Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 239. Lupa


__ADS_3

Baru saja selesai melakukan foto menggunakan pakaian adat Korea. Keluarga baru saja dipersilahkan untuk makan siang. Bunda Fatia mendapatkan telepon dari Manhatten. Ayah Josse meminta untuk Bunda Fatia untuk menyusul ke sana.


Ada keluarga Ayah Josse yang sakit keras ingin bertemu dengan keluarga Ayah Josse yang ada di Indonesia. Khan dan Vefe juga harus ikut karena selalu ditanyakan. Dengan berat hati Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen melepas putri dan menantunya berangkat ke Manhatten saat itu juga.


"Maafkan Kami, Mom. Yang penting kami sudah menghadiri upacara pernikahannya," pamit Vefe kepada ibu kandungnya.


"Tidak apa-apa, Nak. Lain kali bisa ke sini lagi untuk berwisata," jawab Mommy Astrid sambil memeluk Vefe dengan erat.


"Mengapa terburu-buru sih, Nak. coba besok saja berangkat ke sananya?" tanya Daddy Kim Oen.


"Maaf Dad. Penerbangan pesawat yang jadwalnya tidak dirubah. Nanti lain kali kita bisa berkunjung ke sini lagi suatu saat nanti."


Hanya Mommy Astrid, Daddy Kim Oen dan Lee Kim Oen yang masih tinggal di Korea. Sisanya langsung berangkat menuju Manhatten. Perjalanan yang sangat melelahkan di tempuh sampai tujuan.


Dalam perjalanan di pesawat Vefe bertanya kepada Khan, "Keluarga yang mana yang ingin bertemu dengan Bunda, Pi?"


"Dia itu mertua dari adiknya Ayah Josse."


"Berarti sudah tua banget dong?"


"Iya umurnya sudah hampir delapan puluh tahun."


Mengapa Bunda yang di tanyakan?"


"Saat paman berada di penjara dulu, Bunda yang merawat beliau."


"Sekarang bagaimana keadaannya?"


"Kata Ayah Josse beliau sudah lemah dan tidak bisa bangun dari tempat tidur."


Perjalanan yang sangat panjang membuat badan terasa mudah lelah. Dari Indonesia ke Korea sekarang menuju Manhatten. Rasanya kepala pusing dan mudah lelah.


Sampai di Manhatten, hanya Bunda Fatia dan Ayah Josse yang pertama menemui keluarga yang sakit. Vefe sedang beristirahat di kamar dengan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Minum vitamin dulu, Mi. Biar tidak mudah sakit!"


Vefe harus minum vitamin sebelum tidur sejenak untuk memulihkan tenaganya. Kegiatan yang akhir-akhir ini sangat padat banyak melewatkan hal yang rutin dilakukan. Seperti berlatih bela diri dan olahraga pagi seperti dulu sebelum memiliki Baby Aaron.


Bangun tidur setelah dua jam berlalu, Bukannya Badan Vefe semakin sehat tetapi semakin lemah dan pusing. Tanpa diduga Vefe harus memuntahkan semua makanan yang tadi siang dinikmati di kabin pesawat. Ditambah rasa mual yang tidak tertahankan dirasakan.


"Mengapa jadi mual dan muntah begini?" monolog Vefe setelah berkumur agar mulutnya tidak terasa pahit.


Vefe duduk di pinggir tempat tidur sambil memijit kepalanya yang masih pusing. Khan masuk kamar kaget melihat Vefe yang terlihat pucat, "Mami mengapa pucat begini?"


"Entahlah, Pi. Kok Mami pusing dan mual ya?"

__ADS_1


"Mami mual dan muntah, jangan-jangan ...?" Khan tidak melanjutkan ucapannya.


Vefe langsung teringat terakhir melakukan kunjungan ke dokter untuk melakukan suntik KB dua bulan yang lalu. Seharusnya dilakukan setiap satu bulan sekali. Melupakan hal yang penting karena terlalu banyak hal yang harus dilakukan.


"Aduuuh Pi, Mami lupa suntik!" teriak Vefe.


"Lupa bagaimana, Setiap hari sudah Papi suntik?" canda Khan dengan sambil mengedipkan matanya.


"Jangan bercanda dong, Papi. Bagaimana kalau Mami langsung isi lagi?"


"Isi apa, Mami Sayang?"


"Sudahlah jangan dipikirkan, tolong Mami mintakan teh hangat pada bibi!"


