
Wajah Vefe semakin memerah seperti tomat saat Khan mendongak dan bertanya. Kakinya masih terasa pegal karena berdiri sedangkan Khan duduk di hadapannya, "Kaki Ve ...?"
Vefe belum sempat melanjutkan ucapannya. Khan langsung berdiri dan mengecup bibirnya sekilas, dia langsung bertukar posisi, "Maaf ... Duduklah!"
Vefe mengangguk dan tersenyum. Khan langsung berjongkok meletakkan tangannya di pangguan Vefe, "Apakah perlu diurut lagi kakinya?"
"Tidak perlu, Mas."
"Berarti kita lanjut ya?"
"Ke mana?" Vefe pura-pura tidak tahu.
"Ke sini," jawab Khan kembali mengulangi aksinya di leher jenjang Vefe.
Tidak lebih dari sepuluh menit gantian kaki Khan yang pegal karena jongkok bertumpu pada lututnya. Khan membimping Vefe untuk naik di tempat tidur. Khan juga ikut naik dan merebahkan tubuhnya di saming Vefe.
Tangan kiri Khan sengaja di rentangkan untuk tumpuhan kepala Vefe. Memandang wajahnya yang memancarkan cahaya cinta. Mengusap pipi dan bibir dengan lembut.
"Cantik sekali sih, istri Mas."
Khan kembali mengabsen seluruh wajah Vefe tanpa ada yang tertinggal. Pindah ke bawah tidak hanya di leher tetap turun sampai tengah lembah yang terlihat. Memberikan tanda kepemilikan dan tanda merah di sana.
Tangan Khan membuka buah kemejanya sendiri yang berbentuk pipih satu persatu. Terlihat dada yang berbentuk kotak dan terlihat maco. Netra Vefe tak berkedip melihat dada yang sangat menggoda.
"Jangan cuma dilihat, Sayang. Ayo kenalan!"
Khan meraih tangan Vefe dan di letakkan di dadanya. Vefe menggerakkan tangannya dengan mata terpejam. Sambil menikmati gerakan tangan Vefe, Khan menurunkan resleting yang ada di punggung Vefe sambil memeluknya.
"Sebentar ... Sayang," kata Khan menarik tangan kiri yang berada di bawah kepala Vefe.
"Mas ganti bantal ya?"
"Maaf ... Tangan Mas pegal ya?"
"Bukan pegal, tetapi tangan kiri Mas Khan ngiri dari tadi tangan kanan saja yang beraksi."
"Oooo ...."
Khan melanjutkan dengan menggeser sedikit helaian benang yang menempel di depan. Terlihat dengan jelas dua gundukan kembar yang masih tertutup oleh benang berenda. Awalnya hanya dipandangi kemudian di usapnya perlahan diatas benang berenda.
__ADS_1
Vefe merasakan getaran yang aneh saat tangan Khan menyusup di balik benang berenda. Sensasi yang berbeda lagi dirasakan saat kedua tangan Khan menangkup ke duanya. Sensasinya semakin terasa saat tangan Khan mulai bergerak seolah berjalan memutari area gundukan.
Tangan Khan menyentuh ujung gundukan sambil memainkannya. Tangan beraksi dan mata menatap mata vefe yang terpejam dan mulut ternganga. Tidak bisa diungkapkan sensasi rasa di hati ke duanya.
Khan menggeser kebawah benang berenda. Tangannya kembali memutar, naik turun lembah dan berakhir di ujung gundukan. Kembali mengajak bermain ujung gundukan sambil di belainya dengan lembut.
Khan menarik satu tangan dan satu tangan masih berada di posisi semula. Mulutnya melahap ujung gundukan dan menghisapnya perlahan. Layaknya bayi yang sedang mengambil nutrisi ibunya.
Vefe semakin menggeliat merasakan sensasi yang lebih besar lagi saat Khan menikmati ujung gundukan kembar. Tanpa sadar tangan Vefe merangkul leher Khan agar dia terus beraksi lebih dalam di sana.
Mulut Khan terus beraksi, tangan membuka helaian benang yang menempek di badannya dan dilemparkan entah ke mana. Berganti membuka helaian benang yang menempel di badan Vefe melempar entah di mana.
Semua polos tanpa ada penghalang sedikitpun. Netra Khan semakin liar menelusuri setiap lekuk keindahan yang ada. Tangan mulai bergerilya dari wajah turun sampai di tengah sela dua kaki.
