
Hari ini adalah hari bersejarah buat Erina dan Daniel. Hari akad nikah ke duanya yang dilakukan dengan sederhana tetapi terlihat sakral. Acara diadakan di rumah Erina yang sekarang lebih bagus dan rapi.
Yang mempersiapkan semua adalah Umi Maryam dan Bibi Kudri. Dengan biaya semua di tangung oleh Khan. Undangan hanya teman dekat dan tetangga sekitar rumah saja.
Dengan mas kawin seperangkat sholat dan cincin tiga gram. Acara akad nikah berjalan dengan lancar. Di lanjutkan dengan acara resepsi dilakukan dengan sederhana pula.
Ada undangan yang datang sebagian adalah undangan orang tua Daniel. Yang awalnya hanya untuk keluarga sekarang ada banyak tetangga dari orang tua Daniel. Undangan yang tidak terduga lebih banyak daripada undangan yang ada.
Umi Maryam kelabakan takut kehabisan menu makanan. Sampai dia mondar-mandir karena tamu datang silih berganti. Membuat Umi Maryam semakin gelisah dan bingung.
Vefe dan Khan melihat Umi Maryam yanng terlihat sangat gelisah. Mereka langsung mendekatinya, "Ada apa, Umi?" tanya Vefe.
"Umi bingung mengapa tamunya banyak sekali, sedangkan menu makanannya terbatas."
"Umi mengenal para tamu yang datang?" tanya Khan.
"Umi tidak mengenal mereka sama sekali, kemungkinan mereka adalah tetangga dari orang tua Daniel."
"Bagaimana ini, Mas. Nanti kita akan malu kalau sampai kehabisan makanan di resepsi pernikahan Erin?"
"Jangan khawatir, Sayang. Mas pasti bisa mengatasi ini, Mas akan menyelidiki dulu dan akan bertindak dengan cepat."
"Jangan ada yang tahu ya, Mas!"
"Tentu saja, Ve duduk santai di sini temani Umi terlebih dahulu."
Khan medekati pasangan pengantin yang juga terlihat khawatir. Wajah mereka tidak terlihat bahagia layaknya pasangan yang baru saja melakukan akad nikah. Bahkan Erina bingung sambil sesekali berbisik di teling Daniel.
"Daniel, ada apa?"
"Maafkan Daniel, Mas. Ini salah Emak."
"Katakan cepat, biar Mas bisa mengatasi dengan segera!"
"Emak mengundang tetangga satu kampung tanpa bilang terlebih dahulu sama Daniel."
"Mengapa tidak bilang kalau menyebar undangan?" tanya Khan lagi.
"Ceritanya panjang Mas, tetapi intinya Emak pamer mempunyai menantu yang kakaknya orang kaya-raya."
Khan mengerutkan keningnya mendengar jawaban Daniel. Apa hubungannya kakak yang kaya raya dengan undangan tanpa konfirmasi. Selama ini tidak mengenal orang tua Daniel yang sebenarya karena baru pertemu beberapa kali.
__ADS_1
"Menurut kamu tetangga yang akan datang apakah masih banyak?"
"Belum ada separoh, Mas. jadi bagaimana ini, Mas. Daniel bingung?"
"Kalian jangan khawatir, Mas yang akan mengatasi."
"Maaf ya, Mas. Ini seperti dikasih hati masih meminta jantung, Daniel jadi tidak enak hati."
Khan tersenyum kecut mendengar jawaban Daniel. Ini bukan masalah uang seperti yang dibayangan oleh Daniel. Hanya kepercayaan dan komunikasi yang tidak terjalin dengan baik.
Erina telihat pucat wajahnya karena sangat ketakutan. Daniel bingung harus mengatakan apa pada emaknya. Dengan seenaknya dan tanpa konfirmasi mengundang tetangga satu kampung.
"Maafkan Erin, Mas. Erin takut ...!" Erina tidak sempat melanjutkan ucapannya langsung di potong ucapannya oleh Khan.
"Erin sudah dianggap saudara kandung oleh Ve. Pasti Mas akan melakukan yang terbaik untuk keluarga. Kalian jangan khawatir, semua akan teratasi dengan baik dan cepat."
"Terima kasih, Mas." Daniel dan Erina menjawab bersamaan.