"Ok baiklah, Mami tunggu di sini saja."


Setelah minum teh hangat Vefe merasa lebih segar dan tidak terasa mual dan pusing kembali. Beraktivitas seperti sedia kala. Mengunjungi keluarga yang sakit serta berbincang dengan keluarga.


Keesokan harinya Khan mengajak Vefe berkunjung ke rumah Elya. Baby Aaron bermain dengan Freya dan Uncle Smith. Sedangkan Vefe berbincang dengan Elya di dapur.


"Ve lupa bulan lalu tidak melakukan suntik KB ke dokter."


"Aduh Kak ... mengapa bisa lupa?"


"Entahlah kok bisa lupa ya?"


"Tadi malam Ve muntah dan pusing, tetapi sekarang sih tidak merasakan apa-apa lagi."


"Jangan-jangan Kak Ve langsung hamil lagi?"


"Ssstt ... jangan keras-keras bicaranya. Nanti papinya Aaron dengar," jawab Vefe sambil meletakkan jari telunjuk di bibir.


"Apakah dia belum tahu?"


"Belum ini baru dugaan saja sih."


"Lebih baik Kak Ve beli test pack saja untuk memastikan."


"Nanti sajalah ... Ve halangan belum ada satu bulan yang lalu kok, semoga muntah tadi malam karena masuk angin karena melakukan perjalanan jauh saja."


"Nanti kalau hamil bagaimana, Kak?"


"Kalau bisa ya jangan dulu."


Tiga hari berlalu di Manhatten tidak lagi merasakan mual dan muntah. Namun Vefe terus teringat karena sudah lebih dari satu bulan lupa tidak melakukan suntik untuk mencegah kehamilan. Sedangkan sang suami hampir tiap malam modus dan sering beraksi.

__ADS_1


Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin bisa kembali menjadi nasi lagi, "Aaah sudahlah, Ve sendiri yang teledor. Terima saja deh apa yang terjadi nanti," gerutu Vefe sendiri pasrah.


"Ada apa kok ngomong sendiri sih, Mami Sayang?" tanya Khan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kapan kita pulang ke Indonesia, Papi?"


"Eee ditanya malah ganti bertanya, Mami kangen Jakarta?"


Vefe hanya nyengir kuda tanpa menjawab pertanyaan Khan. Pulang ke Jakarta ingin segera berkonsultasi dengan dokter. Belum siap jika harus hamil lagi karena baby Aaron baru berusia satu tahun.


"Mami ... kok diam saja ditanya?"


"Mami mau bertemu dengan Dokter Ega."


"Di Manhatten juga ada dokter, Mami mau program punya anak ke dua?"


Vefe menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dari kemarin Khan belum menyadari yang menjadi keresahan Vefe. Ingin bercerita masih ragu dan bingung.


"Mami ...!"teriak Khan.


"Eee Papi bikin kaget saja."


"Mengapa Mami terlihat bingung, apakah Mami sakit?"


"Tidak apa-apa kok, Pi."


Khan mendekati Vefe dan membawa ke dalam pelukan. Didekap sambil dicium tengkuk, pipi dan bibir bergantian, "Papi ini belahan jiwa Mami, jadi jika Mami terlihat gelisah Papi bisa merasakan juga."


"Tidak apa-apa, Pi. Mami hanya lupa bulan kemarin tidak ke sempat bertemu Dokter Ega."


Khan langsung mengecup dahi Vefe berkali-kali. Baru teringat sudah hampir satu tahun ini selalu rutin mengantar ke dokter setiap bulan. Kemarin juga lupa karena kegiatan yang sangat menyita waktu.


"Berarti Mami kemarin lupa tidak melakukan suntik untuk mencegah ke ...?" Khan belum sempat melanjutkan ucapannya, Vefe sudah mengangguk dengan raut wajah yang masam.


"Alhamdulillah," kata Khan sambil memeluk Vefe dengan erat.


"Kok Papi malah bersyukur sih?"


"Iya dong, Papi pingin adik untuk baby Aaron."


"Mami belum siap, Papi."


"Ayolah Mami Sayang, Papi mau!" Dengan tergelak Khan langsung mengendong bridal Vefe ke tempat tidur.


"Pi ... jangan modus ini masih siang!"

__ADS_1


"Papi mau buat adik untuk Aaron siang hari, biar wajahnya kincong seperti Mami."


"Aaaa ...!"


__ADS_2