Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 58. Restu Kakak Angkat


__ADS_3

Daniel adalah teman Vefe dalam satu perguruan silat. Pacar Erina yang baru jadian dua minggu yang lalu. Sudah di anggap kakak sendiri oleh Vefe.


Khan memandang Daniel dengan hati yang tidak menentu. Tidak mengenal pemuda yang membawa motor milik gadis yang disukainya. Ada rasa cemburu di hati tiba-tiba muncul.


Ada satu motor lagi di belakang Daniel, Erina sedang memboncengkan Vefe. Vefe terlihat ada luka di dahi dan jalan terpincang. Khan langsung mendekati Vefe dan membantunya berjalan.


"Kenapa Ve?" tanya Khan dengan khawatir.


"Tadi Ve nyungsep masuk parit karena menghindari kucing yang menyeberang jalan, Mas."


"Kita ke rumah sakit saja yok!" Khan membimbing Vefe berjalan dengan memeluk pinggang Vefe.


"Tidak perlu, Mas. Ve urut saja pasti sembuh."


"Ayo di dalam saja, Nak!" Umi Maryam berjalan terlebih dahulu mengajak duduk di bawah hambal agar Vefe bisa meluruskan kakinya.


KHan melirik Daniel yang menggandeng Erina dengan mesra. Ada rasa lega di hati, bisa menebak kemungkinan mereka adalah sepasng kekasih. Bukan teman dekat atau orang spesial Vefe.


"Mas periksa sebentar ya, Ve. Rileks saja!"


"Iya Mas ...."


Khan memeriksa dengan meraba pegelangan kaki Vefe yang sakit, "Mas tarik jangan kaget ya, ada urat tulang yang bergeser sedikit!"


Vefe mengangguk sambil menarik napas. Bagi mereka yang bergelut di olahraga bela diri pasti sangat menguasai tulang yang cidera. Khan menarik kaki Vefe dengan teknik tersendiri.


Ada bunyi seolah tulang bergeser dan diikuti teriakan kecil Vefe. Khan meletakkan kaki Vefe setelah dua kali tarikkan. "Coba digerakkan sedikit, Ve!" perintah Khan.


Vefe tersenyum sambil melihat kakinya yang digerakkan. Nyeri yang tadi ada sekarang sudah tidak ada lagi, "Terima kasih, Mas. Sudah tidak nyeri lagi seperti tadi."


"Sama-sama."


"Apakah Nak Khan satu seperguruan dengan Vefe?" tanya Umi Maryam.


"Kami beda perguruan, Umi. Intinya sih sama-sama bela diri asli Indonesia."


Erina ikut duduk di samping Vefe dan berbisik sambil melirik Khan. Tidak ada yang mendengar bisikan Erina kecuali Vefe sendiri. Vefe hanya menjawab dengan senyum yang tidak bisa diartikan oleh orang lain kecuali dirinya sendiri.


"Mas Khan, kenalkan dia Bang Daniel kakak seperguruan Ve dan pacar Erin."

__ADS_1


"Hai Bro ... Aku Khan." Khan memberikan tos dngan mengadu kepalan tangan.


"Salam kenal Mas, Aku Daniel."


Umi Maryam kembali ke depan menemani anak-anak yang sedang menikmati pizza. Mpok Ria membawa satu gelas teh hangat hanya khusus untuk Khan. Langsung diserahkan kepada Khan sambil tersenyum.


"Mpok ... Untuk Erin dan Bang Daniel mana?"


Mpok Ria tersenyum dan memberikan kata isyarat untuk Erina membuat sendiri di dapur. Erina tergelak dan menggelengkan kepalanya, "Tidak ... Erin malas. Minum air putih saja!"


Mpok Ria memberikan dua jempol untuk Erina. Mengajak Erina ke depan untuk makan pizza. Meminta untuk Daiel diajak juga.


"Iya ... Erin tahu maksud Mpok Ria. Ayo Bang ... Makan pizza saja di depan bersama adik-adik di depan!" Erina menarik tangan Daniel sambil mengedipkan mata pada Vefe.


Mpok Ria melambaikan tangan pada Vefe dan Khan. Bermapitan akan makan pizza oleh-oleh dari Khan. Menawarkan pada Vefe untuk diambilkan pizza untuk berdua.


"Tidak usah, Mpok. Nanti Ve ambil sendiri saja."


