
Hampir tiga jam berlalu Khan menunggu baby Aaron tidur. Bayi Gembul itu selalu mengajak bercanda dan tertawa renyah. Seolah dia tahu apa yang akan dilakukan papinya. Setiap Khan ngomel dan tidak sabar ingin beraksi selalu saja baby Aaron tergelak dan tertawa renyah.
Penantian lama sebanding dengan hasil yang didapat. Setelah baby Aaron terlelap hampir tengah malam. Khan bisa beraksi hampir menjelang pagi hari. Aksinya lagi dan lagi tanpa jeda seolah tidak merasakan lelah dan kantuk.
"Cukup dong, Papi. Kayak gajian aja di rapel, tidak bisa beraksi cuma satu minggu, mengapa sekarang tambah terus?"
Khan tergelak sambil mengusap bibir Vefe, "Mami sih terlalu memabukkan, jadinya Papi kecanduan Mami."
"Gombal, ayo tidur sebentar!"
"Baik ... tidurlah!"
Khan menarik selimut untuk menutupi Vefe yang masih polos tanpa sehelai benangpun. Mencium kening Vefe berkali-kali kemudian memeluknya dengan erat, "I love you so much, Mami."
"Me too ...." Vefe memejamkan mata perlehan.
Hanya tidur kurang dari dua jam terpaksa harus mandi dan menjalankan kewajiban. Khan kembali tidur lagi saat melihat baby Aaron juga masih terlelap. Hanya Vefe yang langsung berolah raga lari pagi keliling komplek sendirian.
Freya ingin bermain dengan baby Aaron, hanya sayangnya pintu kamar masih tertutup rapat. Tanpa sungkan dia langsung membuka pintu kamar, "Uncle ...!" teriaknya.
"Opo'o Freya, Uncle iseh ngantuk iki?" tanya Khan berada di balik selimut.
Freya tidak menjawab pertanyaan Khan karena matanya tertuju pada barang yang berserakan di lantai. Ada CD, bra, kaos singlet, celana boxer juga ada. Freya langsung menggelengkan kepala melihat kamar berantakan dan mulut berdecak, "Astagfirullah ... Uncle!"
"Opo maneh, Freya?" Khan membuka selimut dan membuka mata.
Khan langsung tersentak kaget saat melihat Freya sedang mengangkat celana boxer miliknya, "Eee ... No Freya!"
"Uncle ... iki kamar opo kapal pecah, jorok banget sih?"
Khan langsung loncat dan turun dari tempat tidur. Mengambil satu persatu semua daleman yang tadi malam terlempar entah ke mana. Bergegas memasukkan semua di keranjang baju kotor.
Tanpa diduga ada Elya yang masuk kamar bersamaan Khan mengambil semua barang yang ada dibawah, "Mas Khan ... bikin malu saja."
"Ora usah mikir macam-macam."
"Bagaimana tidak berpikir macam-macam, terlihat jelas daleman bertebaran di mana-mana?"
__ADS_1
Khan hanya nyengir kuda sambil melihat kamar. Tidak ada Vefe di kamar, yang ada hanya baby Aaron yang masih terlelap, "Apakah kalian mencari maminya Aaron?" tanya Khan mengalihkan perhatian mereka.
"No ...." Freya dan Elya menjawab bersamaan.
"So ...?"
"Freya want playing with Aaron."
"Aaron isih bobok," jawab Khan.
Mendengar suara berisik, baby Aaron terbangun dan langsung menangis. Freya berlari mendekati box bayi, " Hai Aaron, don't cry!"
"Sayang ... terganggu karena Kak Freya ya?" tanya Elya langsung menggendong baby Aaron.
Satu minggu lamanya, Khan dan Vefe menginap di Manhattan. Freya selalu mengajak beby Aaron bermain. Mengikuti baby Aaron merangkak berpetualang menjelajahi rumah Ayah Jose.
Hari Minggu ini rencana Khan dan Vefe akan pulang ke Indonesia. Bunda Fatia dan Ayah Jose ikut serta pulang. Namun mereka akan langsung pulang ke Surabaya.
Bunda Fatia mendapatkan undangan dari orang tua Eno. Pernikahan Eno di Surabaya akan dilaksanakan Minggu depan. Ibu Eno menghubungi langsung Bunda Fatia untuk meminta Ayah Jose sebagai saksi pernikahan dari pihak perempuan.
