Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 127. Berburu di Kamar Pengantin


__ADS_3

Vefe melotot melihat Bahar yang cengengesan masih ingin mendekati dirinya. Heran pada pemuda yang satu ini, tidak melihat yang didekati sudah berbadan dua. Dia tetap saja tertarik pada dirinya bahkan membuat Khan keki dan kesal.


"Lo minggat dari sini sebelum Mas Khan datang!"


"Kakak cantik jangan jutek, nanti hilang lo cantiknya."


"Sono minggat cepetan!" teriak Vefe dengan kesal.


"Yeee Bahar ke sini diundang oleh Emak, Kakak cantik tidak berhak mengusir Bahar dong!"


"Eee tetap ngeyel, terima sendiri akibatnya kalau Mas Khan datang, atau perlu Ve tendang sampai luar rumah ini?"


Bahar bukannya takut, dia malah tergelak sambil menggelengkan kepalanya, "Bahar ini hanya ingin menemani Kakak cantik, tidak berniat macam-macam. Kecuali kalau Kakak cantik mau diajak macam-macam sama Bahar."


Khan yang datang dari belakang dan mendengar kemarahan Vefe. Mendengar ucapan Bahar yang kurang memiliki etitut baik. Khan langsung meletakkan dua menu yang di minta Vefe di meja.


Khan langsung menarik cambang rambut Bahar yang ada di depan telinga, "Apa lo kata?" tanya Khan dengan nada kesal.


"Auw ... Sakit Mas Tuan?" teriak Bahar.


"Mengapa tidak kapok mendekati istri orang?" Khan semakin menarik rambut cambang.


"Auw ... Auw sakit Mas Tuan!" teriaknya lagi.


"Sekali lagi lo menggoda Ve, mau dicincang atau mau di kubur hidup-hidup?"


"Waduuh jangan kejam begitu dong, Mas Tuan. Bahar hanya berniat menemani Kakak cantik."


"Tidak perlu menemani dia, sono minggat!" Khan langsung mendorong Bahar untuk menjauh dari Vefe.


Dengan terpaksa Bahar harus meninggalkan Vefe .Dengan terus mengusap pipi samping yang ditarik oleh Khan tadi. Dia bergabung dengan teman-temannya lagi di meja yang ada di samping meja Khan.


"Ayo dimakan, Sayang!" Khan mendorong dua piring pesanan Vefe tetapi dengan wajah yang di tekuk.


Vefe tergelak sambil mentowel dagu Khan, "Mengapa wajahnya di tekuk begitu?"


"Tidak apa-apa," jawab Khan singkat.


"Ooo Mas cemburu ya, hayo ngaku?" Kembali Vefe tergelak sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.


"Hhmm ...."


"Jangan cemburu, Mas. Ve tidak salah lo, dari tadi dia sudah Ve usir, dasar dia saja yang masih ngeyel."

__ADS_1


"Lain kali jangan diajak bebincang pemuda tengil itu, jadi gede rasa dia!"


"Ok lain kali Ve tidak akan gobrol dengan dia lagi, tersenyum dong!"


Khan menunjukkan senyumnya yang terbaik. Menunjukkan giginya yang terlihat rapi. Sebenarnya tadi mendengar percakapan antara Vefe dan Bahar, tetapi hatinya tidak rela jika ada orang yang mendekati istrinya.


"Naah gitu dong tersenyum, Mas jadi ganteng," puji Vefe sambil tersenyum.


Khan menemani Ve menikmati hidangan dengan lahap. Sambil mengawasi tamu yang datang silih berganti. Tanpa di duga ada serombongan ibu-ibu yang mendekati mereka bersama Emak.


"Naaah dia ini saudara perempuan menantuku, Ibu-ibu!" Emak memperkenalkan Vefe kepada teman-temannya.


Ibu-Ibu sangat antusias menyalami dan mengusap perut Vefe yang sudah terlihat membuncit. Mereka banyak bertanya dan mendoakan kelancaran kelahiran Vefe. Vefe hanya tersenyum dan menyalami mereka satu persatu dan mengusapkan terima kasih.


Banyak yang mengenali Khan sebagai pengusaha muda yang memimpin perusahaan PT KURNIA. Sebelum ibu-ibu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Khan langsung melipatkan tangannya di dada.


"Assalamualaikum, Bu."


"Walaikim salam," jawab mereka serempak.