Sekarang tinggal berdua Khan dan Vefe. Vefe masih melihat penampilan Khan yang berpakaian khas dari luar kota. Memakai jaket dan setelan resmi tanpa jas.


"Mas dari luar kota langsung ke sini?"


"Hhmm ..."


"Entahlah ... Pingin ketemu Ve dulu baru pulang." Khan menjawab sekenanya.


Vefe hanya menunduk tanpa menjawab perkataan Khan. Ada rasa desiran aneh di hati. Tidak ingin berharap yang lebih, hanya menebak ucapan iseng dan tidak berarti.


Vefe lebih memilih mengalihkan perhatian agar tidak berharap lebih. Perbedaan kehidupan dengan laki-laki dewasa di depannya yang selalu membuat Vefe rendah diri, "Mas sudah makan?"


"Sudah tadi di pesawat," jawab Khan berbohong karena enggan makan sayur asem dan ikan asin lagi.


"Temani Ve makan yuk, Mas. Tenang aja hari ini menunya bukan ikan asin dan sayur asem kok!"


Khan tersenyum simpul, seolah Vefe bisa menebak pikirannya. Mengangguk dan membantu Vefe untuk berdiri, "Ayo ... Mas bantu berdiri!"


"Ve bisa sendiri, Mas."


Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Langsung duduk berdampingan di meja makan. Membuka tujung nasi yang ada di meja makan.

__ADS_1


Ada nasi, sayur sop dengan lauk tahu goreng dan sambal terasi. Selalu sederhana menu makan yang ditemui Khan di panti asuhan ini. Bagi Khan, tahu goreng bukan lauk hanya pendamping lauk saja jika di rumah.


"Mau seberapa nasinya, Mas?"


"Eee ... Katanya hanya menemani, apakah Mas harus ikut makan?"


"Iya dong, Mas. Kalau Mas tidak ikut makan itu namanya menunggu Ve sedang makan." Vefe mengambilkan nasi untuk Khan dan mendekatkan sayur sop.


"Demi Ve ini berarti," Khan mengambil sayur sop, sambil terasi dan tahu goreng.


"Bukan demi Ve dong, Mas. Demi perut Mas Khan biar kenyang."


Khan hanya tersenyum sambil menyuapkan sesendok demi sesendok ke mulutnya. Setidaknya rasanya masih bersahabat dengan selera dan lidahnya. Tidak ada rasa asin seperti menu ikan asin yang tidak di sukainya.


Tanpa terasa satu piring habis sudah berpindah ke perut Khan tanpa sisa. Bersamaan Vefe juga sudah menghabiskan makan malamnya, "Mau tambah, Mas?"


"Kenyang, Ve. Terima kasih."


Khan bergabung dengan Umi Maryam saat Vefe berpamitan untuk mandi dan berganti baju pada Khan. Ikut berbincang dengan Erina dan Daniel yang sedang duduk di teras. Melihat anak-anak yang sedang bermain dengan riang gembira.


Gi da Ji langsung duduk di samping Khan kanan dan kiri, "Mas ...!" panggil mereka bersamaan.


"Ada apa?"


"Akan ada pertandingan lagi mungkin awal tahun, ajarin Gi dong, Mas!"


"Ji juga ya Mas!"


"Boleh saja tetapi ada syaratnya," jawab Khan.


Daniel ikut duduk mendekati Khan sambil menjawab pertayaan Gi dan Ji sebelum Khan menjawab, "Kalian harus sampai sabuk hitam dulu di tempat kalian berlatih, Benar 'kan, Mas Khan?"


"Itu sudah di jawab, benar sekali itu yang Mas Khan masksud."


"Berarti Daniel dulu yang diajari, Mas. Daniel ingin menguasai yang Mas Khan lakukan pada kaki Ve tadi."


"Kalau Daniel berminat, langsung saja bergabung dengan teman Mas Khan."


Daniel tersenyum mengangguk, belum mengenal laki-laki yang ada di depannya. Dia dengan senang hati mau membantu. Laki-laki yang baik kesan pertama bagi Daniel.

__ADS_1


Dari sorot mata Khan, Daniel bisa mrmbaca jika Khan sangat menyukai Vefe. Dia mendekati telinga Khan dab berbisik, "Daniel merestui Mas Khan dengan adik angkat Vefe"


"Eee ...?"


__ADS_2