
Tidak hanya Vefe yang tersenyum bahagia. Khan juga langsung tersenyum menunjukkan giginya. Sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Pak Gun.
"Apakah Pak Gun suka sama Mpok Ria?" tanya Vefe.
Pak Gun tersenyum dan mengangguk. Dia masih berdiri di depan Khan dan Vefe. Menunggu Vefe bercerita tentang wanita dewasa yang dianggap ibu oleh Vefe.
"Mpok Ria sudah Ve anggap seperti ibu sendiri, dia memiliki kekurangan yaitu tuna rungu, apakah Pak Gun sudah mempertimbangkan terntang itu?"
"Sudah ...."
Pak Gun yakin?" tanya Khan gantian.
"Sangat yakin, semoga Tuan merestui dan langsung melamar dia."
"Aamiin," jawab Vefe.
Khan dan Vefe tergelak mendengar kejujuran Pak Gun. Sudah tidak sabar ingin cepat melamar dan menjadikan Mpok Ria sebagai istrinya.
"Apa sebaiknya tidak pendekatan dulu, Pak?" tanya Khan lagi.
"Tidak perlu, Tuan. Lebih baik langsung saja masalah diterima atau tidak itu urusan nanti."
"Baiklah ... Nanti malam kita ke panti asuhan."
"Terima kasih, Tuan."
Tanpa di duga dan tidak memberikan kabar terlebih dahulu. Bunda Fatia datang hari ini dari Manhatten. Mendapatkan kabar bahagia jika sebentar lagi akan mendapatkah cucu langsung pulang.
Bunda Fatia ingin mengetahui keadaan Vefe langsung. Kemarin Khan bercerita jika Vefe lemas dan pusing. Membuat Bunda sangat khawatir dengan keadaan menantu.
Khan seharian ini juga tidak ke kantor. Memilih menjaga Vefe yang masih lemas. Selalau memanjakan istirnya yang hanya tiduran dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Selalu menuruti apa yang di minta Vefe.
"Assalamualaikum ...!" teriak Bunda Fatia sambil mengetuk pintu kamar Khan.
"Mas ... Ve mendengar suara Bunda."
__ADS_1
"Walaikum salam ... Iya itu Bunda."
Khan berlari membukakan pintu dan langsung mencium punggung tangan Bunda Fatia, "Bunda sendirian?"
"Iya Bunda sendiri, Ayah masih banyak kerjaan, bagaimana keadaan putri Bunda?"
Vefe langsung duduk dan meraih serta mencium punggung tangannya, "Ve baik Bun."
"Apa yang di rasakan mual, pusing atau lemas?"
"Sekarang sudah lumayan enak kok, Bun. Tinggal pusingnya saja."
"Bagaimana dengan selera makan Nak Ve?"
"Ve malas mau makan, Bun. Dari kemarin hanya minum jus alpukat dan jus mangga saja." Khan ikut memberikan laporan.
Bunda Fati banyak memberikan nasehat seputar kehamilan. Bercerita saat Khan dalam kandungan. Bercerita juga masa kecil Khan sampai penculikan yang terjadi.
Vefe curhat tentang ketakutannya tentang masa kecil. Masa lalu yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tau kandung. Rasa bimbang karena terlalu cepat di percaya yang maha kuasa untuk memiliki momongan.
"Nak, seharusnya pengalaman masa lalu bisa di jadikan pelajaran hidup, cukup kita yang mengalaminya, tetapi keturunan kita harus lebih berbahagia, lebih baik nasibnya."
Vefe semakin bersemangat dan mulai tidak ragu lagi. Karunia yang sangat di syukuri setelah Bunda Fatia datang. Kasih sayang Bunda Fatia dan Umi Maryam sangat besar sebagai ganti ke dua orang tua yang tidak tahu rimbanya.
Khan juga bercerita tentang Pak Gun yang berniat melamar Mpok Ria. Karena Bunda Fatia datang, rencana lamaran Bunda Fatia dan Nina yang mempersiaapkan semua.
Sebelum datang Bunda Fatia menghubungi Umi Maryam. Bunda Fatia mengajak bertemu empat mata untuk membicarakan rencana awal lamaran. Mereka bertemu di restoran yang tidak jauh dari panti asuhan.