Hanya sayangnya saat Bunda mengajak Vefe untuk ke Surabaya. Khan tidak mengizinkan karena beralasan akan mengajak istri dan putranya tugas ke Bandung selama dua hari. Khan berjanji akan datang ke Surabaya sehari sebelum hari H.
Pesawat pribadi milik keluarga Ayah Jose hanya transit saja di Bandara Internasional Suekarno Hatta. Setelah Khan dan Vefe serta baby Aaron turun dari pesawat. Bunda Fatia dan Ayah Jose langsung terbang kembali melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
Dalam perjalanan pulang dari bandara ke rumah. Asisten Satria sendiri yang menjemput Khan, Vefe dan baby Aaron. Dalam perjalanan, Asisten Satria bercerita tentang undangan dan tiket pesawat Eno.
"Saya kok jadi curiga tentang Eno, Tuan."
"Curiga bagaimana?" tanya Khan.
"Eno mengirim undangan hampir tiga puluh orang di perusahaan PT KURNIA lengkap dengan tiket pulang pergi, bukankah perusahaan Tuan Toni Prawira itu perusahaan kecil?"
"Maksud Bang Satria curiga menggunakan uang arisan dan koperasi ibu-ibu sosialita?" tanya Vefe.
"Iya itu maksud saya," jawab Asisten Satria.
"Apakah ada akomodasi penginapan atau hotel selama di Surabaya?" tanya Khan lagi.
__ADS_1
"Kalau yang itu tidak ada, Tuan."
"Setahu saja Toni Prawira dulu yang tajir karena mantan istrinya, dia hanya numpang tenar. Lebih sukses adiknya Doni Prawira daripada dia.
Khan jadi termenung teringat sepak terjang kakak kandung Doni Prawira sebelum bercerai dengan sang mantan istri. Dia adalah guru dan panutan adiknya sendiri dalam merayu wanita.
Saat Khan masih trauma dekat dengan wanita cantik dan seksi dengan berpakaian fulgar. Doni Prawira sering memberikan saran agar Khan bisa bersikap biasa. Namun usaha Doni Prawira sering gagal karena yang diajarkan sering menyimpang dari keyakinan.
"Kemarin siapa yang mengantar undangan ke kantor, Bang?" tanya Vefe.
"Kata resepsionis Eno sendiri yang mengantar, dia ingin bertemu dengan Tuan Khan, tetapi karena Anda berada di Manhattan akhirnya dia langsung pulang."
"Mau ngapain dia bertemu Papi?" tanya Vefe dengan jutek.
"Mana Papi tahu, Mami." Khan tersenyum devil mendengar Vefe terlihat kesal dan jutek.
"Tidak perlu cemburu dong, Mami."
"Mami tidak cemburu, hanya kesel saja."
"Masih ada satu lagi yang membuat saya heran tentang Eno," kata Asisten Satria lagi sambil tetap konsentrasi menyetir mobil dan melihat jalan raya.
"Apa itu?" tanya Khan dan Vefe bersamaan.
"Tadi saya baru saja mendapatkan kabar dari staf perusahaan yang ada di Sulawesi."
"Mereka juga dapat undangan dan tiket pesawat juga," tebak Khan dengan cepat.
"Benar sekali, Tuan. Undangan itu kurang lebih lima puluh orang."
Khan jadi mengerutkan keningnya berpikir tentang kecurigaan Asisten Satria dan Vefe tentang menggunakan uang arisan dan koperasi ibu-ibu sosialita. Jika melihat kesederhanaan kedua orang tua Eno. Mungkinkah mereka mampu menggelontorkan dana fantastis hanya untuk pesta pernikahan yang super mewah?
"Bagaimana dengan perusahaan kita yang ada di Bandung dan Sumatera, apakah mereka mendapatkan undangan yang sama?" tanya Khan lagi.
"Kalau yang itu saya belum mendapatkan kabar, Tuan."
Sedang asyik berbincang ada suara nada dering dari ponsel Vefe, dia langsung membuka dan menjawab, "Assalamualaikum Tante Prapti."
__ADS_1
" ...."
"Eeee jangan menangis, Tante. Cerita ada apa?"