
Sikap Vefe kali ini sangat berbeda darii biasanya. Dulu sering menyembunyikan rasa cemburu dan bersikap wajar saat banyak wanita yang masih menyukai Khan. Saat ini karena Kak Mursida yang mulai mendekati Khan, Vefe selalu uring-uringan dan cemburu berat.
Walau sekarang ini berada di Sulawesi, Vefe selalu memeriksa ponsel Khan. Tidak rela jika Kak Mursida menghubungi Khan. Selalu curiga saat ada dering ponsel Khan berbunyi.
"Dari siapa, Pi?" tanya Vefe saat pagi hari baru bangun tidur.
"Dari Ayah Jose."
"Ooo jangan diangkat kalau Kak Mur yang telepon ya, Mami tidak rela," jawab Vefe dengan jutek.
Khan hanya menjawab dengan anggukkan kepala. Menekan tombol hijau ponsel dan berbincang dengan Ayah Jose. Terkadang sambil tersenyum melihat Vefe yang waspada karena takut Kak Mursida yang menghubungi.
Vefe masih menunggu Khan berbincang dengan ayahnya melalui ponsel. Hampir sepuluh menit berlalu tetap setia duduk sambil tangannya usil memainkan lengan baju Khan. Sikap Vefe seperti anak kecil yang ingin selalu dimanja.
"Ada Apa sih, Mi?" tanya Khan setelah selesai berbincang dengan Ayah Jose.
"Mami menunggu, takut Papi di telepon oleh Kak Mur," jawab Vefe dengan wajah yang cemberut.
"Ya Allah, Mami Sayang. Ada apa dengan Mami hari ini?"
"Pokoknya Mami tidak rela kalau Kak Mur menghubungi Papi."
Sambil tergelak, Khan menarik Vefe dalam pelukan, "Begini saja, nomor Kak Mur sebaiknya Papi blokir saja."
Vefe tersenyum sambil mengacungkan jempol, "Mami setuju, kalau perlu Bang Satria juga harus memblokir nomor Kak Mur."
"Baiklah, nanti Papi bilang sama Asisten Satria."
Khan mencium kening Vefe berkali-kali, gemas karena hari ini Vefe terlihat manja. Tidak pernah bersikap seperti itu mulai dari kenal sampai sudah menikah selama dua tahun lebih. Sangat terlihat tidak rela suami direbut orang lain.
Benar saja dugaan Vefe, baru saja dibicarakan tentang Kak Mursida. Sekarang ini ponsel Vefe yang berdering kencang panggilan dari Kak Mursida. Vefe sampai mengerutkan keningnya melihat ponselnya sendiri.
"Naah lihat ini, Pi. Kak Mur menghubungi Mami. Kemungkinan dia tidak bisa menghubungi Papi."
"Ya sudah angkat saja, mungkin penting!"
"Akan Mami angkat, tetapi Papi diam ya, awas aja kalau Papi jawab!" ancam Vefe.
Khan tergelak kemudian menutup mulutnya sambil tangan memberikan kode seolah sedang mengunci. Tidak mengucapkan sepatah katapun. Tidak ingin Vefe emosi lagi hanya karena Kak Mursida.
__ADS_1
Vefe menekan tombol hijau dan loud speaker bergantian, "Assalamualaikum."
"Ve ... kamu nyusul Mas Khan?" suara Kak Mursida terdengar keras.
"Kak Mur ada di mana sekarang?"
"Eee di tanya malah balik tanya, kamu ikut Mas Khan ke Sulawesi?"
"Iya."
"Mengapa tidak mengajak Kak Mur dan baby Ara sih?"
"Kak Mur, ini acara keluarga kami, mengapa harus mengajak Kak Mur juga?"
Tidak ada suara yang terdengar sesaat dari Kak Mursida. Kemungkinan ibu satu anak itu gugup dan bingung harus menjawab pertanyaan. Vefe hanya menebak kemungkinan saat ini Kak Mursida berada di rumah.
"Mengapa diam, Kak?" tanya Vefe setelah beberapa saat Kak Mur tidak menjawab.
"Baby Ara kangen ingin bertemu Mas Khan," jawab Kak Mur terdengar ragu-ragu.
Vefe tersenyum kecut, alasan yang kurang tepat diucapkan oleh Kak Mursida. Sudah bisa menebak jika dugaan benar adanya. Ada maksud lain dari kedatangan Kak Mursida selama ini.