Awalnya Umi Maryam hampir tidak percaya jika Pak Gun menyukai Mbok Ria. Pasalnya dulu waktu Mpok Ria masih remaja banyak yang ingin menyuntingnya. Hanya saja banyak yang mundur karena keterbatasan Mpok Ria dalam mendengar.
Umi Maryam banyak bercerita tentang Mpok Ria yang sudah menyerah dan tidak ingin menikah. Ingin mengabdikan diri dengan anak-anak panti asuhan yang membutuhkan kasih sayang.
"Mungkin sekarang takdir Ria menjadi jodoh pengasuh Khan, Umi."
"Iya kali Bun."
__ADS_1
"Kami harap Umi merestui lamaran Pak Gun."
"Saya setuju saja sih, terseraah yang menjalankan saja."
Malam ini pukul delapan malam keluarga Khan datang ke panti asuhan lagi secara resmi. Melamar Mpok Ria untuk Pak Gun. Bahkan Mpok Ria tidak diberi tahu sampai rombongan Khan tiba.
Vefe datang membawa gaun malam sederhana tetapi terlihat elegan untuk Mpok Ria. Dengan bahasa isyarat Mpok Ria bertanya ada apa. Vefe hanya tersenyum dan meminta untuk memakai baju yang dibawa.
Pak Gun datang dengan berpenampilan memakai kemeja batik. Terlihat rapi rambut juga selesai cukur. Wajah yang lebih cerah dan berseri-seri.
Vefe memberikan sentuhan make-up tipis pada wajah Mpok Ria. Wajahnya yang hitam manis semakin terlihat bersih. Di tambah sepatu wedges menambah penapilan Mpok Ria terlihat sempurna
Keluar dari kamar berdua dengan Vefe. Awalnya keluarga sedang berbincang denga akrab. Mereka terdiam melihat Mpok Ria yang terlihat lebih manis.
Pak Gun semakin terpesona dengan penampilannya Mpok Ria. Kekagumannya semakin besar melihat wanita dewasa yang berejalan beriringan dengan Vefe. Semakin berdegup kencang debaran janyung.
Umi Maryam menepuk kursi di sampingnya untuk Mpok Ria duduk. Vefe duduk bersandar di samping Khan. Khan langsung melingkarkan tangannya di pinggang.
Umi Maryam langsung menceritakan maksud Pak Gun dengan bahasa isyarat. Mpok Ria langsung memandang Pak Gun yang dari tadi memandang tanpa berkedip. Tidak berani menatap lama setelah Mpok Ria mengetahi dia menatap dengan penuh cinta.
Mpok Ria melihat Vefe dan memberikan isyarat untik meminta pendapat. Vefe langsung mengatakan Pak Gun adalah laki-laki yang baik. Bertanggung jawab dan sangat bijaksana. Vefe mengatakan semua keputusan di serahkan kepada suara hatinya sendiri.
Umi Maryam menambahkan mengatakan merestui jika Mbok Ria menerima lamaran Pak Gun. Nantinya bisa tinggal dan menjaga Vefe dan calon bayinya. Karena dengan otomatis pasti mereka akan tinggal satu rumah.
Mpok Ria bertanya kepada Umi Maryam jika panti asuhan di tinggal. Nanti bagaimana dengan panti auhan. Bagaimana denga adik-adik yang berada di panti asuhan.
Masih ada yang membantu saelain Mpok Ria dan Vefe di panti asuhan. Umi Maryam meyakinkan untuk menerima lamaran Pak Gun. Sudah saatnya untuk Mpok Ria mengejar kebahagiaan sendiri.
Mpok Ria kembali memandang Pak Gun yang masih memandanginya. Dia langsung mengatakan dengan bahasa isyarat. Berniat untuk bertanya langsung kepada Pak Gun.
"Tentu ... Silahkan apa yang akan di tanyakan?" kata Pak Gun.
"Apakah kamu yakin?" tanya Mpok Ria dengan bahasa isyarat.
"Iya saya sangat yakin." Pak Gun menjawab ikut dengan bahasa isyarat yang baru di pelajari.
__ADS_1
Sekali lagi Mpok Ria bertanya, "Mengapa tiba-tiba melamar aku," tanyanha dengan bahasa isyarat lagi.
"Dengan mantap Pak Gun menjawab, "Karena aku jatuh cinta kepadamu!" Pak Gun memberikan lambang sarangheo dengan melnyilang jari jempol dan telunjuk.