
Berkali-kali Khan menghubungi Bunda Fatia dan Ayah Jose secara bergantian. Ponsel keduanya tidak ada yang aktif. Hampir setengah jam menghubungi tetap saja operator telepon seluler yang menjawabnya, sampai Khan kesal sendiri.
Vefe hanya menggelengkan kepalanya, melihat Khan mulai gelisah dan bingung sendiri. Dia langsung menghubungi ibu mertuanya. Hanya dengan sekali mencoba, ponsel sudah terhubung.
"Assalamuaikum, Bunda."
" ...."
"Bunda ada di mana?"
" ....?"
"Ve dan Mas Khan ada di kantor Dokter Dino, Bun. Nanti Ve ceritakan!"
" ...."
"Walaikum salam."
Setelah Vefe mematikan ponsel dan dimasukkan ke dalam tas. Khan mendekati Vefe, "Di mana Bunda sekarang ini, Sayang?"
"Ada di lobi rumah sakit."
__ADS_1
"Mas jemput Bunda dan Ayah saja, deh." Khan berdiri ingin keluar dari ruang kantor milik Dokter Dino.
Pak Gun dan Mpok Ria berdiri bersamaan, "Pak Gun saja yang menjemput Nyonya Bunda, Tuan."
"Boleh juga," jawab Khan kembali duduk di samping Vefe.
Khan melihat dua mangkuk soto daging yang sudah tandas tanpa sisa, "Apakah mau tambah lagi soto dagingnya?"
"Tidak ... Terima kasih."
"Jangan di tawarkan lagi, Bro. Di dapur sudah habis soto dagingnya." Dokter Dino ikut menjawab perkataan Khan.
"Ayo kita pulang!" Perintah Ayah Jose setelah bertemu dengan anggota keluarga dan berbincang.
Malam harinya Vefe banyak termenung teringat orang tua yang entah di mana. Sekarang mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari mertua. Merupakan anugerah yang sangat di syukuri oleh Vefe.
Saat tengah malam Vefe belum bisa memejamkan mata. Melihat Khan sudah tertidur pulas setelah dia berbincang dengan putranya yang masih dalam perut. Setiap gerakan bayi dalam perut dianggap oleh Khan jawaban dari putranya.
Ingin mencoba memejamkan mata posisi badan terasa tidak enak. Rasanya miring ke kanan atau ke kiri tidak nyaman. Terlentang juga tidak mendapatkan posisi yang enak.
Tiba-tiba ada rasa melilit seperti tadi siang. Di sertai rasa ingin buang air besar. Vefe hanya mengusap perutnya sambil berbincang dengan putranya yang ada di dalam perut, "Kenapa ... apakah merasa tegang lagi, Nak?"
__ADS_1
Rasa itu menghilang perlahan seiring usapan tangan Vefe semakin intens. Mengambil napas panjang dan mengeluarkan perlahan. Sakit itu menghilang dengan sendirinya.
Baru mulai bisa terlelap sejenak, tiba-tiba sakit itu datang lagi. Sakitnya semakin terasa dan ditambah pinggang juga ikut sakit. Berkali-kali mengambil napas panjang, tetapi kali ini tidak mengurangi sakitnya.
Setelah mengajak berbincang bayi yang ada di dalam perut dan mengusap dengan lembut. Sedikit demi sedikit sakitnya menghilang. Dia hanya melirik jam saat sakit itu tiba-tiba datang.
Vefe masih bertahan tidak ingin membangunkan Khan sampai waktu menunjukkan sepertiga malam. Dia memilih turun dari tempat tidur dan mengambil air wudhu. Menggelar sajadah di samping tempat tidur menghadap yang maha khaliq untuk kelancaran semuanya.
Tidak hanya orang tua yang entah di mana, mertua, ibu asuh yang ada di panti asuhan. Semua di sebut satu persatu untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka. Terutama kesehatan suami dan putranya yang masih di dalam perut.
Hampir satu jam bersimpuh mengahap kiblat. Dengan menahan rasa sakit jika sesekali datang. Tetap memohon dan berdoa dengan hati yang ikhlas.
Pasrah dan menyerahkan semua kehidupan kepada yang maha kuasa. Membuat hati Vefe semakin tenang dan bisa mengurangi sedikit rasa sakit yang ada. Tasbih terus di tangan dan berputar seiring zikir dan sakit datang bersamaan.
Tanpa terasa setelah hampir dua jam. Ada air yang mengalir deras dari sela dua kaki. Tempat sujud dan mukena yang masih terpasang di badan ikut basah tanpa sengaja, "Ya Allah ampune Ve. Apa ini?" monolognya dengan lirih.
Saat ingin berdiri dan memeriksa ada banyak air dan darah bercampur menjadi satu. Vefe jadi kaget langsung duduk meluruskan Kakinya. Mencoba untuk tenang.
Hanya sayangnya air dan darah mengalir deras, membuat Vefe semakin panik, "Mas Khan ....!" teriak Vefe dengan sangat keras.
Khan yang kaget dan ingin bangun dia tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, "Aauw ... Sayang apa ini?" Khan terjatuh di samping tempat tidur menegenai air yang bercambur darah.
__ADS_1