"Waaah Emak beruntung ya mempunyai keluarga seorang CEO," kata Ibu muda yang memakai baju pink .


"Seandainya aku jadi Emak, aku akan mengadakan perta besar-besaran karena mempunyai keluarga yang tajir."


"Seharusnya Emak mengadakan resepsi di hotel sepeti artis gitu, Mak."


Datang Daniel dengan berlari kecil mendekati Emak sambil melipatkan tangan di dada kepada Khan, "Emak dipanggil Bapak sekarang!"


"Iya Emak ke sana!"


Setelah Emak berlari menemui suaminya. Ibu-ibu membubarkan diri. Daniel kembali melipatkan tangannya ke dada, "Maafkan Emak Daniel ya, Mas."


Khan hanya mengangguk dan tersenyum sambil melirik Vefe. Tidak ingin merusak momen bahagia pasangan pengantin baru. Padahal dalam hati sedikit kecewa melihat sikap ibunya Daniel.


"Sana Abang temani Erin lagi, jangan biarkan dia menyalami tamu sendirian!"


"Iya ... Terima kasih."


"Maafkan Emak ya, Mas." Vefe juga ikut meminta maaf atas sikap Emak yang terlihat memanfaatkan situasi. Vefe juga ikut tidak enak hati karena membuat Khan tidak nyaman.


Khan tersenyum sambil mengusap pipi Vefe, "Makannya dihabiskan, tidak perlu merasa bersalah!"


"Iya ...." Vefe menikmati makan ayam geprek sambil melirik Khan.

__ADS_1


Vefe merasa ada yang mengganjal di hati suaminya saat Emak memanfaatkan situasi. Vefe berpikir keras agar Khan kembali tidak bad mood. Vefe teringat kakinya saat bengkak Khan merasa sangat khawatir.


"Mas ...aduh!"


"Ada apa, Sayang?"


Vefe tersenyum tipis saat melihat Khan spontan khawatir dan hilang bad mood nya, "Kaki Ve kok pegal, apakah karena terlalu lama digantung ya?"


Dengan spontan Khan jongkok mengusap kaki Vefe. Tanpa disadari oleh Vefe ternyata kakinya mulai membengkak lagi. Walaupun tidak besar seperti kemarin.


"Sayang, gajahnya datang lagi?"


Vefe langsung menengok ke arah bawah. Padahal tadi hanya berpura-pura ingin mengalihkan perhatian suami. Ternyata kakinya mulai membengkak lagi.


"Cuma kecil, Mas. Jangan khawatir."


"Tidak bisa dong, Sayang. Ini harus segera di berikan terapi rileks lagi, ayo pulang!"


Vefe tergelak sambil menggelegkan kepala. Bisa-bisanya mencari kesempatan dalam kesempitan. Selalu saja dihubungkan dengan berburu tidak tahu tempat.


"Idih Mas ini, itu cuma akal-akalan aja deh, mana ada dokter mengatakan kalau kaki gajah obatnya terapi rileks."


"Eee itu penemuan baru dari dokter cinta, itu adalah obat yang paling ampuh untuk mengusir gajah."


"Gombal ...."


"Tenang saja nanti obat terapi rileks akan Mas patenkan sebagai penemuan tercanggih milik Mas," canda Khan sambil tergelak.


Melihat Khan jongkok memeriksa kaki Vefe, Erina datang sendirian saat Daniel sedang berbincang dengan ayahnya, "Apakah kaki Ve bengkak lagi, Mas?"


"Iya nich," jawab Khan singkat.


"Ayo Ve istirahat di kamar Erin saja, di sana Ve bisa meluruskan kaki!"


"Di kamar Pengantin?" tanya Vefe.


Khan tersenyum devil mendengar Erina mengajak Vefe beristirahat di kamar Pengantin. Otaknya sudah penuh dengan terapi rileks akal-akalan yang dibuatnya sendiri. Bisa memanfaatkan situasi langka menggunakan kamar Pengantin untuk berburu.


"Ayo istirahat di kamar Erin saja, Sayang!"


"Ayo Ve!" ajak Erina.


"Eee ... tapi?"

__ADS_1


Khan menggandeng tangan Vefe sambil mengedipkan mata. Vefe sudah bisa membaca otak mesum suaminya. Berpikir cara agar suaminya tidak mengajak berburu di kamar Pengantin.


"Mas jangan macam-macam ya, itu kamar pengantin milik Erin," bisik Vefe di telinga Khan.


__ADS_2