Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 104. Farfum dari Ikan Asin


__ADS_3

Bukan cuma Umi Maryam yang tergelak, Bibi Kudri dan Vefe juga ikut tertawa. Yang dimaksud Khan ikan asin hanya untuk dicium baunya saja. Hanya untuk dijadikan sebagai parfum tanpa dinikmati ikan asinnya.


"Nak Khan ini ada-ada saja, maskudnya ikan asin buat parfum saja gitu?" tanya Umi Maryam.


"Iya ... Umi, Khan tidak suka asin."


"Nak Khan suka masakan yang bagaimana, Bibi masakkan?" tanya Bibi Kudri.


"Khan suka masakan yang pedas, Bibi."


Vefe ikut menyahut, "Mas Khan juga tidak suka masakan manis, Bibi. Kecap manis saja dia tidak suka."


"Baiklah Bibi buatkan satu piring nasi goreng pedas dan tanpa kecap."


"Terima kasih, Bibi."


"Sama-sama."


Pagi ini Khan dan Vefe sarapan bersama seluruh keluarga yang ada di panti asuhan. Duduk bersama di kursi ruang makan yang panjang. Mereka makan dengan tertib dan teratur.


Suasana seperti ini yang sangat Vefe rindukan. Saat memimpin doa dan dilanjutkan dengan makan bersama. Sangat terasa kekeluargaan dan kebersamaannya.


Seluruh anggota panti asuhan sangat menyukai nasi goreng ikan asin tambah petai. Hanya Khan saja yang makan berbeda dengan yang lain. Apalagi Vefe sampai nambah sarapan dua kali.


"Ini masih ada nasi goreng ikan asinnya, Ve mau bawakan untuk Mpok Ria?" tanya Umi Maryam.


"Iya Umi, Ve juga mau satu porsi lagi."


"Tentu ... Ini Umi bawakan lima porsi, di tampah untuk Pak bowo dan Pak Umar. Pasti mereka juga suka."


Khan tersenyum melihat Vefe sangat antusias dengan menu sederhana. Selama ini tidak pernah mengalami kesulitan dengan permintaan yang aneh tentang keinginan atau ngidam istrinya. Semua masih dalam batas wajar dan bisa dituruti semua keinginannya.


Pulang dari panti asuhan setelah membagi nasi goreng ikan asin. Vefe dan Khan menjemput Bunda Fatia di Bandara Internasional Suekarno Hatta. Mereka langsung meluncur ke rumah sakit bertemu dengan dokter kandungan.


"Selamat pagi, Dok," sapa Bunda Fatia masuk di ruang dokter.


"Selamat pagi, Bu. Silahkan duduk!" Dokter Ega mempersilahkan duduk.


Vefe dan Bunda Fatia duduk berdampingan di depan Dokter Ega. Khan berdiri di belakang kursi Vefe. Dokter memeriksa rekam medis milik pasien dengan teliti.

__ADS_1


"Baik kita mulai ya, Sus ... silahkan mulai pemeriksaan awal terlebih dahulu!" perintah Dokter Ega kepada dua perawat.


"Siap ... Dok."


Dua perawat mulai memeriksa Vefe, dari suhu tubuh, tensi darah, denyut nadi dan berat badan. Langsung di serahkan kepada Dokter Ega untuk diperiksa labih lanjut, "Tekanan darah normal, berat badan sesuai dengan umur kandungan, Alhamdulillah calon ibu sehat," kata Dokter Ega.


"Alhamdulillah ...." Bunda Fatia dan Vefe bersamaan.


"Aamiin," jawa Khan.


"Ini kandungan sudah 16 minggu, sebaiknya di USG dulu ya untuk mengetahui kesehatan bayi dalam kandungan," saran Dokter Ega.


"Bisa langsung melihat bayinya laki-laki atau perempuan ya, Dok?" tanya Bunda Fatia.


"Tentu, Bu. Diusahakan dan semoga bisa terlihat."


"Terima kasih." Bunda Fatia mengusap lengan Vefe dan tersenyum kepada Khan.


Vefe naik di tempat brankar tempat tidur khusus. Dibantu oleh dua perawat dan didampingi oleh khan. Selimut ditarik sampai pinggang, membuka gaun hanya di daerah perut saja.


