Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 140. Panik


__ADS_3

Celana dan baju tidur Khan basah terkena air ketuban dan bercampur darah, "Sayang ... Ini bagaimana?"


Vefe tidak menjawab pertanyaan Khan. Matanya terpejam sambil mengambil napas panjang. Mencoba menahan rasa sakit yang mulai terasa sampai pinggang dan kaki terasa kebas.


Khan bingung dan mulai panik melihat Vefe menahan sakit. Dia ikut menarik napas panjang sambil memegangi perut Vefe yang masih tertutup mukena, "Aduh bagaimana ini. Oya panggil Bunda saja," monolog Khan sendiri


Khan tetap mengusap perut Vefe dan mearih ponsel yang ada di nakas. Dengan tangan kiri Khan menghubungi Bunda Fatia. Tidak ada jawaban dari Bunda Fatia, kemungkinan beliau masih terlelap dalam mimpi.


Khan beralih menghubungi Ayah Jose. Hanya sayangnya sekali tiga uang, ponsel hanya dijawab oleh operator. Bayangan Khan adalah Ayah Jose dan Bunda Fatia masih di Manhatten, padahal keduanya ada di kamar sebelah saja.


"Aduh bodohnya Mas ini, Sayang, Bunda ada di kamar yang rencananya untuk putra kita, hanya di sebelah saja."


Khan berlari keluar kamar, tidak memperdulikan baju tidur yang basah. Bahkan setiap langkahnya ada noda yang menetes dari bajunya. Hanya dalam tiga kali ketukan pintu, kedua orang tuanya langsung terbangun.


"Bun ... Cepat ada banyak air dan darah yang mengalir!" teriak Khan.


Ayah Jose yang baru saja terbangun masih belum seratus persen sadar. Beliau langsung melihat badan Khan bagian pinggang ke bawah, "Khan ... Istrimu yang akan melahirkan mengapa kamu yang mengalami pecah ketuban?"


Bunda Fatia tergelak dan memukul dahi Ayah Jose, "Bangun dulu , Yah. Dari mana ada air ketuban dari senjata putramu, yang ada air seni yang keluar dari senjatanya."


Bunda Fatia langsung berlari meninggalkan suami dan putranya. Melihat Vefe yang masih meluruskan kakinya. Bahkan mukena masih terpasang sempurna di badan Vefe.

__ADS_1


"Putri Bunda yang soleha, ayo berdiri, Nak. Bunda bantu ya!"


"Iya ...." jawab Vefe sambil meringis.


Vefe berdiri dibantu oleh Bunda Fatia. Datang Khan memeluk Vefe dari sambing, "Hati-hati, Sayang."


"Khan ... Mengapa kamu peluk istrimu, Bunda akan membantu membuka mukenanya!"


"Oooo maaf, Bun. Sini Khan saja yang membukanya."


Setelah mukena sudah terlepas, Vefe duduk di samping tempat tidur. Bunda Fatia mengusap perut Vefe dengan lembut, "Sabar ya, Nak. Kita ke rumah sakit sekarang, kira-kira berapa menit sekali rasa sakit kontraksinya?"


"Sekitar seperempat jam sekali sebelum keluar air dan darah, Bun."


"Ya siap." Ayah Jose berlari turun tangga membangunkan Pak Gun dan Mpok Ria.


"Masih kuat jalan, Nak?" tanya Bunda Fatia.


"Insyaallah, Bun."


Khan berganti baju dengan cepat dan melempar baju tidur entah ke mana. Berlari mendekati Vefe dan langsung menggendongnya dengan bridal, "Ayo Mas gendong saja."

__ADS_1


"Eee Mas ... Ve masih bisa berjalan sendiri!" teriak Vefe.


"Tidak boleh berjalan sendiri, nanti brojol di jalan!"


"Eeee!"


Pak Gun dan Mpok Ria mempersiapkan peralatan bayi. Ayah Jose yang mengambil mobil yang ada di garasi. Khan tidak sempat menghubungi siapapun karena fokus pada Vefe.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Khan memangku kepala Vefe. Sambil terus mengusap lembut perut Vefe. Apalagi saat perut mengalami kontraksi, Khan terus memberikan dukungan.


"Cepat Yah ... tancap gas!" teriak Khan dengan panik.


"Sabar Khan ... jangan panik," jawab Ayah Jose sambil konsentrasi menyetir dan melihat jalan raya.


Setiap Vefe meringis kesakitan karena kontraksi. Saat itu juga Khan bingung dan panik. Dia berkali-kali berteriak memerintahkan Ayah Jose untuk cepat. Meminta bantuan Bunda Fatia agar Vefe tidak merasa kesakitan.


"Khan ikut ambil napas panjang seperti Nak Ve saja, biar tidak panik!" perintah Bunda Fatia


Pak Gun dan Mpok Ria yang duduk di jok mobil bagian belakang. Dia juga ikut panik karena Khan. Tangannya mengirim pesan kepada siapa saja yang ada di kontak ponselnya.


Bahkan tukang sayur langganan yang setiap pagi lewat juga diberitahukan jika majikan perempuan akan melahirkan, "Eeeee maaf salah kirim!" teriak Pak Gun pada ponselnya.

__ADS_1


"Aaaargh ... Mas rasanya pinggang Ve mau copot!" teriak Vefe.


"Eeee jangan di copot dong, Sayang. Susah pasang nanti!"


__ADS_2