
Asisten Satria langsung menghubungi Nina. Memerintahkan untuk memberikan ketegasan kepada Kak Mursida. Melarang juga untuk Kak Mursida masuk kerumah Khan.
Nina berlari menuju pintu gerbang sambil membuat siaran langsung kepada suami tercinta. Melihat Kak Mursida yang berdebat dengan Pak Umar terlihat sangat aneh. Untungnya baby Ara anteng tertidur dalam gendongan ibunya.
"Stop, ada apa ini?" Semua terdiam saat Nina berteriak.
Nina mendekati Kak Mursida dengan heran. Wajah dan matanya memerah bukan karena marah. Saat mendekat Kak Mursida, Nina mencium bau alkohol, Kak Mur mabuk ya?"
Kak Mursida menggeleng dan tersenyum, "Kak Mur hanya minum sedikit."
"Astagfirullah, Pak Umar panggil bibi ke sini, tarik Kak Mur ke kamar mandi rumah Nina sekarang!" teriak Nina kesal.
Nina langsung mengambil baby Ara dalam gendongan Kak Mur, Pak Bowo yang memegang ponsel melakukan siaran langsung, "Mengapa tidak Pak Umar saja yang menyeret Bu Mur ke sana, Bu Nina?" tanya Pak Bowo.
"Silahkan saja, kalau Pak Umar mau, tetapi jangan salahkan Nina kalau Kak Mur nanti tiba-tiba memeluk Pak Umar karena menganggap Tuan Khan!"
"Tidak mau saya memanggil bibi saja," jawab Pak Umar berlari masuk rumah Khan untuk memanggil bibi pembantu.
"Kalian ini, pada ngomong apa?" tanya Kak Mursida sambil tersenyum.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Kak Mursida. Karena percuma jika menanggapi orang mabuk. Ucapan dan pikirannya selalu akan mengatakan hal melantur walau terkadang jujur.
"Ada apa, Bu Nina?" tanya Bibi datang dari dalam rumah.
"Nah pintu gerbang bisa dibuka, mengapa tadi Kak Mur tidak boleh masuk?" Tangan Kak Mursida menunjuk pintu gerbang.
"Bibi ajak Kak Mur ke rumah sebelah ayo, tidak perlu menjawab pertanyaan orang mabuk!" perintah Nina.
"Baik, Bu. Ayo Bu Mur kita masuk!"
Bibi menggandeng Kak Mursida mengikuti Nina berjalan ke rumah yang ada di sebelah rumah Khan. Untung baby Ara tetap terlelap walau ibunya mabuk. Ada suara berisik pun bayi yang baru berumur empat bulan itu tetap terlelap dan tidak terganggu.
__ADS_1
"Bi, masukkan Kak Mur ke kamar mandi, Nina mau menidurkan baby Ara dulu di kamar tamu!"
"Iya, Bu."
Kak Mursida langsung dimandikan dengan menyiramkan air dari rambut sampai bawah. Bahkan Nina tidak melepas semua baju yang menempel padanya. Dibantu oleh bibi memegang pundak Kak Mursida agar tetap tidak berdiri.
Hanya sayangnya Pak Bowo dilarang Nina menyiarkan langsung lagi. Pak Bowo dan Pak Umar menunggu di ruang tamu rumah Nina. Berencana kembali menyiarkan langsung nanti setelah Kak Mursida ke luar kamar mandi.
Pak Bowo hanya mengirim kabar ke Asisten Satria dengan mengirim pesan WA. Mengatakan jika dilihat dari wajah Kak Mursida saat baru datang, Wanita satu anak itu terlihat sangat putus aja. Selama ketahuan memiliki tujuan tertentu pada Khan, sebagian sahabat mulai menjauh.
Kak Mursida tidak diperhatikan lagi seperti dulu. Banyak sahabat yang diminta bantuan menghindar dengan alasan sibuk dan tidak sempat. Meresa kehilangan teman dan merasa hanya hidup berdua saja dengan putri kecilnya.
Dari sekian sahabat yang terlihat tulus membantu hanya sebagian saja. Ditambah Pak Misbah dan Ibu Maya kembali ke Kalimantan, sekarang ini Kak Mursida tidak ada yang membantu. Usaha dan bisnisnya juga terbengkalai setelah kepergian suami.
