
Senyum Eno, Kedua orang tua dan keluarga besar mengembang saat mendengar suara sirine. Mereka mengira suara sirine itu adalah rombongan pengantin pria dan keluarga. Dikawal polisi agar perjalanan lancar dan tepat waktu.
Sayangnya alam dan takdir berkata lain. Yang datang pihak kepolisian gabungan dari Jakarta dan Surabaya. Tanpa janjian datang juga rombongan ibu-ibu sosialita dibelakang mobil polisi.
"Selamat pagi," sapa Komandan Polisi yang memimpin rombongan.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya Pak Marsono ayah kandung Eno.
"Maaf ... kami dari kepolisian gabungan antara Jakarta dan Surabaya, kami mau konfirmasi apakah di sini acara pernikahan saudara Toni Prawira?"
"Benar sekali, Pak. Dia calon menantu kami."
"Di mana saudara Toni Prawira sekarang, Pak?"
"Kami juga menunggu dia datang, Pak."
"Betulkah, informan kami mengatakan dia sudah berada di sini. Apakah kami boleh menggeledah tempat ini?"
Pak Darsono bingung dan terpaku. Tidak ada yang menyangka tentang kedatangan gabungan polisi. Eno dan ibunya mulai menangis dan bingung, suasana menjadi lebih tegang.
Asisten Satria langsung berdiri mendekati Komandan Polisi, "Tunggu dulu, Komandan. Apakah kami boleh tahu mengapa gabungan polisi mencari calon mempelai pria yang juga kami tunggu kedatangannya dari kemarin?"
"Saudara Toni Prawira telah menggelapkan dana sosial untuk bencana alam dan dana kesehatan dari beberapa perusahaan sebesar 1,5 triliun."
Seketika suara berisik dari para tamu, keluarga dan tetangga. Banyak suara sumbang yang terdengar bersahutan. Ditambah dengan ibu-ibu sosialita yang langsung mendekati Komandan Polisi.
"Pak Komandan, kami ibu-ibu sosialita juga ingin bertanya kepada mempelai wanita tentang arisan dan koperasi yang belum dibayarkan!" teriak Tante Suprapti.
"Tunggu ... kita selesaikan satu persatu ya, Bu. Silahkan nanti ibu laporkan secara resmi ke kantor polisi!" perintah Wakil Komandan.
Eno semakin tergugu memeluk Emy Suratmi. Ibu Eno juga menangis sambil memeluk Emo dan Emy. Para tamu semakin riuh dan banyak yang berkomentar dan seolah mengejek.
__ADS_1
"Silahkan geledah tempat kami, Pak. Namun bisa saya pastikan saudara Toni Prawira belum datang sampai sekarang," kata Pak Marsono dengan tegas.
"Ini surat penangkapan resmi dari pihak berwajib. Maaf bukan kami tidak percaya, tetapi kami harus mengikuti prosedur."
"Tentu ... silahkan!"
Selama polisi menggeledah rumah Pak Darsono. Tidak ada yang boleh keluar atau pulang dari rumah tempat hajatan. Akan dituduh melindungi atau mendukung buronan jika melanggar.
Sambil menunggu anak buahnya mencari target, komandan polisi kembali menjelaskan kepada Asisten Satria. Toni Prawira adalah bendahara sebuah organisasi sosial yang diadakan oleh beberapa perusahaan. Sekitar dua minggu lalu mereka menggalang dana untuk bencana alam dan kesehatan karyawan.
Saat Toni Prawira menggelapkan dana diketahui melewati rekening milik Eno. Sehingga hari ini tidak hanya Toni Prawira yang akan ditangkap. Eno juga akan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Sambil menangis tersedu-sedu Eno menjawab, "Maaf Pak Komandan, kami membuka tabungan memang atas nama saya, tetapi ATM dan buku yang memegang Bang Toni."
"Arisan dan koperasi kami juga kamu jadikan satu di sana, Jeng Wulan?" tanya salah satu Ibu sosialita yang berdiri disamping Tante Suprapti.
"Benar sekali, Bu. Saya tidak memegang uang itu sepeser pun," jawab Eno sambil menunduk.
"Jadi uang kami, kamu gunakan untuk pesta pernikahan mewah ini?" Salah satu Ibu sosialita bertanya dengan berteriak.
