Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 97. Emosi dan Cemburu


__ADS_3

Khan melotot kesal dan marah dengan pemuda putra dari sahabat Bunda Fatia. Terus saja pemuda itu mencari istrinya tanpa rasa malu. Ingin sekali langsung memberikan bogem mentah di wajahnya.


"Kamu mau cari mati mencari istriku?" kata Khan sambil memegangi kerah kaos yang di kenakan.


"Tuan ... Tunggu!" teriak Pak Gun.


Mendengar teriakan Pak Gun, Khan hanya mengayunkan tanganya ke udara. Bunda Fatia dan pasangan suami istri Pak Misbah berlari mendekati Khan, "Ada apa, Nak?" tanya Bunda Fatia.


"Si Brengsek ini mau menggoda istri Khan!" Khan mendorong pemuda itu dengan kasar.


Mata Bunda Fatia melotot melihat putra sahabatnya yang kurang ajar. Bunda Fatia langsung melihat Bu Maya yang terlihat marah juga, "Tunggu dulu, Fat. Aku tanyakan kepada putraku!"


"Silahkan aku menunggu penjelasan setelah ini." Bunda Fatia melipat tangannya di depan perutnya.


"Apa yang kamu pikirkan, Bahar. Apakah kamu mau menggoda Kakakmu sendiri?"


"Maaf, Mama. Bahar kira itu putri dari Bunda Fatia juga. Bahkan Bahar sudah suka sama dia karena cantik alami."


"Kamu masih berani merayu istriku!" teriak Khan lagi.


"Tunggu Khan jangan marah, ini hanya salah faham. Maya, apakah kamu tidak bercerita tentang menantuku?"


"Maafkan putraku, Fat. Dia tidak bertanya, aku kira dia sudah tahu tentang putramu."


Khan meninggalkan mereka begitu saja dengan kesal. Sampai Khan melupakan harus mengambilkan sarapan untuk istrinya. Rasa cemburu telah membutakan pikirannya.


Bu Maya berteriak meminta maaf mewakili putranya. Bahar hanya diam saja terpaku karena syok dan kaget. Suka dengan gadis itu sejak pandangan pertama. Seolah tidak percaya bahwa dia sudah menikah.


Pak Misbah ikut emosi dan menasehati putranya unuk bersikap sopan. Meminta maaf berkali-kali atas nama putranya. Khan sama sekali tidak menggubris permintaan maaf mereka.


"Khan ... Mereka minta maaf, mengapa tidak di jawab, Nak?" tanya Bunda Fatia sambil berteriak

__ADS_1


"Ya ...!" Khan menjawab tanpa menengok kebelakang.


Sampai di depan kamar, Khan beru teringat tujuannya untuk mengambilkan sarapan Vefe. Karena emosi dan cemburu sampai lupa. Dengan kesal dia berbalik badan dan berteriak, "Pak Gun, tolong antar sarapan untuk Ve sekarang!"


"Siap laksanakan Tuan."


Khan masuk kamar dengan wajah yang di tekuk. Raut wajahnya seperti mendung yang akan turun hujan. Terlihat seperti anak kecil yang tidak kebagian permen.


Vefe sampai mentowel pipi Khan dengan gemas, "Kok wajahnya ditekuk begitu sih, Mas Bule Ganteng?" goda Vefe.


Khan bercerita sambil mengerucutkan bibirnya. Vefe tergelak saat mengetahui putra dari sahabat Bunda Fatia memnaggilnya dengan sebutan adik cantik. Bertambah tergelak saat Khan bercerita jika dia cemburu berat.


"Jangan cemburu, Mas. Ve hanya cinta untuk Mas Khan seorang." Vefe merayu sambil mengecup bibirnya sekilas.


"Mas sangat mencintai Ve," Yang awalnya ciuman sekilas sekarang menjadi rasa yang menuntut.


"Hhhm ...."


Khan terus bermain di sana dan langsung bergerilya tanda jeda. Rasa cemburu membuat hati Khan semakin ingin berpacu dan ingin kembali berburu. Khan terus mengulangi lagi saat Vefe mendorong sambil tergelak.


Khan melepas tautan dan mendengarkan samar-samar. Suara pemuda yang bernama Bahar berteriak, "Si brengsek itu yang mengetuk pintu, Sayang!" Khan turun dari tempat tidur dengan kesal.


