
Khan panik mendengar Vefe mengatakan pusing. Khan mengira pusing dalam artian yang sebenarnya. Seperti dia saat pusing harus minum obat sakit kepala ressep dari Dokter Dino sahabatnya.
Beda lagi maksud dari Vefe yaitu dia terasa pusing saat melihat ikan berenang ke sana ke mari. Baru pertama masuk terowongan akuarium raksasa. Pusing karena seolah Vefe berada diantara monster laut yang siap melahapnya.
"Maksud, Ve. Pusing karena melihat ikan yang ribuan itu, Mas."
"Ooo Mas kira Ve pusing kepala puyeng gitu."
Melanjutkan perjalanan wisata tetap sambil bergandengan tangan. Tanpa terasa waktu hampir tengah hari. Waktunya membantu anak-anak makan siang di villa.
Hari Minggu sore waktu di habiskan untuk kegiatan di villa. Setelah semua rapi memakai seragam kaos yang sama yang di beli di Surabaya. Momen befoto selfi atau foto ramai-ramai.
Kali ini Khan dan Vefe memakai seragam kaos yang sama. Berfoto bersama di tengah anak-anak. Ada juga foto bersama Umi Matyam, Erina, Daniel dan Asisten Satria serta istrinya Nina.
Selesai berfoto bersama acara di tutup dengan makan bersama nasi tumpeng yang dibuat oleh koki villa. Dengan doa khusus untuk yang berulang tahun. Doa selamat yang dipimpin oleh Asisten Satria.
Ada juga kue tart yang langsung dibagikan untuk anak-anak. Kue itu berukuran besar dan cukup dibagikan untuk anak-anak. Kue tart dengan rasa stroberi dan vanila.
Gi yang mengetahui kue ulang tahun harus tiup lilin terlebih dahulu. Dia langsung protes pada Khan, "Mas Khan seharusnya tiup lilin dulu."
Khan tersenyum sambil mengacak rambutnya, "Itu kalau anak kecil yang ulang tahun, kalau orang dewasa tidak ada yang tiup lilin."
Asisten Satria langsung menyahut, "Kalau orang dewasa menunggu lilin, Gi."
"Kalau menunggu lilin jadi b*bi ngepet dong, Bang. Itu tidak boleh karena dilarang agama." Gi kembali protes mendengar jawaban Asisten Satria dan disertai tawa yang mendengar.
Ucapan selamat dan doa yang terbaik juga untuk Khan dari anak-anak serta yang hadir. Tanpa diduga Vefe memberikan kado dengan ukuran kecil untuk Khan. Vefe memberikan sesaat sebelum mereka akan kembali pulang ke panti asuhan Bunda.
"Selamat ulang tahun ya Mas, ini dari Ve, jangan dilihat dari harganya ya Mas."
"Apa ini, Ve?"
"Kado dari Ve, semoga Mas selalu sehat dan panjang umur."
"Aamiin terima kasih, Ve. Dibukanya kapan?"
"Eee jangan sekarang dong, Mas. Nanti malu kalau di lihat anak-anak."
"Baiklah nanti Mas buka kalau sampai rumah."
Pulang kembali ke panti asuhan dengan di antar bus seperti kemarin saat datang. Vefe harus mendampingi anak-anak pulang. Dengan terpaksa menolak ajakan Khan untuk pulang berdua.
"Maaf ya, Mas. Ve harus bertanggung jawab atas keselamatan anak-anak, Erin dan Bang Daniel sudah pulang duluan karena ada acara."
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa, Ve. Hati-hati."
"Kami pulang dulu, Mas. Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
Khan melambaikan tangan saat bus mulai meninggalkan villa. Rasanya tidak ingin berpisah dan ingin selalu berdua. Debaran hati tetap saja berdegup kencang padahal pujaan hati sudah tidak terlihat dari pandangan.
Asisten Satria yang dari tadi memandangi Khan hanya tersenyum devil sambil menggelengkan kepalanya, "Tuan, dia sudah tidak terlihat, ayo kita pulang!"
Khan tersenyum simpul, berjalan meninggalkan Asisten Satria yang berdiri di sebelahnya. Asisten Satria berjalan mengikuti langkah paanjang Khan, "Bagaimana rasanya, Tuan?"
"Rasa apa?"
"Rasanay punya pacar."
