
Vefe langsung menutup mulutnya teringat gantungan kunci Patung Liberty yang terbuat dari emas 24 karat. Dulu pernah mencari tahu harga dari patung yang jumlahnya terbatas itu hampir sama dengan harga satu mobil toyota. Dia bergegas mengambil kotak kecil untuk mengembalikan pada yang berhak.
"Ini Ve kembalikan!"
"Tunggu dulu, Kak. El tidak meminta patung itu kembali. Patung itu ibarat hal yang sangat berharga bagi El yaitu pengganti Mas khan."
Vefe masih bengong tidak memahami maksud dari perkataan Elya. Dia hanya menggelengkan kepala dan tidak berani bertanya. Yang dia tahu benda berharga itu sangat mahal harganya tidak mungkin diberikan begitu saja.
"Kak Ve tidak mengerti maksud El?" tanya Elya. Vefe hanya menggelengkan kepalanya saja.
"El akan bercerita satu rahasia yang tidak pernah kami ceritakan kepada siapapun, tentang Mas Khan."
Elya bercerita tentang trauma Ayah Jose dan kisahnya sekilas. Bisa sembuh hanya karena Bunda Fatia seorang. Dengan wanita lain Ayah Jose akan berseaksi muntah ataupun pingsan.
Banyak sekali yang mengejar cinta Ayah Jose. Salah satunya wanita cantik dan seksi yang sangat teropsesi dengan Ayah Jose. Karena ditolak wanita itu menculik Khan saat masih sekolah dasar.
Khan di sekap di kamar kecil, disiksa dengan di pukuli pipinya berkali-kali. Setelah Khan berhasil di selamatkan oleh teman Ayah sendiri. Khan memilih tinggal bersama orang tua Bunda Fatia di Ngawi.
Khan memilih sekolah dan tinggal di pondok milik Mbah Kakungnya sendiri. Sejak saat itu Khan diasuh oleh Pak Gun. Tinggal di pondok sampai SMA dan memiliki teman semua laki-laki.
Kuliah ke Manhatten New York juga selalu di dampingi oleh Pak Gun. Tidak pernah mau kenal seorang wanitapun sampai sekarang terutama yang seksi dan sangat tergila-gila padanya.
Khan akan berkeringat dingin jika bertemu atau berdekatan dengan wanita seksi yang menyukainya. Dia akan beraksi berlebihan baik saudara sendiri ataupun orang lain yang memandang penuh cinta. Tidak pernah sekalipun mengenal wanita seumur hidupnya.
Di rumah dari security, tukang kebun, pembantu rumah tangga, sampai koki semuanya laki-laki. Tidak pernah seorang wanitapun yang bertamu di rumah Khan. Wanita yang pernah masuk rumah Khan hanya Bunda Fatia, Elya, Freya, Nina dan Sabrina saja.
"Kak Ve tahu, Mas Khan tidak bereaksi berkeringat dingin hanya pada Kak Ve seorang, Eno, Sania, Maria dan masih banyak lagi yang mengejar Mas Khan semua selalu membuat Mas Khan berkeringat dingin."
Tanpa di sadari air mata Vefe mengalir deras tanpa bisa di bendung lagi. Merasa bersalah tidak memberikan kesempatan untuk menjelaskannya. Hanya memilkirkan perasaan sendiri tanpa mempertimbangkan perasaannya.
"Kak Ve tahu, sudah empat hari ini Mas tidak punya semangat untuk hidup, dia tidak mau makan, tidak ke kantor. Tidak ada yang bisa mengobati sakitnya dia. Dokter Dino juga tidak bisa berbuat apa-apa."
"Mas Khan ...?" Vefe terus terisak tidak pernah membayangkan jika kekasih hati memiliki trauma yang sangat parah.
"Kemarin saat Mas ke Mahetten bercerita tentang Kak Ve, El tanpa bertanya langsung percaya akan cinta Kak Ve pada Mas Khan. Patung Liberty itu sebagai simbul El mempercayakan kebahagiaan saudara laki-laki El satu-satunya kepada Kak Ve."
__ADS_1
Vefe semakin tergugu sambil menciumi patung Libarty itu berkali-kali, "Maafkan Ve, Mbak Elya. Ve tidak tahu tentang simbul dan arti Patung ini."
"Sekarang Kak Ve tahu artinya. Apakah mau ikut El bertemu Mas Khan sekarang?"
"Iya Ve ingin bertemu dengan Mas Khan. Tunggu sebentar Ve akan ganti baju."
