Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 188. Darah Lebih Kental dari Air


__ADS_3

Tante Darwati Raharjanto tersenyum kecut dengan pertanyaan yang langsung to the poin. Hanya bisa menarik napas dalam-dalam agar bisa menguasai diri. Tidak ingin menambah kesalah pahaman yang dibuat keluarga kemarin.


"Maaf ya Mbak, kemarin kami tidak berani membantah perkataan Ayah, saya mewakili keluarga meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian kemarin."


Mommy Astrid juga ikut tersenyun sambil menggelengkan kepala. Permintaan maaf itu terdengar mendadak. Seolah seperti tidak ikhlas dan setengah hati saat meminta maaf.


"Mengapa mendadak, ada apa sebenarnya?"


"Saya terus terang mencari informasi tentang Mbak Astrid dan Vefe di media sosial, dan mendengar cerita Nak Khan dan Bunda Fatia. Setelah mendengar cerita dari beberapa sisi yang berbeda, saya bisa menyimpulkan kejadian sebenarnya."


"Apa kesimpulannya?"


"Saya tahu Mbak Astrid tidak bersalah, kasih sayang orang tua yang kurang tepat untuk kita yang membuat semua ini terjadi. Saya mewakili Ayah meminta maaf karena bersikap seperti kemarin."


Mommy Astrid mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan. Sambil berpikir ini keberuntungan atau buah dari kesabaran. Sudah berpuluh tahun merasa bersalah kini ada sedikit titik terang bisa bertemu adik dari kekasih hati di masa lalu.


Rasa cinta itu masih tersimpan di relung hati kepada kekasih. Hanya takdir yang tidak bisa menyatukan keduanya. Bukan tidak cinta dengan suami yang sekarang, tetapi cinta yang berbeda yang di rasakan di antara masa lalu dan sekarang.


"Saya sudah memaafkan beliau sejak lama, saya yang seharusnya ingin meminta maaf dari dulu."


"Nanti akan saya usahakan kita bisa bertemu dengan Ayah."

__ADS_1


"Terima kasih."


"Apakah saya boleh bertemu dengan putri dari Mas Igun?"


"Tentu ... tunggu sebentar."


Mommy Astrid mengambil ponsel yang ada di kantong. Menghubungi Vefe yang saat ini masih ada di kamar pribadinya. Sedang memberikan ASI kepada baby Aaron.


Mommy Astrid menghubungi Vefe lewat pesan WA, "Nak, apakah bisa ke teras samping sebentar!"


"Iya ...Mom, Ve masih memberikan ASI pada Aaron," balas Vefe juga menggunakan pesan WA.


Tante Darwati Raharjanto banyak bertanya tentang Vefe. Melihat semua kabar di media sosial kemarin informasi masih kurang lengkap. Sekarang ini semakin ingin mengenal keponakan yang baru di kenalnya.


"Mom ada apa memanggil ve ...?" Vefe tidak melanjutkan ucapannya saat melihat ada wanita yang duduk di depan Mommy Astrid.


Tidak menyangka orang ingin dikenalnya kemarin. Sekarang ini berada di hadapannya. Padahal sudah berpikir tidak mungkin bisa bertemu lagi karena kejadian kemarin.


"Mom ...."


"Dia tante kamu, Nak. Namanya Tante Darwati." Mommy Astrid menunjuk orang yang duduk di depannya.

__ADS_1


"Assalamualkaikum, Tante. Nama saya Vefe." Vefe meraih dan mencium punggung tangan Tante Darwati Raharjanto.


"Walaikum salam, boleh Tante memelukmu, Nak?"


"Tentu saja, Tante." Vefe langsung memeluk Tante Darwati Raharjanto dengan erat.


"Maafkan kami ya, Nak. Kemarin kami membuat kecewa."


"Iya Tante ... Tidak apa-apa. Ve hanya ingin mengenal keluarga lebih dekat, maaf jika kehadiran Ve membuat keluarga malu."


"Eee mengapa ngomong begitu, Nak. Ve berhak kok mengenal keluarga?" tanya Mommy Astrid.


"Ve menyadari jika lahir dari orang tua yang tidak dalam ikatan pernikahan pasti akan mencoreng nama keluarga."


Tante Darwati Raharjanto melepaskan pelukannya sambil mengusap pundak Vefe. Merasa tidak enak hati karena peristiwa kemarin keponakannya berpikir hal yang negatif, "Jangan berpikir macam-macam, Nak. Darah tetap akan lebih kental dari air. Ve tetap putri dari Mas igun kami."


"Ve ikhlas kok jika nanti keluarga Tante tidak memperkenalkan Ve sebagai keluarga. Ve juga tidak ingin nama ketua anggota dewan itu jelek karena kehadiran Ve."


Tante Darwati Raharjanto terdiam tidak menjawab ucapan Vefe. Hatinya terasa sakit sendiri karena teringat ayahnya yang masih belum bisa menerima seutuhnya cucu kandung. Seolah dia merasa di persimpangan dan bingung harus menjawab apa.


"Jangan berkecil hati, Nak. Semua kita serahkan kepada yang maha Khaliq. ingat Mommy selalu ada untuk Ve."

__ADS_1


"Nak Ve, maafkan Tante karena belum bisa ...?" Tante Darwati Raharjanto meneteskan air mata tidak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.


__ADS_2