Khan memanggil Asisten Satria dan Pak Gun. Memerintahkan mereka untuk memanggil pedagang yang ada di sekitar rumah Erin. Terutama pedagang yang menggunakan rombong dan bisa berpindah tempat.
"Berapa rombong yang harus di panggil, Tuan?" tanya Asisten Satria.
"Bakso, soto, nasi ayam geprek dan siomay."
"Cepat sana cari di sekitar sini saja!"
"Baik ... Tuan."
Hanya dalam waktu setengah jam empat rombong yang didaftar oleh Pak Gun datang satu persatu. Mereka datang dan berjajar di samping makanan prasmanan yang di buat oleh Bibi Kudri dan temannya. Rombong langsung di serbu oleh tamu yang tidak resmi.
Umi Maryam tersenyum lega setelah melihat ada rombong yang langsung datang. Belum sampai menu makanan prasmanan habis para pedagang sudah datang. Umi Maryam bersyukur karena terhindar dari rasa malu.
Khan duduk mendekati Vefe setelah semua masalah selesai, "Semua sudah beres, Sayang."
"Sebenarnya apa yang terjadi, Mas?"
"Mas juga tidak seberapa faham, yang jelas kata Daniel Emaknya yang mengundang tetangganya tanpa memberitahu terlebih dahulu."
"Ooo ...."
"Kok jawabnya cuma O saja?" tanya Khan heran.
__ADS_1
Vefe tersenyum teringat dengan emak yaitu ibu dari Daniel. Vefe sangat mengenal sifat dan karakter emak karena sudah mengenalnya sejak dia kecil. Emak suka sekali bergospi dengan tetangga dan hobinya selalu suka pamer.
"Emak itu sukanya bercerita dengan di tambah-tambahin gitu, Mas."
"Maksud Ve suka pamer?"
"Iya, orangnya antik dan omongannya banyak."
Vefe bercerita emak dulu saat masih muda adalah seorang anak tuan tanah dari keluarga betawi. Orang tua dari emak menjual tanahnya sedikit demi sedkit untuk keperluan hidup. Karena mereka enggan bekerja, hanya menikmati hasil tanah yang di jual sedikit demi sedikit.
Sampai sekarang emak masih menganggap dirinya anak tuan tanah. Dia sering pamer kepada tetangga dan sering menyombongkan diri. Padahal sekarang ini keluarga sudah tidak memiliki tanah yang luas seperti dulu.
Vefe menebak pasti Emak bercerita kepada satu kampung jika menantunya memiliki saudara yang kaya raya. Pasti terpancing saat tetangga meremehkan jika ceritanya pasti bohong. Dengan spontan mengundang mereka agar mereka tahu jika ceritanya itu benar.
Emak keseharian sebagai ibu rumah tangga dan memiliki banyak waktu luang untuk bergosip dengan tetangga. Terutama saat pagi hari berbelanja sayur pada abang sayur datang.
"Ve juga sering di ceritakan oleh Emak begitu?" tanya Khan.
"Iya ... Emak itu selalu cerita kepada siapapun, bahkan pada orang yang baru di kenalnya."
Vefe sudah menikmati nasi prasmanan dengan lauk daging bumbu lada hitam. Saat melihat rombong berbagai jenis makanan rasanya air liur menetes. Khan langsung bisa menebak jika istrinya menginginkan makanan salah satu rombong yang berjajar.
"Ve lihat rombong, 'kan?"
"Iya dong jelas berjajar begitu."
"Ve pingin apa nanti Mas ambilkan?"
"Apakah boleh Ve meminta dua menu?"
Khan mengusap perut dan bergantian Bibi Vefe dengan penuh cinta, "Jangan cuma dua, empat juga boleh, ayo katakan mau yang mana!"
"Siomay dan ayam geprek, tetapi tanpa nasi ya, Mas."
"Baiklah Mas ambilkan, Ve di sini saja, ok!"
Khan meninggalkan Vefe duduk sendiri. Umi Maryam sedang melihat kue atau buah yang terlihat tinggal sedikit. Vefe memilih berkonsentrasi dengan bermain ponsel sambil menunduk.
Datang pemuda yang langsung duduk di depan Vefe sambil cengengesan, "Hai Kakak cantik, mengapa duduk sendirian. Boleh dong ditemani?"
"Eeee ngapain kamu ke sini?"
__ADS_1