Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 105. Plin-plan


__ADS_3

Khan hanya menggelengkan kepala saat di minta pendapat cara mengatakan kebenaran kepada Kak Mur. Dia baru sekali jatuh cinta yaitu dengan Vefe. Langsung menikah dan tidak banyak pengalaman tentang cinta.


"Bro ... Mengapa minta nasehat padaku, aku juga tidak berpengalaman tentang wanita?"


"Setidaknya kami ada masukan harus bersikap bagaimana ?" tanya Aan.


"Kamu terus terang saja langsung jika suka sama Kak Mur, apa susahnya!"


Aan termenung mendengar jawaban Khan. Ada rasa takut jika ditolak oleh kak Mur. Pengalaman ditolak oleh wanita sudah sering dialami.


Tidak ingin kali ini gagal lagi untuk ke sekian kali. Hanya saja dia lebih menyukai Wahono, "Kalau dia lebih suka dengan Wahono, bagaimana?" tanya Aan lagi.


"Sekarang tanya dulu hatimu, apakah kamu sudah yakin?" tanya KHan lagi.


Aan mengerutkan keningnya, terlihat masih ada keraguan di matanya. Entah karena ada saingan teman dekat atau baru saja kenal. Melihat Wahono yang hanya terdiam tanpa kata, "Bro ... Mengapa malah melamun?" tanya Aan pada Wahono.


"Aku juga masih ragu sih, Bro. Takutnya jika suatu saat nanti suami siri si mantanku itu kembali ke Indonesia."


Khan ikut termenung memikirkan keraguan ke dua sahabatnya. Seharusnya mereka mempertimbangkan secara matang tentang keraguan mereka. Jika akan bemberikan saran juga harus di lihat dari sisi baik dan buruknya.


Khan belum sempat memberikan masukan untuk ke duanya. Masih ditimbang dan dipikirkan dengan matang. Vefe turun dari lantai atas dan langsung mendekati Khan, "Mas teman Ve mau berkunjung ke sini boleh ya?"


"Siapa sih yang akan datang, Sayang?"


"Si Erin, Mas. Dia kangen katanya lama tidak bertemu."


"Boleh saja ... Sayang. Ajak aja berbincang di dekat kolam atau di gazebo sana!"


"Terima kasih, Mas."


Vefe mengangguk menyapa Wahono dan Aan. Tersenyum dan meninggalkan mereka dan berlari ke depan. Erina sudah berdiri di samping security dan berbincang dengan Pak Bowo.


"Erin ...!" teriak Vefe.


"Ve ... Erin kangen banget!" teriak Erina sambil merantangkan tangannya.


"Sama Ve juga sangat merindukan Rin," jawab Vefe membalas pelukan Erina.


"Ayo kita masuk, Pak Bowo terima kasih."


"Sama-sama, Nona."

__ADS_1


Vefe menggandeng Erina masuk ke dalam rumah. Melewati tamu yang sedang berbincang dengan Khan. Erina langsung menyapa Khan, "Assalamualaikum Mas Khan."


"Walaikum salam, apa kabar, Rin?" tanya Khan.


"Alhamdulillah sehat, izin ngobrol sama Ve ya, Mas!"


"Tentu saja, anggap saja rumah sendiri."


"Terima kasih."


Saat Vefe dan Erina berjalan ke belakang. Sebelumnya mengangguk hormat dengan para tamu. Melewati mereka di samping sofa yang ada di depan Wahono dan Aan.


Mata Wahono dan Aan terbelalak melihat teman Vefe. Mereka langsung kesemsem dan terterik dengan gadis manis dan lugu. Wajahnya yang terlihat ceria sangat membuat mereka langsung tertarik.


Mata mereka berdua mengikuti langkah Erina sampai tidak terlihat. Matanya terbuka sempurna dan mulut menganga lebar. Seolah bukan hanya terpana tetapi langsung jatuh cinta.


Khan sampai menjentikkan dua jarinya agar mereka tersadar, "Kalian ini lihat gadis lewat saja seperti kucing garong yang mendapatkan ikan asin!" teriaknya.


"Bro gadis itu manis banget," kata Aan.


"Aku sangat suka kesederhanaan gadis itu, kenalin dong," pinta Wahono.


Khan tergelak mendengar ucapan mmereka. Baru saja bercerita sedang bingung dengan calon pasangan masing-masing. Ada gadis manis teman istrinya sekarang sudah goyah dan melupakan yang lama.


