
Vefe tersentak kaget mendengar ucapan wanita itu. Dia mengaku Khan adalah miliknya. Vefe semakin bingung setelah melihat wajah wanita itu terlihat marah dan cemburu.
"Apa hubungan Anda dengan Tuan Khan, Kak?" tanya Vefe mencoba untuk menenangkan hati.
"Dia itu calon suamiku, dulu Bundanya juga sudah merestui, tetapi dalam dua bulan ini ...?" wanita itu tidak melanjutkan ucapannya, dia memutari Vefe sambil memperhatikan penampilannya.
Wanita itu hanya menduga kemungkinan karena gadis yang ada di depannya penyebabnya. Bunda Fatia memutuskan tidak jadi menjodohkan putranya. Padahal perjodohan sudah berlangsung lebih dari dua tahun.
"Atau jangan-jangan karena kamu ya, Bunda Fatia membatalkan perjodohanku dengan Mas Khan?"
Kembali Vefe tersentak kaget mendengar perjodohan di batalkan. Yang di bahas wanita cantik dan seksi di depannya membuat hati terasa nyeri dan sakit. Vefe bingung harus berbuat dan bertanya apa kepada wanita yang ada di depannya.
Wanita itu semakin naik pitam karena Vefe tidak menjawab ucapannya, "Dengar ya gadis miskin, kamu seharusnya sadar diri dong, lihatlah penampilan kamu, dekil baju murahan wajah pas-pasan tidak pantas mendapatkan Mas Khan."
Vefe semakin bingung harus berbicara apa. Dia hanya terdiam dan termenung sambil membandingkan penampilannya dengan penapilan sendiri. Resepsionis keluar dari lobi mendekati Vefe yang terpaku, "Eno jaga mulutmu kalau bicara ya!" teriaknya.
Resepsionis mengusap lengan Vefe dan tersenyum manis, "Jangan dengarkan mulut Eno ya, Kak. Mulut dia itu mengandung rajun, bawa sini dokumen yang akan Anda sampaikan pada Tuan Khan!"
"Tidak apa-apa, Bu. Ini tolong sampaikan kepada Tuan Khan. Terima kasih saya permisi." Vefe memberikan kotak kecil yang berisi ATM black card yang sudah dibungkus rapi menggunakan papar bag.
"Kak, kalau boleh tahu nama Anda siapa?" tanya Resepsionis lagi.
Vefe berlalu tanpa menjawab pertanyaan resepsionis. Melirik wanita yang dipanggil Eno bertolak pinggang dan memandang dengan penuh kebencian, "Tidak perlu bertanya nama segala, minggat sana jangan kembali ke sini!" teriak Eno lagi.
"Tutup mulutmu, Eno. Kamu mau ngapain ke sini, kamu bukan karyawan karyawan pusat lagi?" tanya Resepsionis dengan kesal.
"Aku ditugaskan oleh kantor Surabaya untuk mengantar dokumen penting, Permisi pegawai rendahan di larang ikut campur!" Eno meninggalkan lobi dengan kesal.
"Dasar wanita sombong!"
Vefe menangis tersedu-sedu sambil duduk di jok motornya. Hatinya hancur berkeping-keping saat ini. Marah, kesal dan rendah diri itu muncul kembali.
Vefe merasa seperti kecolongan saat ini. Tidak pernah bertanya tentang masa lalu kekasihnya. Rasa cinta yang bergelora seperti membutakan pikirannya terbuai karena cinta.
__ADS_1
Pikiran Vefe kini menjadi tercabang dua antara cinta dan pengorbanan hati. Jika Kekasih sudah memiliki tunangan lebih baik mundur. Lebih baik tidak menemui dia untuk sementara.
Vefe teringat dengan penampilan wanita yang di panggil Eno. Dia sangat sempurna cantik, seksi dan elegan. Sedangkan dirinya berpenampilan apa adanya, tidak ada yang istimewa pada dirinya.
Pikiran Vefe saat ini hanya ada satu tekat yaitu mundur. Tidak ingin menjadi penghalang antara wanita yang menyebutnya tunangan. Aapagi sudah di jodohkan dan di restui oleh ibu dari kekasih hati.
Hampir setengah jam Vefe menangis. Mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan sambil menata hati. Dia langsung menonaktifkan ponselnya. Memakai helm dan melajukan motornya keluar dari area parkiran PT Kurnia.
