
Bunda Fatia memandangi Asisten Satria dan Nina bergantian, "Kalian dengarkan, Bunda bertanya, jika salah kalian hanya menggeleng tetapi jika benar mengangguk, Kalian mengerti?"
Asisten Satria dan Nina istrinya mengangguk, "Bukan sekarang juga mengangguknya!" Ayah Jose tergelak melihat pasangan suami istri yang kompak mengangguk.
"Gadis ini yang di sukai Khan?" tanya Bunda Fatia, dan di jawab anggukan oleh Asisten Satria dan Nina.
Apakah gadis ini tinggal di panti asuhan?" tanya Ayah Jose dan di jawab anggukan oleh pasangan suami istri itu.
Ayah Jose dan Bunda Fatia hanya saling pandang. Masih awal mengetahui saja terasa sangat unik. Baru kali ini mereka melihat Khan makan dengan menu ikan asin.
Makan sambil tersenyum dan memandang wajah gadis yang ada di sampingnya. Bisa di pastikan ada rasa cinta di mata Khan karena mata yang berbinar. Tidak pernah Khan bisa tersenyum di samping seorang wanita seperti di foto.
"Apakah mereka sudah menjalin hubungan secara resmi?" Bunda Fatia bertanya dan di jawab dengan gelengan kepala.
"Berarti maksud Khan akan menyatakan cintanya saat ulang tahun?" tebak Ayah Jose dan mereka menjawab dengan anggukan.
"Pertanyaan terakhir, apakah sekarang ini mereka berada di dalam Ancol?" mereka mengangguk lagi saat ditanya oleh Bunda Fatia.
Asisten Satria masih terdiam teringat dulu pernah Khan mengancam akan memecatnya jika rencana ini diketahui oleh orang lain, "Tuan ...?"
"Kamu mau tanya apa?"
"Saya mohon, tolong berikan waktu Tuan Khan untuk berjuang sendiri."
"Apakah kamu takut di pecat oleh Khan?"
"Bukan masalah itu saja, Tuan. Saya menyaksikan sendiri Tuan Khan sangat bahagia."
"Kamu tenang saja, kamu akan tetap menjadi asisten putraku," jawab Ayah Jose.
"Terima kasih."
Asisten Satria dan Nina kembali ke Ancol dengan hati ragu. Takut ketahuan oleh atasannya jika Bunda Fatia nekat akan masuk ke Ancol. Pamit kepada ke dua orang tua bosnya dengan sangat gelisah.
Bergabung lagi dengan Umi Maryam dan duduk di samping Mpok Ria. Hati gelisah terus saja menengok Khan Yang duduk sendiri memandangi Vefe sambil tersenyum.
Asisten Satria masih termenung karena selalu bekerja dengan jujur. Saat dulu sekolah dan di pondok bersama Khan. Selalu diajari dengan menjaga amanah dengan baik.
__ADS_1
Ada notifikasi pesan WA dari Nyonya Bunda. Pesan WA yang mengatakan jika mereka berdua menginap di salah satu hotel bintang lima yang ada di dalam area Ancol. Mengatakan juga berjanji tidak akan menampakkan diri di hadapan Khan.
Rasa lega setelah membaca pesan dari orang tua dari atasannya. Hanya bisa mendoakan semua akan berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Masih terus melihat kearah Khan yang tidak pernah lepas pandangannya ke wajah Vefe.
Asisten Satria bisa menebak Khan belum sempat menyatakan kepada pujaan hati. Waktu menunjukan hampir tengah hari saat melihat jam tangan. Lebih baik memberikan kesempatan untuk dia agar dapat mengungkapkan perasaan hati.
Asisten Satria langsung berinisiatif mengajak anak-anak untuk beristirahat dan makan siang. Sebelum meninggalkan pantai dengan tersenyum mendekati dan menepuk pundak Khan. Tanpa berucap sepatah katapun Khan mengerti maksud dari asistennya.
Anak-anak berlari ke villa dengan riang diikuti Umi Maryam dan yang lainnya. Hanya Khan yang masih duduk dan memandang hamparan laut yang biru. Memandangi ombak yang bergemuruh seperti hatinya saat ini.
