
Doni Prawira mulai memahami apa yang dilakukan Khan. Wanita yang pernah mengejar Khan dan berakhir dalam pelukannya. Wanita itu pasti telah membuat Khan marah besar.
"Anak siapa sebenarnya yang kamu lahirkan, Nia?" tanya Doni Prawira masih meragukan teman main ranjangnya.
Sania Parwati terdiam dan meneteskan air mata. Teringat tiga bulan yang lalu saat berhubungan dengan ayah dari bayinya. Doni Prawira sering mengatakan melakukan bukan karena cinta tetapi melakukan suka sama suka.
Doni selalu bisa merayu dan mengajak Sania Parwati bermain di ranjang empuknya. Namun setelah puas dia akan pergi begitu saja tanpa kata. Hanya sekedar memuaskan hasrat tanpa memikirkan akibat di belakangnya.
"Kamu tidak punya mulut untuk menjawab?" tanya Asisten Satria kepada Sania Parwati yang terdiam dan berlinang air mata.
"Bang Doni adalah ayah dari putriku," jawab Sania Parwati dengan lirih.
"Mengapa kamu tidak menuntut pertangung jawaban dia?" tanya Asisten Satria.
Doni Prawira tersenyum devil mendekati Sania Parwati, "Kamu yakin itu putriku?"
"Semenjak berhubungan dengan Bang Doni, aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun, kalau tidak pecaya silahkan tes DNA!"
"Silahkan kalian selesaikan, ingat sekali lagi kamu melibatkan aku dalam masalah ini tidak cuma kalian berdua yang masuk penjara. Bisnis kalian akan aku hancurkan!" ancam Khan dengan penuh emosi.
Khan meninggalkan kamar ruang rawat inap dengan kesal, sampai pintu dia menghentikan langkahnya, "Satria ...!" teriaknya.
"Ya Tuan."
__ADS_1
"Pastikan Doni bertanggung jawab, jika dia menolak bertanggung jawab pailitkan perusahaan dia, kalau perlu hancurkan keluarga dia sekalian!"
"Dengan senang hati, Tuan." Asisten Satria tersenyum devil sambil melirik Doni Prawira yang tersentak kaget.
Doni Prawira sangat tahu kemampuan berbisnis Khan. Dengan mudah Khan bisa membuat perusahaannya gulung tikar jika mau. Perusahaannya berkembang sebagian besar karena kerja sama dengan dia.
Doni Prawira tidak ingin kerajaan bisnis yang dibangun terseok-seok seperti dulu. Dia akan lebih takut dengan ancaman Khan. Lebih memilih aman daripada perusahaannya gulung tikar.
"Ok ... Aku akan bertanggung jawab. Jangan sentuh perusahaan dan keluargaku!" teriak Doni Prawaira dengan suara lantang.
"Bagus ... Lakukan sekarang juga!" perintah Khan sambil berlalu meninggalkan ruang rawat inap milik Sania Parwati.
Khan langsung masuk di ruang rawat inap Vefe. Wajahnya tersenyum tidak menunjukkan kemarahan yang baru saja di tunjukkan di kamar sebelah. Mendekati Vefe yang sedang duduk meluruskan kakinya di branker tempat tidur.
"Assalamualaikum."
"Ve merindukan Mas ya, hayo ngaku?" tanya Khan sambil mengusap pipinya.
Mata Vefe langsung tertuju pada tangan Khan yang ada memar merah karena habis memukulii Doni Prawira, "Mas habis berkelahi?"
"Tidak ... Sayang."
"Ini tangannya lebam dan memerah kenapa?"
__ADS_1
Khan hanya nyengir kuda, tidak ingin bercerita tentang apa yang baru saja dilakukan pada sahabatnya. Tidak ingin membuat Vefe khawatir dan banyak pikiran.
"Ngaku saja, Mas. Jangan menyembunyikan apapun dari Ve!"
"Baiklah, Sayang. Mas baru saja memukuli Doni sampai babak belur."
"Bagaimana keadaan bayi perempuan itu, Mas?"
"Sekarang ini masih ada di inkubator."
Vefe terasa miris setelah Khan bercerita tentang Sania Parwati dan Doni Prawira. Terutama bayi yang baru lahir adalah perempuan. Seolah dirinyalah yang sekarang ini ada di posisi bayi itu sekarang.
Dalam dua jam Asisten Satria dibantu Wahono dan Aan selesai mempersiapkan pernikahan Doni Prtawira dan Sania Parwati. Pernikahan sah baik agama ataupun negara. Bahkan keluarga dari kedua belah pihak ada yang hadir dalam acara dadakan itu.
Khan tertidur pulas di samping baby Aaron saat acara akad nikah di kamar sebelah berlangsung. Bahkan Bunda Fatia dan Umi Maryam ikut hadir dalam acara itu. Hanya Khan yang enggan menghadiri karena beralasan sakit hati.
Vefe hanya menggelengkan kepala melihat Khan teridur pulas. Jika dipikirkan lagi, benar jika Khan marah besar. Dalam hati kecilnya juga tidak akan rela ada wanita lain mengaku istri dari suaminya.
Tanpa di sangka sepasang pengantin yang baru saja mengucapkan ikrar ijab kabul masuk ke kamar ruang rawat miliknya. Wanita itu duduk di kursi roda dengan memakai baju kebaya putih, "Mas Khan ...!" panggil Sania Parwati.
"Eeee ...!"
BERSAMBUNG
__ADS_1
jangan lupa mampir di novel milik temen author ya. ini rekomen banget lo di Novel Toon juga kok, trims