
Hari terakhir di Singapura, Khan sangat memperhatikan penampilan Vefe. Tidak ingin seperti Kak Mur yang memakai pakaian dengan warna yang menabrak. Seolah matanya silau milihat penampilan istri dari sahabatnya.
Kak Mur memakai celana bunga-bunga besar. Kaos berwarna merah menyala. Dan blazer garis-garis horisontal yang berwarna-warni.
Khan berbisik di telinga Vefe, "Sayang coba tebak, Kak Mur memakai CD yang berenda kemarin itu tidak?"
Vefe langsung mencubit lengan Khan dengan kesal. Suaminya usil dan mengometari penampilan Kak Mur. Apalagi dia membayangkan Kak Mur memakai CD seksi yang kemarin dibelinya di mall.
"Aaauw ... Mengapa dicubit, Sayang?"
"Mas sedang membayangkan Kak Mur pakai CD ya?"
Khan tercengang dan kaget mendengar pertanyaan Vefe. Awalnya bertujuan untuk melawak agar istrinya tersenyum. Hanya sayangnya pikiran lugu istrinya justru berpikiran negatif.
"Bukan membayangkan Kak Mur, Sayang. Maksud Mas itu ingin tebak-tebakan."
"Tidak ... Ve marah dan cemburu." Vefe meninggalkan Khan begitu saja.
"Sayang ... Maaf, mati nanti Mas kalau Ve marah!" teriaknya sambil berlari menyusul Vefe.
Vefe keluar villa bergabung dengan rombingan yang sudah siap-siap untuk pergi ke bandara Changi. Rombongan sedang menunggu bus yang masih dalam perjalanan. Khan langsung menggandeng tangan Vefe sambil menunjukkan wajah yang sedih.
Vefe sengaja melihat ke arah lain dan masih merajuk. Khan memegang dagu Vefe dengan wajah yang memelas, "Sayang ...!"
Vefe bergeser sedikit dengan mengalihkan pandangan. Wajahnya cemberut dan ditekuk. Bahkan mengerucutkan bibirnya karena masih kesal dengan apa yang ada dipikirkan Khan.
Khan ikut bergeser dan tetap menggenggam tangan Vefe. Mencoba tersenyum walau hatinya sedih dan takut jika Vefe marah. Khan mengeluarkan senjata terakhirnya untuk merayu Vefe, dia langsung berjongok dengan menyilangkan jari jempol dan telunjuk simbul tanda cinta.
"Eee Mas!" teriak Vefe kaget melihat suaminya jongkok.
Rombongan terpada melihat ke Khan yang berudaha keras menaklukkan istrinya yang merajuk. Khan terlihat sangat romantis dan mencintai Vefe. Dia rela berjongkok demi mendapatkan maaf dari pujaan hati.
"Bangun Mas!"
"Tidak mau sebelum Ve memaafkan, Mas."
"Iya ... Ve maafkan Mas, tetapi ingat jangan diulangi lagi!"
"Iya ... ampun, Mas tidak akan mengulangi lagi."
Tanpa malu-malu Khan langsung memeluk Vefe dan mencium pipinya di semua wajah. Vefe jadi tergelak karena geli diciumi diseluruh wajah. Apalagi banyak yang menyaksikan tingkah Khan yang sangat terlihat romantis.
__ADS_1
Bus datang bersamaan Khan berhenti menciumi wajah Vefe. Ternyata ada mobil bermerk di belakang bus. Sopir dari mobil itu langsung mendekati Khan, "Tuan, silahkan Anda dan Nyonya ke mobil!"
Khan langsung tersenyum, "Siapa yang menyiapkan mobil itu?" tanya Khan.
"Ini bonus dari pemilik villa untuk Anda, Tuan."
"Terima kasih."
Khan langsung tersenyum dan memandangi wajah Vefe yang bingung dan heran, "Ayo Sayang!" Khan menyatukan jemari tangannya dengan sempurna.
Vefe mengangguk dan tersenyum mengikuti langkah Khan masuk mobil. Duduk berdampingan di belakang sopir yang mulai melajukan mobilnya. Khan menciumi punggung tangan Vefe berkali-kali.
"Mas kenal pemilik villa itu?" tanya Vefe.
Khan menjawab dengan menggelengkan kepala. Tidak mengenal pemilik Villa sama sekali. Kemungkinan karena pembayaran penyewaan villa sudah lunas sesaat akan meninggalkan villa.