Melihat Khan belum beranjak dari tempat duduknya. Vefe berlari mendekati Khan, "Mas ...!"
"Ve ... duduk sini sebentar Mas mau ngomong!" Khan menepuk pasir yang ada di sampingnya.
"Ya Mas."
"Mas langsung terus-terang boleh, Ve?"
"Tentu dong Mas, ada apa sih?"
Khan mengambil napas dengan dalam-dalam. Menenangkan hati agar tidak berdegup kencang. Tetap saja bertekat harus jujur sekarang agar hati merasa lega.
Vefe menunduk dan terdiam, dari kemarin sudah bisa menebak hatinya. Dalam hati sama seperti yang di katakan Khan. Hanya rasa rendah diri masih terpatri dalam hati.
"Apakah Mas yakin?"
"Sangat Ve, Mas mencintai Ve."
"Ve hanya gadis buangan tidak jelas orang tuannya, apakah pantas ada di samping Mas Khan?"
Khan menghadap ke arah Vefe, tersenyum dan memandang wajah Vefe yang terlihat memerah, "Ve ... Cinta itu tidak melihat latar belakang, Mas suka ve apa adanya."
"Ve takut di bilang orang suka karena ...?" Vefe tidak melanjutkan ucapannya.
Vefe memilih menunduk karena teringat saat SMA. Pernah menyukai pemuda teman sekolah anak orang kaya. Di hina sangat menyakitkan hati sampai saat ini masih terasa.
"Ve ... !"
__ADS_1
Vefe mendongak memandang wajah Khan yang tersenyum. Netrannya terlihat ada pancaran cinta tulus. Hati terasa adem saat memandang wajahnya yang terlihat berbinar.
"Ve takut Mas."
"Ve katakan yang ada di hati, jangan berpikir yang lain."
"Ve juga suka sama Mas Khan."
"Terima kasih, itu cukup buat Mas. Kita jalani dulu ya Ve?"
"Baiklah Mas."
"Alhamdulillah, di ulang tahun ini kita resmi jadian ya?"
"Iya ... Mas."
Khan tersenyum dengan hati lega. Seperti mendapatkan emas segunung bisa terbalaskan cintanya. Bunga-bunga cinta seolah berputar di pikirannya. Bahagia di hati karean mimpinya kini menjadi kenyataan.
Malam Minggu ini Khan tidak sendiri lagi, ada Vefe di sampingnya. Impiannya untuk bisa malam Mingguan kini terwujud. Berduaan, kekasih, berpacaran bisa dirasakan sendiri tidak cuma melihat atau mendengar cerita.
Malam ini mereka duduk di bangku yang ada di depan villa. Menghadap pantai dengan lampu yang temaram. Sangat terlihat romantis padahal hanya duduk dan berbincang saja.
Tanpa di duga ada dua pasangan suami istri yang mengawasi dari kejauhan. Tidak terlihat jelas wajahnya, tetapi terlihat sangat bahagia. Rasa lega kini di rakan dihati setelah bisa melihat sendiri bisa duduk berdua tanpa ada trauma.
Ayah Jose dan Bunda Fatia hanya pura-pura menikmati indahnya malam. Melihat lampu temaram yang bertebaran. Yang sebenarnya mereka memperhatikan putranya dengan duduk berdua bercanda bahagia.
"Ayo Bun, kita pergi dari sini nanti ketahuan!"
"Tunggu sebentar dong, Yah. Bunda masih belum melihat jelas wajah gadis itu," bisik Bunda Fatia.
"Tidak perlu di perkirakan lagi, Bunda tadi sudah lihat fotonya di ponsel Asisten Satria."
"Beda banget sama yang di foto, Yah. Dia terlihat masih muda. umurnya belum ada dua puluh tahun."
Khan berbincang sambil melihat sekeliling area villa. Tidak banyak orang berlalu-lalang. Hanya ada beberapa orang yang bersantai menikmati indahnya malam.
Tanpa sengaja Khan melihat satu pasang suami istri yang sedang melihat kearahnya. Siluet tubuh mereka seperti sangat di kenal olehnya. Jarak yang jauh dan lampu yang temaram, tidak bisa melihat mereka dengan jelas.
__ADS_1
"Bun, ayo cepat pergi lihatlah dia melihat kearah kita!"