Perawat memberikan jel di perut Vefe untuk pemerksaan USG. Dokter Ega menempelkan stik yang tersambung dari monitor USG. Ada suara detak jantung yang teratur saat stik di tempelkan.


Mendengar suara detak jantung bayinya rasa hati Khan sangat bahagia. Ada rasa bangga dan terharu secara bersamaan. Khan tersenyum sambil mengusap pipi Vefe, "Bayi kita, Sayang." Vefe tersenyum sambil mengangguk.


"Iya Dok, Saya sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui si cucu." Bunda Fatia menjawab.


Dokter Ega berkali-kali menggeser stik di atas permukaan perut Vefe. Pergerakan dari kanan ke kiri untuk bisa melihat di monitor. Saat digerakkan sedikit ke atas, terlihat jelas kapak tomahawk junior.


"Selamat Bu, Anda akan mendapatkan cucu lak-laki."


"Alhamdulillah ...." Khan, Vefe dan Bunda Fatia bersamaan.


"Saya cetakkan menjadi foto ya. Silahkan turun dan duduk kembali!" perintah Dokter Ega.


"Lengkap sudah cucu Bunda sepasang sekarang. Terima kasih Nak." Bunda Fatia merangkul Vefe setelah turun dan duduk kembali di samping Bunda Fatia.


"Sama-sama, Bun."


Khan mengusap pundak Bunda Fatia dari belakang, "Doakan sehat sampai lahiran ya, Bun."

__ADS_1


"Tentu saja, Nak. Sehat selalu untuk kalian."


"Ini foto USG-nya, apakah ada keluhan?" tanya Dokter Ega lagi sambil memberikan satu lembar foto USG.


"Tidak ada sih, Dok. Terkadang hanya sering mengantuk saja," jawab Vefe.


"Itu wajar saja, setiap bayi memang berbeda-beda kasusnya, yang penting makan seimbang dan jangan lupa makan buah dan minum air putih yang cukup."


"Baik terima Kasih, Dok."


"Ini ada vitamin yang harus diminum rutin setiap hari, saya buatkan resepnya, jangan lupa di tebus di apotek!"


"Siap ...."


Setelah pulang dari rumah sakit dan pulang ke rumah. Ada dua bujang lapuk yang berkunjung di rumah. Mereka pertama mencari Khan ke kantor, tetapi tidak bertemu.


"Ada apa kalian ke mari?" tanya Khan.


"Kami mau minta pertnaggung jawabanmu, Bro." celoteh Wahono dengan tersenyum devil.


"Eee apa salahku?" tanya Khan heran.


Bunda Fatia dan Vefe beristirahat di kamar masing-masing. Tidak ikut berbincang dengan tamu. Mereka hanya bersalaman dan say hallo saja.


"Katakan ada apa?" tanya Khan lagi.


"Aku saja yang bercerita," kata Aan.


Aan bercerita Kak Mur sering datang ke sasana tinju bertemu denga Wahono dan Aan. Sering berbincang dan bercanda bersama. Terkadang makan dan nongkrong di kafe atau restoran juga bertiga.


Perediksi Asisten Satria benar sekali. Aan yang jatuh cinta kepada Kak mur. Dan Kak Mur jatuh cinta kepada Wahono.


Wahono hanya menganggap Kak Mur sebagai teman yang asyik untuk diajak berteman dan hang out. Sudah dua hari ini ini Wahono dan Aan bingung harus bersikap.


Wahono gantian bercerita saat ini sedang dekat dengan sang mantan gebetan yang baru pulang dari kerja luar negeri. Wahono saat ini sedang gencar-gencarnya CLBK dengan sang mantan.


Hanya sayangnya sang mantan pulang dari luar negeri membawa satu putri yang baru berumur satu tahun. Katanya sang mantan hanya menikah siri di sana dengan orang Indonesia yang bekerja di sana.


Sang mantan pulang ke Indonesia sudah berstatus bercerai dengan suami siri. Mantan suami masih tinggal dan bekerja di luar negeri. Karena tidak ikut pulang ke Indonesia alasan mereka bercerai.

__ADS_1


"Jadi apa yang harus saya pertanggung jawabkan dari dua masalah ini?" tanya Khan setelah Wahono dan Aan bercerita.


"Berikan kami solusi bagaimana cara menghadapi Mursida, Bro," jawab Aan.


__ADS_2