Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 211. Cerita Calon Menantu


__ADS_3

Vefe termenung setelah selesai berbincang dengan Tante Suprapti menggunakan ponsel. Teringat tantenya yang mengatakan tidak berani meminta izin kepada ayah kandungnya. Izin dari suami sudah dikantongi sejak pengumpulan dana tiket kemarin.


Sebenarnya ingin mengajak tantenya berangkat ke Surabaya akhir minggu ini. Namun belum tahu ke sana menggunakan helikopter atau dijemput pesawat pribadi. Disamping itu harus izin dulu pada suami jika ingin mengajak tantenya.


Sampai Vefe tidak mendengar saat Khan masuk kamar. Dia masih termenung dengan meletakkan dagunya di bantal sambil badan tengkurap. Masih memikirkan tentang persoalan tante dan mantan karyawan suaminya.


Khan langsung ikut tidur tengkurap di samping Vefe dan melingkarkan tangannya di pinggang bagian belakang, "Sedang mikirin apa, Mami?"


"Tante Prapti," jawab Vefe singkat.


"Ada apa dengan Tante Prapti?"


"Baru saja dia menghubungi Mami."


"Ada apa lagi?"


Vefe bercerita tentang perbincangan dengan tantenya barusan. Tentang Eno dan sang wakil asisten yang healing ke Belanda. Dana tiket dan rencana mereka berkunjung ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan walaupun tanpa undangan.


Khan tidak terlalu mendengarkan cerita Vefe. Dia lebih memilih memperhatikan gerak bibir Vefe yang lebih menggoda. Sambil tersenyum devil. Khan terus memperhatikan saat bibirnya dibasahi agar tidak kering.


"Papi ...!" teriak Vefe.


"Iya Mami Sayang."


"Mendengarkan cerita Mami tidak sih?"


"Dengar dong, Mami."


"Mengapa sambil senyum-senyum begitu?"


"Mengapa bibir Mami lebih menarik ya daripada cerita tentang tante dan si ganjen itu?"


"Kebiasaan dasar modus."


Dengan spontan Vefe menutup mulutnya dengan satu tangan. Melotot kesal karena sudah capek bercerita. Dia lebih tertarik bibir yang bergerak dan terlihat menggoda.


Khan tergelak dan mentowel pipi Vefe, "Jangan di tutup dong, Mami. Papi jadi tidak bisa melihat bibir yang basah!"


Karena konsentrasi pada bibir yang menggoda. Khan kaget saat baby Aaron yang tadi terlelap di sebelah Vefe tiba-tiba berada di samping kepala Vefe, "Astagfirullah ...!" teriak Khan.

__ADS_1


Baby Aaron yang baru saja terjaga langsung tergelak melihat papinya kaget. Vefe juga ikut tergelak mendengar putranya bangun tidur langsung ceria. Vefe tambah tergelak saat menyadari usaha Khan untuk mulai modus gagal karena putranya terbangun.


Khan langsung mengerucutkan bibirnya mendengar Vefe ikut tergelak bersama putranya, "Mami ... tega banget sih!"


"Jangan su'uzon dulu dong, Papi. Mami tidak mengejek Papi, hanya menemani Aaron tertawa saja."


"Mana ada tertawa ditemani." Ucapan Khan yang terdengar kesal menambah baby Aaron semakin tertawa lebar.


"Eeee ... Aaron juga menertawakan Papi ya?"


Sedang asyik bercanda bertiga. Ada suara notifikasi pesan WA masuk di ponsel Khan. Dia langsung membuka dan membaca pesan dari Bunda Fatia.


Pesan yang mengatakan jika Sabtu pagi pesawat pribadi akan menjemput di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Harus sudah berada di Jakarta sebelum hari Sabtu. Padahal Khan berencana akan sampai Sabtu sore di Bandung.


Sudah dua hari di kota Bandung yang sejuk itu, Khan belum sempat mengajak Vefe jalan-jalan. Masih sibuk mengerjakan pekerjaan yang menumpuk. Dan menghadiri hari eniversery peerusahaan.


"Jadi bagaimana ini, Mami. Kita belum sempat untuk keliling kota Bandung?"


"Kita pulang saja, Papi. Lain waktu saja kita wisatanya."


"Mami yakin tidak ingin melihat kota Bandung?"


Sabtu pagi Khan, Vefe dan baby Aaron berangkat ke Surabaya menggunakan pesawat pribadi. Vefe tidak mengajak Tante Suprapti untuk bareng. Karena tante dan rombongan ibu-ibu sosialita sudah berangkat ke Surabaya Jum'at malam.