Vefe langsung menarik tangan Khan dan memeluknya dari belakang, "Jangan marah terus. Ve dan bayi yang di dalam perut lapar, Mas!"


Khan mengambil napas panjang dan menghentikan langkahnya. Lupa jika ada bayi perlumendapatkan nutrisi yang lebih. Yang awalnya marah besar dia kembali berbalik badan dan berjongkok mencium perut Vefe dengan lembut.


Dalam membuka pintu Khan memeluk pinggang Vefe dengan erat. Membuka pintu ternyata ada Pak Gun dan Mpok Ria, serta Bahar yang berdiri di samping Pak Gun.


"Ini sarapannya, Tuan," kata Pak Gun.


Khan tidak menjawab perkataan Pak Gun, dia memilih melihat pandangan mata Bahar yang melirik Vefe, "Jaga mata kamu, aku colok matamu baru tahu!"

__ADS_1


"Maaf, Kakak Tuan, saya ke sini hanya ingin meminta maaf kepada Anda."


"Tapi jaga matamu, kamu mengerti?"


"Iya ...."


Bahar langsung menunduk tanpa berani memandang Vefe ataupun Khan. Pak Gun langsung masuk ke kamar Khan dan meletakkan sarapan di meja. Mpok Ria juga masuk membawa minuman jus alpukat dan susu hamil rasa vanilla.


Bahar tetap berdiri di depan pintu dan terus menunduk. Vefe ikut masuk ke dalam kamar. Sedangkan Khan masih memandangi Bahar dengan hati yang kesal.


Satu harian ini Vefe dan Khan hanya di dalam kamar saja. Rasa cemburu yang di rasakan sangat besar. Tidak rela istrinya dipandangi dengan penuh cinta oleh pemuda itu.


Vefe hanya menghabiskan waktu dengan tiduran dan melihat berita di televisi. Menghabiskan waktu untuk bermanja-manja pada suami. Khan juga seolah tidak ingin berpisah dengan istrinya.


Malam hari saat makan malam Bunda Fatia masuk kamar Khan, "Khan, Bunda masuk ya?"


"Iya Bun!"


Bunda Fatia duduk di samping kepala Vefe, membelai rambut Vefe dengan lembut, "Mengapa tidak mau keluar sama sekali dari kamar?"


Khan hanya nyengir kuda dan tidak menjawab pertanyaan Bunda. Antara cinta dan cemburu memang tidak bisa dipikir secara nalar dalam hati Khan saat ini. Tidak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang, hanya ada cemburu dan cemburu saja.


"Ayo makan dulu, setelah makan malam teman Bunda akan berpamitan pulang, jangan khawatir Bunda sudah menasehati si Bahar. Dia berjanji tidak akan macam-macam dengan Ve."


Khan dan Vefe mengikuti Bunda Fatia keluar kamar menuju ruang makan. Semua sudah duduk meja makan dengan rapi. Khan dan Vefe duduk satu deretan dengan Bahar agar dia tidak bisa memandang Vefe.


Mereka makan dengan diam dan tanpa ada suara. Hanya suara dentingan sendok dan garpu. Sampai makanan habis di piring mereka masih tetap masih terdiam tanpa kata.


Selesai makan malam Pak Misbah dan Bu Maya berpamitan pulang. Bersalaman satu persatu dan ada juga yang berpelukan. Bunda Fatia dan Bu Maya berpelukan dengan erat karena tidak mungkin bisa bertemu dalam waktu dekat ini.


Khan selalu memeluk Vefe dengan erat seolah tidak rela ada yang akan memandangi istrinya. Bahar mengulurkan tangan untuk bersalaman satu persatu. Meraih munggung tangan dan menciumnya dengan hikmat.

__ADS_1


Dari mulai Bunda Fatia. Pak Gun, Mpok Ria dan Khan. Saat sampai di hadapan Vefe Bahar tersenyum dan melihatnya dengan penuh kekaguman. Vefe memundurkan badannya menempel di badan Khan.


Hanya sayangnya Bahar memajukan badannya ingin menarik tangan Vefe dengan paksa. "Kakak cantik aku mau salaman!"


__ADS_2