Umi Maryam yang awalnya ingin masuk mengantar minuman teh hangat untuk tamu. Beliau ikut tergugu mendengar cerita Elya. Ada banyak yang masih di sembunyikan tentang Khan.
Umi Maryam langsung mengusap air matanya, "Nak ... Ini tehnya di minum dulu!"
"Terima kasih, Umi." Elya tersenyum mengambil teh yang diberikan Umi Maryam.
Umi Maryam tersenyum melihat Vefe selesai berganti baju. Memakai make-up tipis untuk menutupi wajahnya yang pucat. Matanya sembab tetapi bibirnya tersenyum.
"Ve ... Mau kemana sih tumben berdandan?" tanya Umi Maryam.
"Ve izin mau menemui Mas Khan ya Umi. Mbak Elya adalah ...!"
Umi Maryam tersenyum mengusap pipi Vefe yang terlihat memerah, "Umi sudah mendengar pembicaraan kalian tadi. Berangkatlah ... Umi merestui Ve ke sana!"
Vefe mengambil tas slempang yang dulu di belikan oleh Khan saat hari anak sedunia. Memakai kaos ditro sederhana, celana jeans dan sepaatu wedges. Penampilan sederhana tetapi terlihat rapi dan anggun.
Ada suara teriakan anak kecil mencari ibunya, "Mom ... Where are you?"
Elya langsung berteriak, "Freya ... Mom in here!"
Freya masuk kamar Vefe di ikuti Mpok Ria yang berjalan dibelakangnya. Freya melihat Vefe yang sudah siap unuk keluar rumah, "Mom ... Who is she?" tanya Freya menunjuk Vefe.
"She is Feya's Auntie, Her name is Auntie Vefe."
"Hai Auntie Ve. Kon manis tenan rek, Freya seneng karo Antie."
Umi Maryam dan Vefe tergelak mendengar Freya berbicara dengan dua bahasa. Walaupun bukan orang jawa mereka sedikit tahu tentang bahasa jawa. Sangat familier bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari.
"Matur suwun, Freya juga cantik, " jawab Vefe sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iku wes kawet Freya lahir!" Freya sambil mendongakkan wajahnya jumawa. Kembali Umi Maryam dan yang lain tergelak.
Vefe dilarang menggunakan motornya sendiri. Elya mengajaknya ikut naik mobilnya. Elya beralasan masih ingin berbincang tentang hubungan Vefe dengan kakak kesayangannya.
Vefe menuju rumah Khan dengan perasan yang tidak menentu. Jantungnya berdegup kencang. Rasa rindu sudah tidak bisa di tahan lagi.
"Kak Ve mengapa kemarin tidak mau mendengarkan penjelasan Mas Khan?"
"Ve hanya teringat perkataan wanita yang bernama Eno itu, katanya gara-gara Ve pertunangan dia dan Mas Khan batal."
"Apakah Kak Ve tidak pernah melihat saat Mas Khan berkeringat dingin ketika bertemu seseorang?"
Vefe mengerutkan keningnya, teringat saat sedang makan bakso bertemu dengan wanita dewasa yang bernama Nyonya Maria. Pernah juga saat di bandara ada wanita seksi yang ingin mendekati Khan saat itu.
Sekarang baru faham mengapa dia tidak mengaku saat itu. Padahal dia jelas-jelas berkeringat dingin. Ternyata ada trauma yang sangat dalam dialami oleh kekasih hati.
Masuk rumah, Elya langsung menemui Pak Gun dan memperekenalkan Vefe padanya. Kebetulan Pak Gun sedang memegang nampan menu sarapan pagi untuk tuannya, "Permisi, Pak. Sini Ve saja yang membawa menu sarapan pagi untuk Mas Khan!"
Pak Gun tersenyum dan mengagguk, "Silahkan, Nona. Ayo Pak Gun antar!"
Yang pertama masuk Pak Gun diikuti Vefe dan Elya. Di belakangnya, "Tuan ... ayo sarapan dulu!"
"Pak ... Bawa pergi saja," jawab Khan dalam posisi tengkurap tidak melihat siapa yang datang.
"Sarapan dulu, Mas!" perintah Vefe.
"Pak Gun jangan mengubah suara menjadi Ve ...?" Khan mengubah posisi tidurnya melihat orang ada di samping tempat tidur.
BERSAMBUNG
Jangan lupa mampir di novel teman yang sangat remonen ya kk. Ini di novel
toon juga lo, sambil menunggu KKJ up lagi
__ADS_1