Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 23. Tanpa Konfirmasi


__ADS_3

Khan marah besar pagi ini gara-gara mendapatkan kiriman rencana pernikahan. Semua seperti sudah di tentukan oleh sang pengirim. Hanya tinggal mencetak undangan saja yang belum dilakukan.


Asisten Satria juga tidak mengetahui siapa pengiriman gelap itu. Semua nama kontak di ponselnya sudah di periksa satu persatu. Tidak ada yang cocok dengan nomor ponsel itu.


"Aku berikan kamu waktu satu jam untuk mengetahui siapa dia, laksanakan sekarang!" teriak Khan.


Khan tidak jadi sarapan pagi yang sudah disediakan oleh Pak Gun. Dia langsung meninggalkan ruang makan dan duduk di ruang keluarga. Emosinya seolah tidak bisa di kendalikan lagi.


Pak Gun bergegas membuat coklat hangat kesukaan Khan. Kali ini Pak Gun tidak hanya membuat satu gelas. Dia membuat dua gelas sekaligus untuk mengurangi tekanan emosi majikannya.


"Silahkan di minum dulu, Tuan!"


Khan langsung menghabiskan satu gelas coklat hangat dalam satu teguk. Meletakkan gelas sambil mengambil napas panjang. Semangat hari ini langsung hilang seketika enggan berbuat apa-apa.


Asisten Satria duduk di kursi meja makan membuka laptop dan ponsel sekaligus. Mencari informasi tentang seseorang yang telah mengirim rencana pernikahan. Dengan sekali klik di nomor ponsel pesan WA sudah di ketahui nama pemiliknya.

__ADS_1


Nama seorang laki-laki tanpa ada foto profil dari si pengirim. Asisten Satria mencari data di laptop satu persatu tentang keluarga, teman dan tetangga dari Bunda Fatia di Surabaya.


Dalam waktu setengah jam Asisten Satria bernafas lega. Si pengirim sudah di ketahui nama dan identitasnya. Tersenyum lega setelah jelas dan mengetahui kemungkinan tentang tujuan mereka.


Asisten Satria langsung berlari mendekati Khan, "Ini sudah ketemu, Tuan. Nama dan biodata lengkap orang yang mengirim pesan WA."


Khan membaca identitas orang yang mengirim pesan WA. Bernama Marsono kelahiran Surabaya berumur 54 tahun. Tetangga Bunda Fatia orang tua dari Retno Wulandari.


Marsono merencanakan untuk menikahkan Khan dengan Eno dua Minggu lagi. Dari gedung, pelaminan, rias pengantin dan lainnya sudah di pesan tanpa konfirmasi. Semua dilakukan sendiri secara sepihak.


"Tuan ... laptopku?" Asisten Satria mendekati laptop dengan berjongkok.


Tidak ada yang berani berucap sepatah katapun saat Khan sedang marah. Biasanya dia tidak pernah membanting barang jika sedang emosi. Kali ini sangat keterlaluan tindakan dari keluarga Eno.


"Satria, cepat kamu hubungi Bunda, aku pasti akan berdosa besar jika langsung menghubungi beliau, emosiku saat ini ada di ubun-ubun!"

__ADS_1


Khan kembali meminum coklat hangat kesukaan sampai tandas tidak tersisa. Membuka jas dan dasi langsung di lempar ke sembarang tempat. Mengambil kunci mobil dan meninggalkan tas kerja.


Khan langsung melajukan mobilnya membelah jalanan Ibu kota. Tanpa kata akan pergi ke mana. Tidak ingin orang yang ada di rumah menjadi sasaran amukan emosi yang semakin meninggi.


Asisten Satria menghubungi Bunda Fatia yang sedang berada di kampung halaman Ayah Jose. Menceritakan dengan gamblang kejadian yang terjadi. Menceritakan pula keadaan Khan saat ini.


Setelah Asisten Satria menghubungi Bunda Fatia. Di ketahui bahwa orang tua Eno juga tidak memberikan kabar tentang rencana mereka. Saat ini Bunda Fatia juga tidak kalah emosinya.


Asisten Satria juga bercerita jika saat ini Eno sedang berada di Surabaya. Ibu dari Eno mengalami kecelakaan. Bercerita juga Khan saat ini pergi menenangkan diri tidak diketahui tempatnya.


Bunda Fatia berjanji akan mengatasi masalah. Saat ini baik Bunda Fatia atau Asisten Satria menghubungi Khan. Hanya sayangnya ponsel miliknya di matikan saat ini.


Dua jam berlalu tanpa di ketahui di mana Khan. Bunda Fatia berkali-kali menghubungi Asisten Satria untuk bertanya keberadaan putranya, "Maaf Nyonya Bunda ... saya masih belum bisa menemukan Tuan," jawab Asisten Satria saat menerima telepon dari Bunda Fatia.


"Ya sudah ... Bunda pulang sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2