
Setelah mandi, tanpa sepengatahuan Vefe. Khan menghubungi Asisten Satria untuk bekerja lembur. Membeli tempat tidur yang lebih besar dari milik Vefe yang ada di panti asuhan.
Bukan tempat tidur big size, tetapi tempat tidur yang nomor dua. Hanya itu yang bisa di masukkan di kamar Vefe. Di tambah kipas angin yang besar untuk di letakkan di kamar. Tidak mungkin di pasang AC karena tidak ingin membuat adik-adik iri.
Hampir menjelang magrib, Asisten Satria sudah mengirim foto kamar Vefe yang baru. Terpaksa satu meja dan dua kursi di keluarkan dari kamar. Kamar Vefe semakin terlihat sempit.
Setelah magrib Khan dan Vefe datang ke panti asuhan. Di sambut oleh anak-anak yang merindukan Kakaknya. Dengan membawa buah tangan martabak telur dan martabak manis untuk mereka.
Berbincang dan bercanda dengan mereka dan Umi Maryam. Ada juga pengganti Mpok Ria yang suka masak bernama Bibi Kudri. Wanita paruh baya yang tidak memiliki keluarga.
Sejak awal datang, Vefe langsung berbincang tanpa masuk kamar. Setelah pukul sepuluh malam Vefe mengajak Khan masuk kamar, "Nanti Mas tidur dibawah ya!"
"Maksudnya Mas di bawah dan Ve ada diatas perut Mas gitu?"
"Ngawur aja ... Maksudnya Mas tidur di kasur cadangan di bawah, Ve tidur di atas karena tempat tidur Ve kecil."
"Mana bisa Mas tidur sendiri, Mas tidak mungkin bisa tidur tanpa memeluk Ve."
"Tetapi ...?" Vefe membuka pintu kamar dan tidak melanjutkan ucapannya lagi.
Khan hanya tersenyum simpul dan menggandeng tangan Vefe untuk masuk kamar. Kamar sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi.
"Ini pasti Mas yang merubahnya betul, 'kan?"
"Bukan Mas yang merubah, tetapi Asisten Satria." Khan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang hanya cukup untuk berdua.
"Ayo kemarilah!" Khan merentangkan tangannya sambil terlentang di tempat tidur baru.
"Mas yakin bisa tidur tanpa AC?"
"Itu ada kipas kalau panas, kalau dingin ada Ve yang bisa menghangatkan Mas sepanjang malam."
"Mauya modus aja!"
Vefe masuk dalam dekapan Khan, menenggelamkan wajahnya di dada. Bernostalgia di kamar kecil yang di tempatinya sejak kecil. Sambil berbincang bercerita masa sulit dulu berama keluarga besar panti asuhan.
Cerita yang awalnya sedih, terharu lama-kalamaan bercerita tentang cinta. Dilanjutkan dengan berburu karena kapak tomahawk terbangun setelah bercerita tentang cinta.
Ada yang berbeda saat Khan berburu di panti asuhan. Kini peluh mengalir deras bak hujan yang sedang membasahi bumi. Pengaruh tidak adanya AC membuat Khan harus bermandikan keringat.
Ada sensasi tersendiri saat kipas angin berputar ke seluruh ruangan agar tidak panas. Seolah Khan sedang menunggu angin yang datang. Sampai ke duanya menuju puncak nirwana sensasi yang dirasakan semakin indah.
__ADS_1
Khan tegelak tumbang di samping Vefe karena peluh sebesar jangung menetes di tubuh Vefe, "Aaah Mas keringatnya menetes di sini," kata Vefe dengan suara manja.
"Rasanya beda berburu di sini, Mas sangat menyukainya," goda Khan sambil kembali menempelkan tubuhnya agar keringat berpindah di tubuh Vefe.
"Iiiiih Mas ....!"
"Asyik ... Mas sangat suka, ada lengket yang menyatukan kita," jawab Khan sembil tergelak.
"Mas ... Jorok tahu!"
"Ha ha ha ...!" Khan mengulangi mulai bergerilya menelusuri area khusus milik Vefe.
"Jangan minta tambah berburu lagi, Ve tidak mau!"
