Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 16. Wanita Mana Lagi


__ADS_3

Vefe langsung berbalik badan tanpa menjawab permintaan maaf dua orang yang ada di depannya. Melihat laki-laki tampan yang mengenakan setelan jas berwarna hitam. Melipatkan tangan di depan dengan sorot mata yang tajam.


"Mas Khan ... Anda di sini?"


Yang awalnya terlihat wajah yang jutek dan garang. Setelah melihat Vefe, Khan langsung tersenyum. Hatinya seperti mendapatkan oase di tengah gurun pasir yang gerbang.


"Assalamualaikum Ve."


"Walaikum salam."


Pak Bandi sampai mengerutkan keningnya melihat CEO PT KURNIA tersenyum. Biasanya laki-laki berwajah oriental itu selalu dingin, datar dan galak. Setiap datang untuk berobat atau cek-up selalu meminta di layani dengan laki-laki dari mulai perawat sampai Dokter dan petugas medis lainnya.


Kali ini Khan datang hanya khusus untuk seorang gadis tomboy yang sedang mengantar ibunya. Pagi-pagi membuat direktur rumah sakit dan kepala bagian rawat jalan kelimpungan. Mereka sampai mengecek dari CCTV tentang peristiwa di loket pendaftaran.


Ada dua perawat laki-laki yang mendorong dua kursi roda mendekati Umi Maryam. Diikuti oleh Dokter muda yang berlari mendekati Khan, "Pagi-pagi buat heboh isi rumah sakit saja, ada apa?"


"Karyawan kamu yang membuat keributan bukan aku," jawab Khan kesal.


"Silahkan duduk, Bu!"

__ADS_1


"Silahkan duduk, Nona!"


Dua perawat bergantian mempersilahkan duduk kepada Vefe dan Umi Maryam. Menambah Khan semakin emosi, "Hanya Umi yang akan berobat."


"Jangan sewot terus nanti cepat tua, tidak sebanding dengan gadis yang masih belia itu," goda Dokter Dino sekalgus sahabatnya putra dari Dokter Danny sahabat Ayah Jose.


"Kerjakan saja tugas kamu!" Khan melirik Vefe yang tersenyum saat dimintai duduk di kursi roda.


Umi Maryam duduk di kursi roda di dorong langsung menuju ruang Endoscopy. Diikuti oleh Dokter Dino sambil melihat rekam medis yang baru di terima dari perawat.


Khan berjalan santai bersama Vefe sambil berbincang, "Mengapa Mas Khan ada di sini?"


Padahal yang mengundur jadwal meeting adalah Khan sendiri. Gara-gara perasaannya gelisah memikirkan Vefe yang ada di rumah sakit. Dengan mendadak Khan mengundurkan waktu meeting setelah istirahat dan langsung menuju ruang Dokter Dino.


"Apakah Mas Khan tidak malu berjalan dengan Vefe?"


"Mengapa malu, Vefe manusia, 'kan?"


"Ya iyalah, Vefe bukan setan. Maksud Vefe karena mereka yang berobat di sini orang kaya semua sedangkan Vefe orang miskin dan yatim piatu lagi."

__ADS_1


"Tidak perlu berkecil hati, di mata Allah orang yang paling mulia adalah amal ibadah bukan strata sosial."


Vefe hanya tertunduk sambil terus berjalan. Malas melihat orang yang selalu memperhatikan penampilan Vefe. Apalagi saat berjalan dengan Khan yang berpenampilan seorang eksekutif muda.


Menunggu dan mengikuti serangkaian proses pengobatan Umi Maryam tanpa terasa sudah dua jam berlalu. Khan terus saja mendampingi Vefe sampai pemeriksaan selesai. Setelah dari apotek untuk mengambil obat dan berpamitan pulang.


"Mas ... Ve pamit dulu, terima kasih banyak telah membantu Umi."


"Sama-sama, apa perlu Mas antar pulang?"


"Tidak perlu, Mas. Ve bawa motor, Assalamualaikum. "


"Walaikum salam."


Khan tidak lagi memiliki alasan untuk menahan Vefe untuk tetap bersama. Dia hanya memandangi Vefe yang sedang berjalan menjauh darinya.


Khan hanya terus terpaku ketika melihat Vefe yang mulai menghilang di area parkiran. Mengambil motor dan melajukan motornya sampai tidak terlihat lagi.


Khan langsung menuju mobilnya ingin kembali ke kantor. Tersenyum teringat Vefe, tetapi kesal saat mengingat Bunda Fatia yang akan berniat menjodohkan lagi dengan seseorang. Belum berniat memberi tahu tentang Vefe kepada beliau.

__ADS_1


Baru memikirkan Bunda, ponsel berdering dengan nama Bunda, Khan hanya bermonolog sendiri, "Wanita mana lagi yang akan Bunda ajukan sekarang ini?"


__ADS_2