"Mengapa pemilik villa memberikan bonus dengan jemputan mobil mewah?" tanya Vefe lagi.
"Mas juga tidak tahu, Sayang."
Vefe mengerutkan keningnya, masih heran dan tidak habis pikir. Rasanya sangat aneh tiba-tiba saat terakhir pulang di antar dengan mobil bagus. Vefe tahu penjemputan itu tidak ada di daftar dalam pemesanan villa.
"Sayang, jangan berpikir macam-macam. Mas tidak mengenal pemilik villa."
Khan gemes dan kembali mencium punggung tangan Vefe dengan mesra, "Tujuan babymoon itu membuat ibu dari calon putra Mas itu bahaga, Mas jadi merasa gagal mau pulang membuat Ve marah."
"Eeee Ve bahagia kok, Mas. Jangan berpikir macam-macam!"
"Tidak ... Mas berpikir hanya satu macam saja!" Khan mengikuti perkataan Vefe.
"Mengapa Mas menirukan perkataan Ve?"
"Tidak apa-apa sih, apakah perlu diulang babymoon lagi, Sayang?"
Vefe tersenyum dan gantian mencium punggung tangan Khan dengan lembut. Wajahnya tidak di tekuk lagi, "Kita pulang saja, tidak perlu diulang. Ve marah karena tidak rela saja Mas membayangkan yang tidak-tidak. Ve maunya Mas hanya membayangkan Ve saja."
Khan tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Sumpah ... Tadi Mas tidak membayangkan seperti yang Ve tuduhkan."
"Ingat Mas Khan itu hanya milik Ve seorang!"
"Iya ... iya, itu pasti."
__ADS_1
Tangan Khan langsung melingkar di pinggang Vefe. Di dekapnya dengan erat tubuh Ve dan mencium keningnya dengan mesra, "Mas sangat takut kalau Ve marah."
"Mengapa takut?"
"Mas teringat saat Ve tidak mau menemui Mas seperti dulu."
"Situasinya sudah beda dong, Mas. Kita sudah menikah sekarang."
Khan mengangguk karena jawaban Vefe, "Tetap saja Mas takut, apa jadinya Mas tanpa Ve."
"Mulai deh gombalnya."
Sambil tergelak Khan mengusap pipi istrinya, "I love you, Sayang."
Vefe teringat Freya saat Khan mengucapkan cinta dengan bahasa Inggris. Biasanya dijawab oleh gadis kecil itu dengan bahasa jawa timuran, "Aku yo tresno kon, Mas." Suara Vefe terdengar kaku.
Khan semakin tergelak mendengar bahasa Vefe yang terdengar kaku, "Yo opo rek, kuaku tenan suarane?"
"Apa itu artinya, Mas?"
"Nada suara Ve masih kaku mengucapkan bahasa jawa timuran." Ve hanya nyengir kuda dan tidak menjawab ucapan Khan.
Sampai di bandara Changi Khan dan Vefe belum melihat rombongan bus tiba di bandara. Mereka menunggu di ruang tunggu khusus. Biasanya mereka di sediakan ruang tunggu khusus bagi pesawat pribadi.
Fasilitas ruang tunggu untuk pesawat pribadi sangat mewah dan megah. Ada fasilitas lengkap dari restoran, ruangan karaoke, private room juga ada. Sangat nyaman dan memanjakan penggunanya.
Khan mengajak Vefe masuk ke private room untuk bisa beristirahat dengan leluasa. Bisa merayu dan modus agar suasana lebih cair karena Vefe terkadang masih jutek karena gara-gara CD. Sambil memesan camilan ringan khas Singapura yaitu garret popcorn.
Vefe membuka galeri foto melihat maternity photoshoot sambil tersenyum. Foto itu memperlihatkan perutnya yang membuncit. Terlihat lucu dan unik jepretan fotografer handal.
Sambil melihat foto-foto mulut Vefe tidak berhenti mengunyah karena di suapi oleh Khan. Camilan olahan jagung yang renyah membuat mulut tidak berhenti mengunyah.
Tanpa terasa hampir setengah jam Khan dan Vefe menunggu. Vefe mulai gelisah kereka tidak ada kabar. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan di perjalanan.
"Mas ... Mengapa meraka lama sekali?"
"Sebentar, Sayang. Mas hubungi Asisten Satria."
Khan mengambil ponsel yang ada di kantong. Menunggu beberapa saat telepon langsung tersambung, "Halo, sudah sampai mana, mengapa lama sekali?"
" ...."
__ADS_1
"Apa?"