
Pasar Turi hanya berjarak 300 meter saja dari Tugu Pahlawan. Lumayan jauh dari posisi stadion dari pertandingan. Khan membawa mobil sendiri mengajak Vefe, Gi dan Ji ke sana.
Saat ini Khan sedang duduk di tangga pintu masuk Pasar Turi. Di temani Vefe yang sedang menikmati es krim. Di temani juga oleh Gi oleh Ji menikmati es krim rasa coklat.
"Ada yang mau tambah es krimnya?" tanya Khan.
"Sudah Mas, nanti kita cari yang lain saja." Vefe menjawab sambil terus menikmati es krim sampai ada yang meleleh di bibir.
"Ve, maaf ada yang meleleh ďi bibir." Khan mengusap bibir Vefe dengan tisu.
"Eee terima kasih."
Khan tersenyum dan mengangguk, "Kalau sudah selesai ayo kita berkeliling ke dalam!"
Khan dan Vefe berjalan beriringan sedangkan Gi dan Ji mengikuti di belakangnya. Mereka mengelilingi area Pasar Turi lantai satu. Masih melihat-lihat dan belum tahu apa yang akan mereka beli.
Hampir segala produk tersedia di Pasa Turi. Yang tentunya dapat dibeli secara grosir atau eceran. seperti, pakaian, souvenir, alat rumah tangga, aksesories dan bahan bahan lainnya.
Sebagai salah satu pusat grosir barang-barang termurah di Indonesia. Pasar Turi tidak pernah sepi pengunjung. Ribuan konsumen setiap hari memadati pasar.
Untuk sekedar jalan-jalan atau sengaja kulakan produk-produk tertentu untuk dijual kembali. Khan serta rombongan sampai bingung ada banyak sekali yang di jajakan di pasar.
__ADS_1
Gi dan Ji tertarik melihat baju khas Madura yang di gantung rapi di toko pakaian. Baju setelan itu bernama baju pese'an. Baju longgar setelan berwarna hitam dan kaos bergaris berwarna merah dan putih.
"Gi mau baju khas dari daerah Madura ini?" tanya Khan
"Iya Mas ... Bajunya unik, Gi sering lihat Abang sate Madura keliling berjualan memakai baju begini."
"Apakah Ji juga mau?" tanya Gi.
"Tidak Gi, nanti yang lain iri kalau hanya kita berdua yang beli."
Khan tersenyum mengusap pundak Ji, "Jangan khawatir, kalian pilih saja untuk semua laki-laki yang ada di panti asuhan, Nanti untuk yang perempuan Mas dan Kak Ve yang akan mencarikan."
"Sana pilih jangan sampai terlewat!"
"Baik Mas, tewrima kasih."
Vefe hanya mengambil napas panjang dari kemarin setiap membeli barang ataupun jajan. Bisa dipastikan seluruh keluarga mendapatkan bagian yang sama. Lama-kalamaan Vefe menjadi tidak enak hati.
"Dari kemarin selalu belanja untuk seluruh keluarga, Mas. Vefe jadi tidak enak."
"Tidak apa-apa, Ve. Tidak setiap hari juga. Ayo khusus adik-adik yang perempuan di belikan apa?"
__ADS_1
"Biar adil samakan saja, Mas. Kalau anak-anak bagus saja kok pakai baju pese'an ini."
"Baiklah kita samakan saja, apakah Ve juga mau pakai baju pese'an?" tanya Khan sambil tertawa.
"Tidak usah, nanti Vefe di kiranya akan jualan sate."
Kembali mereka berkeliling naik di lantai dua dan lantai tiga setelah selesai membayar lunas baju pese'an. Ada banyak tempat yang menarik untuk berfoto. Khan sering mengambil foto saat Vefe sendiri, atau bersama Gi dan Ji.
Terakhir Khan mengajak makan di Kadai stiek daging yang berada di depan Pasar Turi. Makanan khas ala barat tetapi sudah di sesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Bahkan Gi dan Ji makan steak daging ditambah dengan nasi satu porsi.
"Kakak ... enak banget rasanya, Gi baru kali ini makan steak daging."
"Iya Ji juga baru sekali ini, dagingnya lembut, mengapa Mas Khan dan Kak Ve tidak pakai nasi?"
Khan tergelak mendengar pertanyaan Ji, "Kalau orang barat sana, makan steak daging di tambah kentang sebagai karbo, bukan nasi."
"Berarti orang bule seperti Mas Khan jarang makan nasi dong?" tanya Gi.
"Hampir tidak pernah, Gi. Biasanya mereka makan roti."
"Kalau Gi tidak kenyang kalau cuma makan roti saja."
__ADS_1