Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 164. Mendengar Tanpa Sengaja


__ADS_3

Nyonya Astrid langsung membuka mata saat ada yang menjawab monolognya. Awalnya mengira yang berbicara adalah orang yang memiliki kamar. Sayangnya anak laki-lakinya lah yang datang.


"Lee ... Mengapa bisa seyakin itu?"


"Lee banyak bertanya kepada adik-adik tentang Kak Ve, mereka semua mengatakan Kak Ve adalah gadis yang pemaaf dan penyayang."


Nyonya Astrid teringat kemarin saat berkunjung di kamar hotel putrinya. Masih menahan diri untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Karena belum tahu betul bagaimana kepribadian Vefe.


"Mommy belum yakin, Nak. Coba Lee lihat kamar ini!"


Lee Kim Oen melihat kamar Vefe yang sangat sederhana. Berukuran kecil, fasilitas seadanya. Bahkan AC saja tidak ada padahal kamar miliknya memiliki fasilitas yang sangat lengkap.


"Kak Ve hidupnya sangat kekurangan mulai dari kecil, Mom?"


Sambil berlinang air mata Nyonya Astrid mengangguk. Rasa bersalah terus saja menghantui pikirannya. Seolah memperlakukan dua buah hatinya dengan tidak adil.


Umi Maryam yang mendengarkan percakapan antara ibu dan putranya. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Memang benar dulu putri angkatnya itu serba kekurangan, tetapi sekarang dia sangat bahagia bersama Khan suaminya.


"Kalian tidak perlu khawatir, Nak Ve sekarang sudah bahagia."


Nyonya Astrid mengangguk dan tersenyum. Ucapan Umi Maryam benar karena saat ini putrinya sangat bahagia. Hidup bersama dengan orang yang sangat mencintai putrinya.


"Duduklah ... akan saya ceritakan tentang Nak Ve!"

__ADS_1


Umi Maryam menceritakan perjuangan saat membesarkan Vefe. Kecakapannya dalam dunia bela diri. Sampai kisah pertemuan dan pernikahannya dengan Khan.


Sementara itu Khan, Asisten Satria, Mr. Kim Oen dan anak buahnya yang ada di Jakara baru saja selesai membicarakan tentang bisnis. Telah menyepakati kerjasama dan menandatangani perjanjian bisnis dengan dua perusahaan.


Khan Dan Asiten Satria bersiap-siap untuk kembali ke kamar hotel. Anak buah Mr. Kim Oen sudah berpamitan kembali ke kantor cabang. Laki-laki paruh baya itu mendekati Khan dengan ragu-ragu.


"Tuan Khan ...!" panggil Mr. Kim Oen.


"Ya Mr. Kim, ada yang bisa saya bantu?"


"Pekerjaan sudah selesai, apakah saya boleh membicarakan tentang masalah pribadi?"


Khan membelalakkan matanya karena kaget, "Masalah pribadi apa, Mr. Kim?"


Mr. Kim Oen mengambil napas panjang sambil duduk di depan Khan. Matanya terlihat menyimpan kesedihan yang mendalam. Padahal saat meeting tadi sikapnya sangat profesional.


"Keluarga Anda memiliki salah apa?" tanya Khan heran.


"Keluarga kami terutama saya memiliki dosa besar terutama kepada istri Anda."


Khan dan Asisten Satria saling pandang. Tidak mengerti apa yang dimaksud dengan permintaan maaf yang mendadak. Apalagi menyangkut Vefe istrinya, dari mana laki-laki keturunan Korea itu tahu tentang Vefe.


"Mengapa Anda ingin minta maaf pada istri saya?" tanya Khan.

__ADS_1


"Karena saya telah menyakitii istri Anda saat dia baru lahir."


"Maksud Anda apa, saya tidak mengerti?"


"Jaman saya masih muda dulu, saya sangat egois."


Mr. Kim Oen bercerita kepada Khan dan Asisten Satria. Ceritanya persis seperti Nyonya Astrid bercerita kepada Umi Mryam.


Sekarang ini sangat menyesal karena secara tidak langsung menyakiti istri dan putrinya sendiri. Walaupun bukan putri kandungnya sendiri. Sekarang ini sudah menganggap Vefe adalah putrinya juga.


Dari kemarin sudah ingin meminta maaf dan mengaku bersalah. Karena kesalahannya sangat besar. Mr. Kim Oen tidak berani mengatakan lansung kepada Vefe.


Mr. Kim Oen juga bercerita jika saat ini Nyonya Astrid dan Lee Kim Oen ada di panti asuhan Bunda. Istrinya sudah bercerita kepada Umi Maryam. Jadi hanya Vefe yang belum tahu tentang identitas kedua orang tua Vefe.


Tanpa di sadari ternyata Vefe menyusul Khan ke ruang meeting. Dia datang bersama putranya baby Aaron. Masuk ruang meeting sambil mendorong stroller tanpa mengetuk pintu karena pintu terbuka lebar.


Tanpa sengaja Vefe mendengar semua cerita Mr. Kim Oen dari awal sampai Akhir. Air matanya mengalir deras tanpa henti mendengar cerita itu. Dia langsung mendekati Khan dengan raut wajah yang sedih, "Papi Bule ...!"


"Sayang ...!"


"Nak ...?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


Mampir yok di novel teman author yang rekomen banget ini sambil menunggu KKJ up besok.



__ADS_2