"Maaf ya, Kak. Baby Ara belum ada empat bulan, kemarin juga baru bertemu dengan suami Ve. Kalau membuat alasan yang masuk akal lah."
"Cukup ya, Kak. Maaf Suami Ve sekarang tidak bisa diganggu. Assalamualikum!" Vefe mematikan ponsel dengan emosi dan marah, "Iiiihh bikin kesal aja, ingin rasanya Ve sleding wanita aneh itu!"
Khan tertawa terbahak-bahak mendengar Vefe yang kesal. Kembali menarik masuk dalam pelukan, "Ada apa Mami hari ini kok aneh begini sih?"
Vefe belum sempat menjawab pertanyaan Khan. Pintu diketuk dari luar perlahan, ada suara Pak Gun terdengar samar. Vefe hanya bergeser enggan untuk berdiri, "Papi saja yang buka pintu, Mami masih kesal!"
"Iya Mami Sayang."
Pintu dibuka dengan lebar oleh Khan. Ada Pak Gun yang berdiri dengan membawa nampan berisi nasi goreng ikan asin kesukaan Vefe, sop ayam untuk baby Aaron dan coklat hangat untuk Khan.
Bau nasi goreng ikan sangat harum dan menyengat saat masuk kamar. Biasanya Vefe akan semangat dan dan langsung tersenyum jika dimasakkan sarapan favorit. Hanya sayangnya kali ini Vefe langsung menutup hidungnya sebelum Pak Gun mendekati Vefe.
"Hhhmm Pak Gun, aduh ...!" Vefe langsung berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya.
Spontan Pak Gun menghentikan langkahnya sambil tertegun. Khan bingung dan berlari menyusul Vefe ke kamar mandi, "Ada apa, Mami?"
__ADS_1
Khan sudah melihat Vefe berjongkok duduk di pintu kamar mandi. Memuntahkan makanan yang tadi di makan saat makan malam. Hampir semua isi perut keluar tanpa sisa.
Pak Gun membawa nampan yang berisi sarapan pagi ke luar kamar Khan. Kemungkinan Vefe muntah karena mencium salah satu dari menu makan yang dibawa. Berniat membuatkan jahe hangat untuk mengurangi rasa mual.
Khan langsung menekan dan memijit tengkuk Vefe dengan lembut. Ikut berjongkok di belakang Vefe dengan menahan pintu agar tidak tertutup. Mengusap rambut Vefe dengan lembut penuh dengan kasih.
"Sudah, Mi. Mundurlah sekarang, Papi yang akan menyiram lantai kamar mandi!"
"Mulut Mami pahit banget, Pi."
"Ayo Papi ambilkan air hangat!"
Khan tidak jadi menyiram kamar mandi yang terkena muntah Vefe. Berlari mengambil air hangat yang ada di dispenser yang ada di dekat pintu kamar, "Ini minumlah!" Khan yang memegangi gelas dan Vefe hanya meneguk tanpa memegang gelasnya.
"Terima kasih, Pi."
"Ayo istirahat berbaring saja dulu, Papi mau menyiram kamar mandi sebentar!"
"Tidak usah, Pi. Mami saja!" Vefe ingin berdiri dari tempat tidur.
Khan langsung menahan Vefe untuk berdiri, "Mami istirahat saja, Papi saja!"
"Papi tidak jijik melihat muntah itu?"
Khan mengusap pipi Vefe dengan lembut. Mencium bibir sekilas sambil tersenyum, "Tidak mungkin, Papi love Mami."
Tanpa merasa jijik, Khan langsung menyiram lantai kamar mandi. Dengan kran langsung agar cepat bersih. Langsung kembali mendekati Vefe dan duduk di samping tempat tidur.
Vefe memejamkan mata sambil menekan keningnya. Rasanya kepala pusing setelah mencium nasi goreng ikan asin. Padahal biasanya sangat menyukai rasa ikan asin walau rasanya asin.
"Apakah masih pusing, Mami?"
"Iya, kok kepala Mami pusing bau ikan asin ya, Pi?"
Khan mengerutkan keningnya, biasanya saat melihat nasi goreng ikan asin selalu antusias dan langsung dinikmati. Sekarang ini baru mencium baunya saja sudah muntah dan terasa pusing.
"Mengapa Mami sekarang aneh sih, apa yang terjadi pada Mami?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel teman author yang rekomen banget ini ya, pasti tidak akan menyesal, terima kasih