Suasana semakin riuh dan bertambah berisik karena pengakuan Eno yang mengejutkan. Selama ini banyak yang menyangka Eno telah menjadi kaya raya karena menggelar pernikahan super mewah. Sayangnya ternyata hasil korupsi dan menggelapkan dana dengan jumlah yang fantastis.
Setelah setengah jam berlalu, anggota polisi gabungan selesai menggeledah rumah. Mereka kembali dengan tangan kosong. Tidak ditemukan target yang dimaksud yaitu Toni Prawira sang calon mempelai pria.
"Maaf ... Pak, dengan terpaksa calon pengantin wanita harus ikut kami ke kantor!" kata Komandan Polisi.
Seketika Ibu Eno menangis dengan sekencang-kencangnya. Berbanding terbalik saat ini keadaaanya. Kemarin dengan tersenyum penuh kebanggaan memamerkan calon menantu.
"Pak ... jangan tangkap putriku, apakah ini berarti Eno gagal menikah? Aduuh Jeng Fat... Nak Khan tolong Eno!" teriak Ibu Eno dengan menyatukan dua tangan di dada.
"Bu ... sabar dulu, jangan teriak-teriak!" bentak Pak Marsono pada istrinya.
__ADS_1
"Bu ... sabar," kata Emy Suratmi mengusap pundaknya.
"Bagaimana ini, Nak Emy. Ternyata kamu benar?"
Emy Suratmi hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan ibu dari sahabatnmya. Sudah dua minggu yang lalu sebenarnya sudah memperingatkan Eno. Jika laki-laki yang menjadi kekasih dan calon suami yang jarang disebut namanya hanya seorang penipu ulung.
Emy Suratmi pernah menasehati Eno berkali-kali agar jangan menikah dengan Toni Prawira. Dia pernah melihat laki-laki itu berdua dengan May di apartemen. Mereka memiliki hubungan terlarang dibelakang hubungan resmi dengan Eno.
Hanya sayangnya Eno tidak percaya dengan cerita Emy Suratmi. Cinta Eno jusru semakin besar setelah mereka membuka rekening bersama. Awalnya buku rekening dan ATM hanya Eno yang memegang. Setelah rencana pernikahan sudah dipastikan, ATM dipegang oleh Toni Prawira dengan alasan untuk memudahkan membayar semua keperluan pernikahan.
Sekarang sudah dipastikan Toni Prawira tidak mungkin datang. Sudah ketahuan dia telah membawa uang yang sangat besar. Jika dibandingkan dengan uang yang dikeluarkan untuk pesta pernikahan tidak ada sepersepuluhnya dengan uang yang dibawa lari.
"Dari kemarin sudah gue bilang kalau laki-laki gila itu ada main dengan May, elo kagak percaya sih," kata Emy Suratmi sambil memeluk Eno yang masih menangis tersedu.
Vefe mendengar perkataan Emy Suratmi yang lirih kepada Eno. Karena kebetulan Vefe duduk tepat di samping dia. Vefe langsung teringat cerita Tante Suprapti tentang wakil Eno yang saat ini sedang healing di Belanda.
Kata Tante Suprapti melihat postingan May yang sedang berdua dengan seorang laki-laki. Namun laki-laki itu hanya terlihat punggungnya saja. Kemungkinan besar laki-laki yang dimaksud adalah Toni Prawira.
Vefe langsung bercerita sekilas kepada Khan. Kemudian Khan langsung mendekati Asisten Satria dan komandan polisi. Agar cepat ditindaklanjuti penemuan itu.
"Apakah Anda yakin jika dia berada di Belanda, Tuan?" tanya Asisten Satria.
"Lebih baik, Komandan bertanya kepada Ibu-ibu sosialita rombongan Tante Suprapti!" perintah Khan.
Satu persatu ibu-ibu sosialita dimintai keterangan saat itu juga. Mereka membenarkan dan menunjukkan postingan May di media sosial. Dengan capat pihak yang berwajib berkoordinasi kepada seluruh jajarannya.
Pengakuan Eno hanya lisan dan tidak disertai dengan bukti. Sesuai dengan hukum dan praduga tak bersalah. Dan Sesuai dengan surat perintah, saat ini juga Eno harus di tanggap.
"Maaf dengan terpaksa kami harus membawa mempalai wanita ke Jakarta hari ini juga," kata Komandan Polisi.
BERSAMBUNG
__ADS_1
jangan lupa mampir di novel teman author yang rekomen banget ini ya, di novel toon juga kok, trims