"Ya sudah ayo mandi bareng deeeh!"
"Tidak bisa mandi bareng dong, Mas. Kamar mandi kecil. Ve dulu ya, Mas sih keringat di usap ke badan Ve semua," Vefe kembali menggerutu dengan suara yang manja.
"Iya sudah sana, I love you, Sayang."
"Hhmm ... Me too."
Vefe melenggang ke kamar mandi yang jaraknya hanya beberapa langkah. Bahkan polos tanpa penutup apapun. Perutnya sudah terlihat membuncit karena kehamilan hampir memasuki bulan yang ke empat.
Di kamar mandi Vefe hanya ada satu keran, satu ember dan satu gayung kecil. Mandi harus berjongkok dan menyiramkan menggunakan gayung ke badan. Tanpa ada air hangat aroma terapi seperti di sana.
Khan mandi sambil tergelak teringat saat masih kecil tinggal di pondok. Di sanapun sudah ada shower dan closet duduk. Di sini adanya closet jongkok dan bentuknya kecil di samping ember.
Khan hanya mandi tidak kurang lebih seperempat jam. Dia bergegas keluar karena airnya sangat dingin. Seperti menusuk tulang karena mandi hampir menjelang tengah malam.
Keluar kamar mandi dengan sedikit menggigil kedinginan, tangan di kepalkan bibir bergetar. Bergegas memakai baju dan langsung masuk di dalam selimut tebal.
"Airnya dingin ya, Mas?"
"Bukan dingin lagi, airnya seperti air es, Sayang."
"Sini Ve peluk, tetapi jangan berburu lagi ya?"
"Iya ayo tidur!"
Kali ini Vefe yang memeluk Khan, biasanya jika di kamar Khan. Dia akan selalu tidur dalam dekapan Khan. Terlelap sampai pagi tetap berpelukan.
__ADS_1
Pagi hari menjelang subuh, Vefe langsung mandi. Membangunkan suaminya yang masih terlelap meringkuk dalam selimut tebal. Dibangunkan setap saja masih merasa dingin.
"Mas ayo bangun!"
"Sayang, Mas masih dingin," jawab Khan di balik selimut.
"Ve sudah mandi lo, Mas. Kalau pagi segar banget airnya ... ayo mandi!'
Khan langsung menarik Vefe dalam pelukan. Baginya sangat dingin dari malam tidak juga hilang. Vefe menjadi kaget spontan sudah dalam kungkungan Khan.
"Aaah Mas, Ve mau melihat Bibi Kudri masak, coba cium baunya enak banget!" teriak Vefe.
"Baunya harum betul masak apa ini, Sayang?"
"Tidak tahu, sana mandi dulu!"
Khan menggelengkan kepala karena enggan untuk mandi. Menyentuh tubuh Vefe yang baru selesai mandi terasa dingin. Apalagi mandi pasti airnya dingin sekali.
"Mas cuci muka, sikat gigi dan wudlu saja ya, dingin banget?"
"Iiiiih habis itu langsung sarapan gitu?"
"he he he iya."
Pagi setelah sholat subuh, Khan menyusul Vefe yang berada di dapur. Bau semerbak masakan Bibi Kudri benar-benar menggugah selera makan, "Baunya harum banget masak apa sih, Bibi?" tanya Khan.
"Ini nasi goreng ikan asin dan petai."
"Ini bau harum ikan asin?" tanya Khan tidak percaya.
"Iya Nak, ini bau ikan asin di goreng." Umi Maryam juga meyakinkan Khan.
Selama ini Khan pernah merasakan bagiamana rasa ikan asin. Belum bernah menyaksikan langsung saat ikan asin di goreng. Baunya saja sangat menggugah selera.
"Mengapa bau harumnya tidak sesuai dengan rasanya ya, Umi?" tanya Khan penasaran.
"Maksudnya apa, Nak Khan?"
"Rasanya sangat asin padahal buanya harum sekali.
"Namanya ikan asin ya tetap asin, Nak."
__ADS_1
"Tetapi baunya sangat enak dan harum, seandainya hanya di goreng saja tidak perlu di makan bagaimana Umi?"