
Khan gelagapan saat di tanya Bunda Fatia tentang pacar. Pasalnya belum ada ikatan apapun antara dirinya dengan Vefe. Dia hanya sebatas suka dan mengagumi belum lebih dari itu.
"Belum Bunda, tetapi Khan maunya pingin pacaran seperti pemuda lain, menikmati prosesnya. Jangan langsung di jodohkan."
"kalau seperti niatan Khan sampai kapan? Khan aja dekat wanita cantik keringat dingin terus."
"Adalah pokoknya, Bun. Yang penting Bunda sabar, dan yang terpenting lagi selesaikan dulu itu masalah tetangga Bunda."
"Baiklah ... Bunda yang akan menyelesaikan, tetapi sampai Khan belum mempunyai kabar menggembirakan tentang pasangan, Bunda akan tetap berusaha mencarikan jodoh Khan, itu sudah menjadi keputusan Bunda."
"Bunda tega banget sih!" teriak Khan kesal.
Asisten Satria memberikan kode dengan mengedipkan mata. Agar mau bercerita tentang Vefe daripada di jodohkan lagi. Khan hanya menggelengkan kepala karena belum saatnya Bunda Fatia mengetahui tentang Vefe.
Bunda Fatia yang melihat antara tuan dan asistennya saling memberikan kode. Dia curiga tetapi pura-pura tidak tahu. Lebih memilih diam dulu yang penting Khan tidak emosi lagi dan masalah selesai.
__ADS_1
"Sudah sana kalian beristirahat. Besok kita selesaikan masalah tentang Eno!"
Keesokan harinya pagi pukul delapan Khan harus segera ke kantor. Harus segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda kemarin. Kemarin banyak meeting yang di tunda karena ulah keluarga Eno.
Setelah Khan berangkat ke kantor Bunda Fatia berbincang dengan Pak Gun. Bertanya tentang Khan dan cerita Pak Darsono yang berkunjung kerumah. Setelah mendapatkan keterangan, Bunda Fatia berniat menyelesaikan sendiri masalah dengan Pak Darsono.
Menggunakan ponsel Bunda Fatia menghubungi ayah dari Retno Wulandari. Menanyakan perihal kiriman darinya tentang acara pernikahan yang direncanakan secara sepihak.
Dari keterangan Pak Darsono ternyata semua berasal dari Eno sendiri. Eno mengatakan kepada ayahnya jika Bunda Fatia dan Khan sudah setuju. Pak Darsono mengikuti saja semua rencana Eno.
Semua rencana hanya Eno yang memilih dan menentukan. Obsesinya ingin menikah dengan Khan membuatnya nekat dan bertindak sendiri. Padahal dulu Bunda Fatia berpesan untuk mendekati Khan secara perlahan.
Penolakan demi Penolakan Khan tidak pernah di gubris oleh Eno. Karena Eno merasa diatas angin mendapatkan restu dari Bunda Fatia. Bahkan Eno tidak pernah menyadari jika Khan memiliki trauma saat dekat dengan wanita cantik dan seksi.
Bunda Fatia berpesan kepada Pak Darsono untuk membatalkan semua rencana Eno. Bunda Fatia juga mengancam akan memindahkan Eno bukan hanya di Surabaya. Dia akan dipindahkan ke Sulawesi jika tidak membatalkan rencana pernikahan gilanya.
__ADS_1
Eno mendengar percakapan antara ayahnya dengan Bunda Fatia. Pembicaraan mereka di loud speaker . Eno langsung menjawab ancaman dari Bunda Fatia, "Jangan Bunda ...!" teriak Eno sambil menahan emosi.
"Eno bicara yang sopan sama Bunda!" bentak Pak Darsono dengan suara keras.
"Iya maaf Bunda." Eno menunduk dan tidak berani menatap wajah ayahnya.
"Jadi sudah setuju ya, batalkan semua yang sudah Eno dan Pak Darsono rencanakan." pinta Bunda Fatia.
"Baik Bu. akan saya lakukan secepatnya." Pak Darsono menjawab dan langsung dimatikan ponselnya oleh Bunda Fatia.
Sayangnya ucapan Pak Darsono tidak dilakukan semua oleh Eno. Ada satu postingan di media sosial yang Eno bagikan. Yaitu penyewaan gedung dengan tulisan pernikahan Eno dan Khan.
Saat ini postingan itu sudah beredar di seluruh karyawan di PT KURNIA. Menjadi pembicaraan seluruh karyawan. Apalagi sekarang ini Eno tidak masuk kerja, seolah postingan itu benar.
Asisten Satria yang diberitahu oleh sekertarisnya langsung naik pitam. Dia bergegas melaporkan kepada Khan, "Tuan coba lihatlah postingan Nona Eno!"
__ADS_1
"Breng*sek!"