"Kalau dia mau sama aku, aku pilih dia saja deh," kata Aan.


"Tidak ... dia untukku saja." Wahono tidak mau kalah.


"Jangan macam-macam dengan dia, ngawur aja kalian ini, dia sudah punya tunangan," jawab Khan berbohong.


Wahono tersenyum devil, "Sebelum janur kuning melengkung masih bisa di rebut, Bro."


"Kalau perlu kita saingan lagi untuk mendapatkan gadis itu," jawab Aan tidak mau kalah.


Khan mengerutkan keningnya, Erina sudah seperti saudara kandung bagi Vefe. Tidak mungkin rela jika harus jatuh dalam pelukan bujang lapuk sahabatnya. JIka lebih memilih lebih baik bersanding dengan Daniel yang sepadan dan umur juga tidak terpaut jauuh.


"Awas kalian mendekati Erina, dia itu sudah aku anggap seperti adik sendiri. Kalian harus berhadapan dengan aku sebelum mendekatinya!" ancam Khan dengan tegas.


"Tega Banget sih, Bro!" teriak Aan.


"Sebaiknya kalian pulang saja sana!" usir Khan dengan kesal.

__ADS_1


"Ha ha ha ... Jangan marah, Bro." Wahono tergelak melihat Khan sewot.


"Jadi minta saran tidak ini?" tanya Khan.


"Baiklah katakan apa sarannya?" tanya Aan.


Khan mengatakan sebaiknya di selesaikan satu persatu. Harus berbicara secara dewasa dengan Kak Mur terlebih dahulu. Atau paling tidak pastikan hati Kak Mur untuk siapa?


Khan mengatakan walaupun kita berusaha sekuat tenaga. Jika memang bukan jodoh kita tetap tidak akan bersatu. Walaupun kita berusaha sampai titik darah penghabisan hanya Allah yangmenentukan.


"Berarti kita harus berbincang terbuka bertiga begitu maksudnya?" tanya Aan.


Terserah saja, yang penting kalian harus jujur dengan hati masing-masing. Yang terpenting yakinkan dulu hati dan pikiran."


Wahono dan Aan berpamitan pulang saat Wahono mendapatkan panggilan telepon dari Kak Mur. Wanita dewasa itu mengatakan sekarang ini ada di sasana tinju. Dia ingin bertemu dengan mereka berdua.


"Sana pulang, Mur sedang menunggu dua baut yang sedang kelayapan!" ledek Khan sambil tergelak.


"Baik kita pamit pulang," jawab Aan.


Saat mereka berdiri matanya jelalatan menuju arah belakang. Berharap bisa melihat Erina sebelum pulang. Hanya sayangnya mereka tidak melihat Erina sama sekali.


Yang dilihat ada wanita dewasa yang sedang yang sibuk memasak bersama Pak Gun. Mereka terlihat mesra berkomunikasi dengan cara berbeda. Wahono dan Aan saling pandang memberikan kode bertanya dengan kedipan mata.


Wahono dan Aan tahu betul jika dulu tidak pernah Khan menerima tamu seorang wanita. Sekarang ini sudah dua wanita yang dilihat mereka. Ini merupakan peristiwa langka karena pasti para wanita itu istimewa dalam keluarga Khan.


Khan yang menyadari apa yang mereka lihat langung melempar mereka dengan bantal sofa, "Apa yang kalian lihat, mata jelalatan saja?"


"Ternyata ada wanita istimewa lagi di sini ya?" tanya Aan.


"Kenalin dong, Bro!" Wahono melihat dia sambil mengedipkan mata.


"Kenalin mata lo peang, minggat sono!"


Wahono dan Aan terus memandangi arah dapur yang agak jauh, tetapi masih terlihat. Sedangkan yang diperhatikan tidak menyadari sama sekali. Mereka sedang berkonsenterasi masak tanpa memperhatikan para tamu.


"Eee apa kalian mau aku tendang, sono pergi!"


"Kenalin dia dulu dong, Bro. Dia lebih baik dari Mursida, jika disuruh memilih aku lebih cocok sama dia," kata Aan dengan penuh keyakinan.


"Dasar gila kalian ini, Dia itu istri Pak Gun."

__ADS_1


"Haaah!"


__ADS_2