Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 53 Ada Minyak Goreng


__ADS_3

Khan berlenggang keluar kantor tanpa memperdulikan ocehan dan kekaguman para karyawan. Otaknya hanya membayangkan berdua dengan Vefe. Khan hanya meninggalkan pesan kepada Asisten Satria jika keluar cepat dari kantor.


Waktu baru menunjukkan pukul empat sore saat Khan keluar dari parkiran. Tidak ingin terlambat sampai Monumen Pancasila. Perjalanan yang sering macet lebih baik diantisipasi dengan berangkat lebih cepat.


Kurang sepermpat jam Khan sudah sampai di tempat yang di tunjukkan Vefe. Di lihat dari kejauhan Vefe masih memakai seragam silat. Masih melakukan interaksi dengan murid perguruan.


Khan hanya memandangi dari kejauhan gerak-gerik Vefe. Semakin hari hatinya semakin terikat dengan gadis belia itu. Rasa kagum dan tertarik dengan kemandirian dan sifat dewasanya padahal umur masih belia.


Khan melamun tanpa sadar Vefe sudah mengetuk pintu mobilnya, "Mas ...!"


"Ayo masuk, Ve!"


"Kita langsung masuk ke Monumen pancasila saja ya?" tanya Khan.


"Sudah tutup, Mas. Kita hanya bisa melihat monumen itu dari dari dekat saja tetapi pintu gerbang sudah di tutup."


"Jadi kita ke mana?"


"Ada kafe di dekat monumen itu, sangat ramai dan banyak di kunjungi oleh anak muda, Mas mau ke sana?"

__ADS_1


"Boleh, ke sana saja."


Baru duduk selama setengah jam di kafe yang sangat ramai pengunjungnya. Vefe baru selesai memberikan biodata anak-anak yang tinggal di panti asuhan Bunda. Dan baru akan menikmati hidangan menu spageti andalan kafe.


Khan mendengar suara sosok yang sangat di kenalnya. Sosok wanita berpenampilan seksi memakai rok mini. Baju merah tanpa lengan dan sepatu high heels warna senada. Dia masuk langsung menuju kantor kafe yang ada di samping dapur.


Khan melirik kearah wanita itu sambil menunduk tanpa menampakkan wajahnya. Sampai wanita itu tidak terlihat berjalan ke balik dapur kafe. Khan hanya bisa menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan.


Untung pemilik kafe Sanpar itu tidak melihat Khan duduk di pojok kafe membelakangi pintu masuk. Harus mencari akal agar tidak bertemu dengan wanita yang aneh itu. Yang diingat Khan adalah mobilnya. Kemungkinan Sania Parwati hafal dengan mobil dan nomor mobilnya.


"Ve ... Mas mau mau ke kamar mandi sebentar ya."


"Ya ... Mas, silahkan."


Di depan kafe tempat parkirannya tidak terlalu luas. Melihat ada mobil milik Sania Parwati berjarak lima mobil dari milik Khan. Kemungkinan Sania Parwati belum melihat mobilnya.


Khan kembali masuk kafe melewati pintu samping seperti keluar tadi. Kembali duduk di pojok kafe bersama vefe. Posisi yang awalnya membelakangi pintu utama. Khan memilih menghadap kearah pintu utama.


Tujuan Khan adalah jika Sania Parwati itu keluar dari kantor pemilik kafe. Dia bisa melihat dan langsung menutup wajahnya dengan menu daftar menu yang ada di meja.

__ADS_1


Makan sambil berbincang tentang banyak hal. Dari jualan online Vefe sampai cerita keseharian anak panti. Khan lebih banyak mendengarkan Vefe bercerita. Khan mendengarkan dan menanggapi sampil sesekali tersenyum dan melirik arah dapur.


"Mas, gantian cerita dong," kata Vefe.


"Cerita apa, Ve?"


"Cerita keluarga Mas atau masa lalu juga boleh."


"Hidup Mas tidak ada yang menarik, Ve. Selalu monoton, hanya sekolah kuliah dan bekerja."


"Cerita mantan atau pacar Mas Khan juga boleh."


Khan hanya nyengir kuda dan menggelengkan kepala, "Mas belum pernah pacaran apalagi mantan sama sekali tidak punya."


"Yang benar, Mas?"


"Benar dong, Ve. Mas tidak pernah bohong."


"Saat sekolah khususnya SMA di mana, mengapa tidak pernah pacaran?"

__ADS_1


"Mas mulai SD, SMP dan SMA itu di pondok, jadi yang belajar semua laki-laki."


Baru mendengar jawaban Vefe, Khan melihat ada Sania Parwati keluar dari kantor kafe bersama seorang wanita tak kalah seksinya. Khan menjatuhkan buku menu ke bawah meja, "Sebentar, Ve. Mas ambil buku menu dulu!"


__ADS_2