Sampai pinntu gerbang keluar bersamaan mobil Asisten Satria masuk pintu gerbang. Dia melihat motor Vefe keluar dari perusahaan, "Itu Nona Vefe, ngapain jam segini ke perusahaan, Tuan Khan masih di rumah?" monolog Asisten Satria sendiri.
Asisten Satria langsung berlari menuju lobi setelah memarkirkan mobil miliknya seperti biasa. Ingin mengetahui keperluan kekasih hati tuannya datang ke perusahaan. Di lobi dia mendekati petugas resepsionis, "Selamat pagi, Bu."
"Selamat pagi, ini ada titipan untuk Tuan Khan dari seorang gadis."
"Dia memakai kemeja putih dan celana Jeans?" tanya Asisten Satria.
"Betul sekali, Pak."
"Maaf Pak, bukankah peraturan jika ada yang ingin bertemu dengan Tuan Khan harus membuat janji dulu?"
"Betul juga ya," jawab Asisten Satria dengan pelan sambil menerima kotak kecil.
"Saat saya bertanya namanya dia langsung berlari tanpa menjawab gara-gara kelakuan bar-bar si Eno."
"Apa ... Eno ke sini, gawat ini?"
"Eno ke sini mengantar dokumen penting katanya."
Asisten Satria menilnggalkan lobi tanpa menjawab cerita resepsionis. Pikirannya sudah menduga ada yang tidak beres. Dia langsung menuju ruang konrol security CCTV.
Harus mempersiapkan semua bukti sebelum menghadapi Eno dan menghadapi kemarahan tuannya. Pikirannya sudah bisa menebak apa yang di katakan Eno. Wanita yang terobsesi dengan Khan itu ternyata masih saja belum bisa menerima keputusan dua bulan yang lalu.
Emosi Asiten Satria sampai ubun-ubun saat melihat CCTV yang dilakukan oleh Eno terhadap Vefe, "Pak kirim rekaman CCTV itu sekarang ke posnelku!" teriak Asisten Satria dengan keras.
__ADS_1
Semua terkena imbas kemarahan Asisten Satria gara-gara Eno datang hari ini. Terutama karyawan yang menghadap atau bertemu langsung dengan Asisten Satria. Padahal selama Khan jatuh cinta dengan Vefe jarang ada kemarahan dari Khan ataupun Asisten Satria.
Yang karyawan tahu ini karena Eno seorang, mereka tidak mengenal Vefe. Tidak ada yang tahu Asisten Satria marah karena calon istri tuannya di bully habis-habisan oleh Eno. Kedaan sangat mencekam apalagi Khan datang tepat pukul sembilan di kantor.
Tidak ada yang berani menatap wajah Khan saat dia lewat menuju kantor. Semua tertunduk sambil membungkukkan badan, Seluruh karyawan sudah bersiap menerima perang dunia kedua saat ini di kantor.
Khan berjalan seperti biasa sampai kantornya. Dia heran melihat sikap karyawan yang biasa tersenyum ramah menyapa. Saat ini mereka menunduk tidak berani menatap ataupun mengagumi ketampananya seperti biasa.
"Apakah penampilanku saat ini tidak tampan?" monolog Khan sambil melihat penampilannya.
Khan terus berjalan menuju kantornya dengan perasaan hati yang aneh. Melihat para karyawan pagi-pagi semua tegang dan takut. Sampai di dalam kantor Asisten Satria berelari mendekatinya, "Tuan ...!"
"Ada apa?"
"Maaf, Tuan. Ini banyak sekali kesalahan pagi ini."
"Satria ada apa jangan buat aku bingung?"
"Ini silahkan Anda lihat sendiri!" Asisten Satria memberikan ponsel yang sudah posisi memutar rekaman CCTV bertemunya Eno dan Vefe.
Khan melihat rekaman CCTV yang ada di ponsel Asisten Satria. Matanya langsung melotot dan gigi yang mengerat menahan emosi. Jantung Khan seolah di hantam batu berton-ton beratnya.
"Brengs*k ... Praaaaang ...cring!" Ponsel Asisen Satria di lempar terkena tembok sampai pecah berkeping-keping.
"Aaduuh ... Ponselku," Asisten Satria lemas melihat ponselnya hancur.
"Di mana wanita itu seret dia ke sini!" teriak Khan dengan suara menggelegar.
BERSAMBUNG
Shobat Anna jangan lupa mampir ke novel temen yang rekomen ini kk, sambil menunggu KKJ up lagi nanti
__ADS_1