"Kenalan dulu ya, Sayang?" Khan menangkup dan terdiam di sana.
Tangan satu lagi menarik tangan Vefe membimbing untuk memegang senjata miliknya, "Ini senjata andalan milik Mas, Sayang. Saat masih kecil Bunda sering menyebutnya kapak tomahawk."
"Mengapa namanya aneh begitu, Mas?" tanya Vefe sambil memegang dengan ragu.
"Kapak tomahawk adalah senjata tradisional khas suku Indian yang sangat mematikan."
"Kenapa sih?"
"Katanya mematikan?"
"Kalau kapak tomahawk Mas tidak mematikan, tetapi membuat Vefe semakin ketagihan, ayo kenalan lagi!"
"Hhmm ...."
Tanpa ragu Vefe memegangi senjata kapak tomahawk. Di telusuri tiap lekuk dan mengenali semua yang ada di sana.
Sensasi demi sensasi dirasakan semakin meningkat. Getaran jiwa bergelora seolah bumi ikut bergetar, "Kapak tomahawk izin masuk, Sayang."
"Pelan-pelan ya, Mas!"
"Tentu ... biarkan dia membuka jalan perlahan, apakah sakit?"
Vefe mengangguk sambil memejamkan mata. Rasa sensasi bercampur perih saat senjata kapak tomahawk masuk dengan sempurna. Khan terdiam dan menunggu reaksi Vefe yang awalnya meringis sekarang menjadi suara syahdu keluar dari mulutnya
__ADS_1
Khan mengerakkan sediki agar lebih nyaman posisinya. Vefe semakin merasakan getaran jiwa, "Aaah terus dong, Mas!"
Khan tersenyum mendengar permintaan istrinya. Tanpa ragu dia terus bergerak dengan lembut dari depan ke belakang. Gerakan memutar juga dilakukan sampai ke duanya bergetar dan sampai terbang menuju puncak nirwana.
Khan langsung tumbang di samping Vefe dengan peluh yang basah di badannya, Mengusap pipi, "Terima kasih, Sayang. Pengalaman pertama yang luar biasa."
Vefe mengangguk sambil tersenyum, mengistirahatkan badannya. Peluh membasahi badannya tak sebasah hatinya saat ini. Kesejukan hati seolah bumi sedang mengayomi jiwa.
"Ayo ke kamar mandi, Sayang!"
"Mas saja duluan, ya!"
"Baiklah ...."
Khan melenggang ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun. Malas mengambil satupun baju yang berserakan di lantai. Vefe menggelengkan kepala sambil menarik selimut untuk menutupi dirinya yang masih polos juga.
Lebih dari setengah jam Khan berendam dan mandi bersih di kamar mandi. Keluar kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Rambut basah masih menetes air di pundak dan dadanya yang bidang.
Khan duduk di samping Vefe yang menyelimuti badannya sampai leher, "Ayo sana mandi, Sayang."
Vefe mengangguk dan ingin bangun. Dia mendesis menahan perih diarea miliknya. Tidak jadi bangun terdiam dan meringis menahan perih, "Ssstt perih ... Mas, nanti saja mandinya!"
"Ayo Mas gendong, berendamlah di buth-up dengan aroma terapi!"
Aaaagh ... Mas!" teriak Vefe belum sempat menjawab badannya sudah melayang dalam dekapan Khan.
"Apa perlu Mas gosok punggungnya?"
"Tidak perlu, Mas. Silahkan memakai baju saja!"
Khan keluar kamar mandi untuk berganti baju. Vefe menyandarkan kepalanya dan badannya sampai leher terendam air beraroma terapi. Badannya terasa hangat dan perih area diantara dua kaki berangsur-angsur hilang.
Vefe keluar kamar mandi menggunakan dua handuk. Satu untuk dililitkan dari dada sampai diatas lutut. Yang kedua handuk kecil untuk menutupi rambut yang basah.
Melihat Khan sedang mengganti seprai, Vefe langsung mendekati, "Mas ... Mengapa di ganti?"
"Itu coba lihat ada bercak darah di situ!"
"Itu darah ....?" Vefe tidak melanjutkan ucapannya, tangannya menutup mulut agar tidak salah ucap.
__ADS_1
"Tandanya senjata tombak tomahawk Mas Khan sangat tajam langsung bisa merobek yang itu"