"Kamu ini kayak anak kecil saja."
Khan berjalan sambil tersenyum, karena hanya bisa merasakan tidak bisa diungkankan dengan kata-kata. Bahagia, berbunga-bunga dan entah apalagi kata yang ada di dalam jiwa. Hanya ada satu nama yang selalu disebut dalam hati berulang kali.
"Tuan, lagi membayangkan Nona Vefe ya, senyum-senyum sediri begitu?" tanya Asisten Satria lagi.
"Siapa yang tersenyum sendiri?"
"Anda sudah izin Umi Maryam, Tuan?"
"Sudah tadi malam."
"Wuuuih gercep banget, Apa kata Umi?"
"Katanya tidak boleh terburu-buru, pendekatan dulu."
"Targetnya langsung menikah atau pacaran dulu?"
"Aku maunya langsung menikah, tetapi sabar dululah."
Hampir menjelang senja Khan baru sampai di rumah. Seperti biasa didepan pintu ada sambutan cokelat hangat oleh Pak Gun. Kali ini Khan menyambutnya dengan tersenyum.
"Tumben Anda tersenyum begitu, Tuan. Biasanya minum cokelat hangat dengan bertanya dan marah?"
Khan kembali tersenyum teringat wajah Vefe saat Pak Gun bertanya, "Aku lagi senang, Pak. Dalam rangka apa Pak Gun memberikan cokelat hangat?"
Pak belum sempat menjawab pertanyaan Khan. Telinganya sudah ditarik oleh Bunda Fatia dari belakang, "Aaa ... aduh sakit, Bun!" teriaknya.
__ADS_1
"Mengapa ponsel dua hari tidak aktif?"
"Maaf Bun, sengaja ... Aaa sakit Bun, lepaskan dulu!" kembali Khan berteriak.
"Tidak akan Bunda lepaskan sebelum Khan mengatakan ke mana dua hari menghilang?"
Khan di Ancol, Bun ... Ampun!"
Bunda Fatia langsung mememeluk putranya setelah melepaskan telinganya, "Selamat happy milad, Nak. Apakah Ayah dan Bunda sudah tidak penting lagi, sampai ingin mengucapkan selamat ulang tahun tidak Bisa?"
"Terima kasih ... Maaf, Bun. Mengapa tidak menghubungi asisten saja. Bunda tahu sendiri, kalau ponsel Khan aktif akan kewalahan menganggat dan menjawab panggilan masuk."
"Itu karangan bunga sudah kamu lihat dari siapa saja?" tanya Ayah Jose.
"Tidak sih, Yah. Khan malas, palingan yang banyak dari Eno dan Sania si MInyak Goreng itu."
"Selamat ulang tahun, Ayah hanya bisa berdoa semoga selalu terkabul harapan dan cita-cita Khan."
"Aamiin terima kasih, Ayah."
"Bunda menagih janji Khan, apakah sekarang sudah bisa bercerita tentang dia?"
"Bunda ini ... Tidak sabaran amat, sih!"
"Eee Bunda sudah dua minggu lo menunggu."
"Sabar ya, Bun. Khan mau mandi dan ganti baju dulu. Nanti saja saat makan malam Khan cerita."
Bunda Fatia menuju dapur saat Khan ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan diri. Melihat Pak Gun memasak untuk makan malam, "Pak Gun, masak apa menu makan malam hari ini?"
"Sayur asem, Ikan guramai goreng, tahu goreng dan sambal terasi."
Bunda Fatia tersenyum simpul saat mendengar sayur asem. Teringat foto Khan saat makan ikan asin bersama seorang gadis. Ingin tahu reaksinya jika hari ini ada menu ikan asin di meja makan.
"Pak Gun, apakah ada persediaan ikan asin?"
"Ada sih, Nyonya Bunda. saya simpan di dapur belakang."
"Khusus hari ini tolong gorengkan sedikit ikan asin ya!"
"Baik Nonya Bunda."
Saatnya tiba makan malam bersama, Bunda Fatia mengambilakan menu nasi, sayur asem dan ikan guramai untuk Ayah Jose. Mengabilkan juga untuk Khan tetapi bedanya Khan di ambilkan dengan lauk ikan asin.
__ADS_1
"Lo ...Bun, kok Khan pakai ikan asin?"