Kak Mursida keluar bersama Nina dan bibi sudah dalam keadaan segar dan berganti baju. Menggunakan baju daster miliki Nina ketika hamil dulu. Kak Mursida berbadan gemuk dan tambun sedangkan Nina langsing dan ideal.
"Silakan duduk, Kak!" perintah Nina.
"Iya terima kasih."
"Kakak sudah ingat apa yang barusan dilakukan?" tanya Nina.
"Iya Kak Mur tadi minum."
"Kak Mur minum dengan membawa baby Ara?"
"Kak Mur Minum di rumah, Mbak Nina. Tidak sadar aja tiba-tiba sudah di sini."
"Kak Mur sadar tidak bagaimana bahaya dan pengaruh buruk terhadap baby Ara?"
Kak Mursida hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaan Nina. Hati sedang kacau dan putus asa karena merasa sendiri dan tidak ada yang memperhatikan seperti dulu lagi. Sangat terasa selama Vefe dan Khan pergi ke Sulawesi.
__ADS_1
"Kak, umur kita ini tidak muda lagi, apalagi sekarang mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan anak. Kakak harus bangkit dan semangat. Dulu Kakak pantang menyerah mengelola bisnis."
"Kak Mur merasa sendiri sekarang, Mbak Nina."
Nina mengusap pundak Kak Mursida perlahan. Wanita dewasa itu terlihat seperti anak kecil yang mencari perhatian. Masih belum bisa move on dari ditinggal sang suami menghadap yang maha kuasa.
"Apakah selama ini Nina meninggalkan Kak Mur?" Kak Mursida menggelengkan kepala.
"Apakah Bang Wahono dan Mbak Dewi tidak pernah membantu Kak Mur?" tanya Nina lagi dan kembali Kak Mursida menjawab dengan menggelengkan kepala.
Nina memandang wajah Kak Mursida dengan lekat. Wajah putus asa karena cinta yang tidak terbalas adalah kemungkinan awal dari permasalahan. Harus dialihkan perhatian agar bisa teratasi dengan baik.
"Begini saja, Kak. Kak Mur cari orang yang bisa dipercaya mengasuh baby Ara. Kak Mur fokus lagi mengembangkan bisnis demi masa depan. Siapa tahu nanti Kak Mur ada jodoh lagi."
"Kamu ini malah mikirin jodoh, seandainya sebelum berbisnis baby Ara Kak Mur titipkan Mbak Nina, bagaimana?"
"Ide bagus, kalau hanya sementara tidak masalah, asal jangan alasan ke sini ingin bertemu dengan Tuan Khan lo ya?"
Tidak hanya Kak Mursida yang tersentak kaget atas pertanyaan Nina yang yang terus-terang. Pak Bowo dan Pak Umar juga kaget dan membuka mulut. Tidak menyangka Nina bisa mengatakan hal itu, biasanya lemah-lembut dan selalu menjaga ucapan dengan hati-hati.
"Jangan khawatir, Kak Mur sadar diri kok, Setelah beberapa hari merenung semua nasihat Mbak Nina memang benar."
"Kalau Kak Mur menyadari, mengapa hari ini malah mabuk?"
Kak Mursida teringat tadi pagi saat belanja di supermarket internaiosonal. Ada banyak alkohol yang dijual disana. Biasanya supermarket itu menyediakan minuman beralkohol untuk warga asing dan wisatawan yang berkunjung.
"Entahlah, saat belanja tadi siang, Kak Mur melihat deretan minuman beralkohol itu langsung masuk keranjang."
"Alkohol tidak akan menyelesaikan masalah, Kak. Akan menambah masalah itu yang betul."
"Kalau ada apa-apa, Kak Mur bisa mengajak Nina berbincang atau berdiskusi. Nina akan menerima Kak Mur dengan tangan terbuka."
__ADS_1
Tanpa sengaja dan spontan Pak Umar menyahut ucapan Nina, "Jangan juga mendekati Pak Satria kalau dekat dengan Bu Nina."
"Eeee ....?"