Sampai di komplek gang perumahan Bunda Fatia. Terpaksa Khan harus berjalan kaki karena mobil tidak bisa masuk. Sepanjang gang di pasang dekorasi dengan sangat megah.


Sepanjang gang komplek di sulap seperti resepsi di hotel bintang lima. Mulai dari pelaminan, kursi tamu, hiasan bunga asli terlihat sangat mewah dan elegan. Baru melewati saja seolah sedang berjalan di negeri dongeng.


Kemewahan dalam acara itu sangat terlihat. Walaupun acara tidak di lakukan di gedung. Namun dekorasi sangatlah elegan dan sangat cantik.


Acara pesta mewah itu seolah ingin menunjukkan keberhasilan Eno. Seluruh tetangga yang membantu banyak yang memuji kemegahan acara pernikahan yang akan diselenggarakan esok hari.


Sampai di dalam rumah, Khan sekeluarga langsung disambut oleh Bunda Fatia dan Ayah Jose. Baby Aaron berpindah gendongan diajak bermain oleh opanya. Diikuti oleh Bunda Fatia yang selalu merindukan ocehan baby Aaron.


"Jam berapa besok akad nikahnya, Bun?"


"Akad nikah sekitar pukul sembilan pagi dan diteruskan dengan temu manten pukul sepuluh."


"Kemungkinan sih, mundur," Ayah Jose ikut bercerita.

__ADS_1


"Kenapa, Yah?"


"Pengantin prianya sampai sekarang belum datang."


"Benar itu, Bun?" tanya Vefe.


"Iya ...."


Kemudian Bunda Fatia bercerita tentang keluarga Eno. Sudah tiga hari ini Bunda Fatia membantu keluarga Eno. Bersama dengan tetangga yang lain bergotong royong untuk membantu sang koki untuk membuat hidangan untuk tamu.


Setiap saat dan setiap waktu Ibu Eno selalu bercerita tentang calon menantu yang tajir. Dia mengatakan calon menantu lebih tajir dari mantan calon menantu yang gagal.


Ibu Eno bercerita semua acara pernikahan saat ini yang membiayai calon menantu. Mulai dari pelaminan, dekorasi, cetering. Bahkan MUA artis didatangkan langsung dari Jakarta.


Ibu Eno selalu dan terus membanggakan calon menantu yang belum datang. Dia sekarang ini masih berbisnis di luar negeri yaitu di Singapura. Dia masih mengurus bisnisnya yang berada di sana.


Saat tidak ada Bunda Fatia, Ibu Eno bercerita dengan tetangga yang lain. Dia selalu membandingkan kekayaan calon menantu dengan Khan. Dia selalu mengatakan sangat beruntung tidak jadi berjodoh dengan tetangga.


Bercerita pula jika calon menantu sendiri yang mengatur mewahnya pernikahan yang diinginkan. Eno hanya duduk manis dan merawat diri saja. Semua diserahkan kepada WO yang ditunjuk langsung oleh calon menantu.


Hanya satu yang tidak diketahui oleh tetangga kecuali Keluarga Bunda Fatia. Yaitu umur calon menantu yang hampir setengah abad. Di foto undangan dan foto prewedding calon menantu terlihat muda.


Status duda beranak satu tidak masalah yang penting kaya raya. Itu yang selalu dikatakan oleh ibu Eno. Anak dari calon menantu tidak bersamanya karena ikut mantan istri pertama.


"Bunda tidak bercerita kepada tetangga kalau calon menantu itu umurnya hampir setengah abad?" tanya Vefe setelah selesai bercerita.


"Tidak sih, Nak. Besok mereka juga tahu sendiri kalau pengantin pria datang."


Khan termenung setelah mendengar cerita dari Bunda Fatia. Toni Prawira hanya memiliki perusahaan kecil di Tangerang. Kantor dan perusahaan itu luasnya tidak sampai sepuluh persen luas perusahaan PT KURNIA.


"Kapan katanya calon pengantin pria datang, Bun?" tanya Khan.


"Kemarin awalnya dua hari sebelum hari H sudah datang, diundur tadi


pagi katanya datang, Eeee tidak jadi lagi dan sekarang katanya nanti malam."


"Ayah curiga nanti malam tidak datang lagi deh."


"Waduh ...."

__ADS_1


__ADS_2