tadi."
"Ke mana mereka, Bun?" tanya Vefe.
Bunda bercerita malam ini saat mengadakan doa bersama, ibu dan putrinya kompak beralasan tidak enak badan. Mereka berada di kamar masing-masing dengan kamar di kunci dari dalam. Yang menemui tamu hanya ayahnya Eno dan keluarga besar mereka.
Para tamu dan tetangga menduga mereka sedang bingung karena calon pengantin pria tidak kunjung datang. Apalagi setiap tamu dan tetangga yang datang selalu menanyakan calon pengantin pria dan keluarga. Mungkin capek dan kesal karena selalu ditanya hal yang sama dan jawaban yang sama pula.
"Apakah keluarga juga akan datang besok pagi, Bun?" tanya Vefe lagi.
"Katanya seperti itu, Nak. Kita tunggu saja sampai besok pagi saja."
Khan teringat Kakek Raharjanto ketika cerita tentang keluarga Prawira. Dugaan Kakek Raharjanto sampai sekarang ini hampir semua benar. Padahal saat itu berharap keluarga Prawira berubah lebih baik.
Ingin sekali menghubungi Doni Prawira kembali setelah mendengar cerita Bunda Fatia. Semakin mencurigakan yang terjadi di pernikahan Eno dan Toni Prawira. Banyak kejanggalan yang terjadi dari cerita awal sampai malam ini.
Bunda Fatia berdiri dan ingin beristirahat ke kamar. Ada ketukan pintu dari luar, "Bunda saja yang buka!"
Ada Asisten Satria, Nina istrinya dan dua buah hati. Mereka datang dengan mendorong koper masing-masing, "Satria ... Nina ayo masuk!"
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya Bunda."
"Kalian tidak bareng dengan staf yang lain?" tanya Khan kepada Asisten Satria.
"Kami satu rombongan, mereka sekarang menginap di hotel yang tidak jauh dari sini, Tuan."
"Apakah mereka membawa keluarga masing-masing?"
"Tidak ... mereka hanya sendiri, hanya saya saja yang membawa keluarga."
Akhirnya acara membangunkan senjata tombak tomahawk tertunda lagi. Karena Khan harus meeting dadakan dengan Asisten Satria di ruang kerja Ayah Jose. Vefe hanya tersenyum devil melirik Khan, tidak harus di curangi dengan sendirinya banyak rintangan untuk menghalangi Vefe membangunkan senjata Khan.
Di dampingi Ayah Jose, mereka meeting sampai hampir dua jam. Banyak pekerjaan yang menumpuk karena sekarang ini hampir akhir bulan. Tidak ingin karena kegiatan luar pemimpin perusahaan, gaji karyawan tertunda.
Khan bergegas masuk kamar sesaat setelah selesai meeting. Sudah tertunda beberapa kali seperti kedatangan Toni Prawira. Khan masuk kamar lampu sudah berganti lampu tidur.
Bergegas mendekat tempat tidur dengan perlahan. Berharap Vefe sedang menunggu dan sudah bersiap menerima aksi senjata tombak tomahawk. Namun dia tidak melihat istrinya berada di tempat tidur, hanya ada baby Aaron yang terlelap di sana.
"Lo ... ke mana mami?" monolog Khan sendiri dengan suara lirih agar putranya tidak terbangun.
Khan berlari keluar kamar dan bergegas turun tangga. Ada suara berisik dari luar pintu utama rumah. Seluruh pembantu, Vefe, Nina dan Bunda Fatia berada di luar semua.
Yang pertama dilewati adalah dua bibi yang berdiri di samping pintu, "Ada apa sih, Bi?" tanya Khan.
"Bibi juga tidak tahu, Tuan. Ada suara ribut di samping rumah Ibu Eno."
Khan langsung berlari mendekati pintu gerbang. Di sana ada Vefe, Bunda Fatia dan Nina sedang berdiri melihat luar. Ada dua security yang berdiri di luar gerbang juga ikut melihat suara keributan.
"Mami ... Bunda, ada apa sih?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Mampir yok di novel teman author, ini rekomen banget lo ada di novel toon juga kok