
Khan tersenyum setelah dipanggil oleh Vefe. Dia melamun saat pesawat baru mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Sukarno Hatta. Karena harus bergantian turun dan menunggu membuat dia sedikit kesal.
Biasanya dia yang pertama kali turun saat menggunakan helikopter atau pesawat pribadi milik keluarga. Selalu mempersingkat waktu jika menggunakan pesawat sendiri. Bedanya sangat jauh setelah merasakan menggunakan pesawat komersil.
"Kok melamun lagi, Mas. Ayo turun!"
"Maaf ... Iya ayo!"
Setelah turun dari pesawat, sekali lagi mereka harus menunggu di area pengambilan bagasi. Dengan terpaksa harus berdesakan dan menunggu lagi. Berkali-kali Khan mengambil napas panjang karena pekerjaan menunggu adalah satu hal yang membosankan.
Apalagi saat Khan berdiri, di sebelahnya ada wanita seksi tersenyum mendekati Khan. Khan mundur dua langkah dan berdiri di samping Vefe, "Apakah sudah terlihat tas kita, Ve?" tanya Khan mencoba untuk tidak gugup dan tidak berkeringat dingin.
"Belum ... Mas, mungkin sebentar lagi."
"Asisten Satria baru saja pengirim pesan WA, dia sudah ada di depan pintu ke luar."
"Kami naik mobil online saja, Mas. Tidak enak merepotkan Mas Khan terus."
"Jangan dong, Ve. Memangnya makanan tidak enak?"
__ADS_1
"He he he ...."
"Bareng saja ya, toh kita satu arah ini?"
Vefe mengangguk dan tersenyum. Matanya melirik wajah Khan yang terlihat datar. Terlihat lelah dan sedikit pucat.
Wanita seksi yang tadi di sebelahnya kembali bergeser berjajar mendekati Khan. Mulutnya hampir terbuka ingin berrtanya sesuatu pada Khan. Khan memajukan badannya mendekati Gi yang menunjuk tempat bagasi, "Mas itu tas kita!"
"Gi mundur, Mas yang mengambilnya!"
Gi memundurkan badannya dan Khan meraih tas oleh-oleh baju pese'an. Wanita itu tergelak menengar percakapan Khan dan Gi, "Wajahnya bule mengapa dipanggil Mas?" monolog wanita seksi itu.
"Iya Ji, Mas saja yang mengambilnya." Khan kembali mengambil tas dari putaran bagasi.
Gi ... Ji tolong ambil troli yang di sana, kasihan Mas Khan kalau harus mengankat ke sana!"
"Baik ... Kak," jawab Gi dan Ji bersamaan.
Khan membawa dua tas besar dari area pemgambilan bagasi. Sekalian menghindari wanita seksi yang dari tadi memperhatikan dirinya tanpa henti. Datang Gi dan Ji yang mendorong troli berdua mendekati Khan dan Vefe.
__ADS_1
"Mas cepat letakkan tasnya, Gi dan Ji yang akan mendorongnya!" perintah Ji dengan riang.
Khan tersenyum sambil mengangkat dua tas besar. Keceriaan dua anak laki-laki yang lugu selalu bisa membuatnya bahagia. Bisa mengalihkan sedikit perhatian dari wanita yang selalu mengikuti.
"Ayo kita cepat keluar, Asisten Satria sudah menunggu kita!"
Gi dan Ji mendorong troli dengan gembira. Khan dan Vefe berjalan beriringan sambil berbincang. Tanpa diduga wanita seksi yang dari tadi memperhatikan menyusul dan berjalan di samping Khan.
"Pulangnya ke mana, Bang?" tanya wanita itu.
Khan bukannya menjawab, tetapi tersentak kaget. Wanita itu tiba-tiba datang dan langsung bertanya. Khan langsung memegangi dadanya dan berpindah di sebelah Vefe, "Astagfirullah!"
Vefe tergelak melihat Khan yang kaget dan menggeserkan badannya. Dia yang menjawab pertanyaan wanita seksi itu, "Kami akan pulang ke Jakarta Timur, Mbak."
Wanita seksi itu melambatkan langkahnya dan berjalan kembali mendekati Khan. Mencoba mensejajarkan langkahnya di samping Khan. Dengan spontan Khan menggandeng lengan Vefe.
Tangan Khan mulai mengeluarkan keringat dingin. Pikirannya seolah saat ini berada di kamar kosong dengan wanita yang telah menculiknya. Postur tubuh wanita itu seolah sama seperti wanita yang dulu menculiknya.
Vefe yang tidak mengetahui apa yang terjadi pada Khan. Kaget saat Khan memegang lengannya, dan sangat khawatir saat tangan Khan terasa dingin. Vefe mengira Khan sakit atau mungkin lapar, "Mas berhenti sebentar, mengapa badannya dingin?"
__ADS_1