Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 193. Tujuan Sebenarnya


__ADS_3

Bunda Fatia mulai emosi lagi mendengar permintaan ketua anggota dewan. Sama saja dia tidak mengakui cucunya sendiri secara halus. Padahal tadi sudah mulai bersimpati saat meminta maaf kepada Vefe.


"Maksud Anda apa meminta untuk dirahasiakan?" tanya Bunda Fatia dengan penuh emosi.


Bergegas Vefe mengusap pundaknya dengan lembut, "Sabar dong, Bun. Jangan emosi!"


"Bunda jadi kesal, Nak. Mendengar dia bicara seperti itu!" teriak Bunda Fatia semakin tambah emosi.


"Maafkan saya, Nyonya. Tolong dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu," jawab Pak Raharjanto dengan suara pelan.


"Ok demi putriku, katakan sebelum saya tambah emosi!"


Pak Raharjanto bercerita satu bulan lagi akan memasuki masa pensiun. Ingin melewati masa purna kerja dengan tenang. Tanpa ada gunjingan atau kabar yang kurang baik.


Bukan semata untuk menjaga nama baik dan image dirinya sendiri. Juga ingin menjaga nama baik Vefe terutama nama baik Khan. Tidak ingin Pengusaha terbaik tahun ini tercoreng karena ulah nitizen dan wartawan.


Dalam dunia kerja dan lingkungannya akan sangat mudah mengembuskan isu untuk saling menjatuhkan nama organisasi dengan latar belakang keluarga. Akan sangat menurunkan elaktibilitas nama organisasi. Bahkan perusahaan yang tidak ada sangkut-pautnya terkadang juga dijadikan alat agar lawan jatuh.

__ADS_1


Pak Raharjanto tidak ingin nama perusahaan Khan dijadikan kambing hitam organisasi lawan. Tidak ingin merusak kebahagiaan Vefe bersama keluarga yang sangat mencintainya. Lebih memilih menjauhi Vefe yang penting sang cucu bahagia.


Sebenarnya dari kemarin ingin sekali dekat dan berkunjung apalagi melihat cicitnya yaitu baby Aaron. Semua ditahan sampai paripurna kerja dan pensiun. Hanya ingin beristirahat dengan tenang menikmati quality time dengan cucu dan cicit.


Pak Raharjanto juga bercerita ketika diceritakan pertemuan putrinya Darwati Raharjanto. Terutama cicitnya baby Aaron adalah cicit laki-laki satu-satunya dalam keturunan keluarga Raharjanto.


Empat cucunya dari keturunan Darwati dan Suprapti adalah perempuan. Bagi keturunan darah jawa, Pak Raharjanto masih memegang teguh ingin memiliki garis keturunan laki-laki. Walau tanpa menyandang nama besar Raharjanto, tetapi baby Aaron adalah garis keturunan laki-laki yang sangat di banggakan kini.


Nama baik Vefe, Khan dan baby Aaron yang sangat dijaga saat ini. Bukan nama baiknya sendiri ataupun keluarga Raharjanto. Dunia dan lingkungan kerja yang terlihat menjanjikan di mata masyarakat terkadang bisa menghancurkan usaha dan keluarga jika salah melangkah.


"Maafkan Kakek ya, Nak. Saat ini tolong jangan salah faham. Pihak audit sedang menyelidiki kekayaan keluarga Raharjanto sebelum pensiun," kata Pak Raharjanto setelah selesai bercerita.


Bunda Fatia mengerutkan keningnya sambil berpikir tentang audit. Kemungkinan jika publik mengetahui Vefe cucu ketua anggota dewan. Pasti harta dan kekayaan keluarga akan ikut terseret secara tidak langsung.


"Maksud Anda pihak audit akan menyelidiki perusahaan PT KURNIA secara tidak langsung jika diketahui Vefe adalah cucu Anda?" tanya Bunda Fatia.


"Betul ... Bahkan saat ini adik tiri saya yang tidak tahu apa-apa juga di selidiki dari mana kekayaan mereka," cerita Pak Raharjanto lagi.

__ADS_1


"Baiklah, saya memahami posisi Anda saat ini. Bagaimana dengan adanya berita Vefe telah menolong Anda tang saat ini beredar?"


"Itu nanti pihak organmisasi yang akan memberikan keterangan, yang terpenting semua tetap pada rencana awal."


"Rencana awal bagaimana maksudnya?" tanya Bunda Fatia lagi.


"Setelah audit selesai dan saya pensiun, saya akan bangga menyebutkan Vefe dan Khan adalah cucu dan cucu menantu keluarga Raharjanto."


Setelah makan bersama dan Pak Raharjanto menggendong baby Aaron sejenak. Mereka berpisah dengan tujuan masing-masing. Bunda Fatia dan Vefe membeli congklak dan Pak Raharjanto kembali bergabung dengan rombongan melakukan sidak harga di mall.


Sampai di rumah, Vefe langsung membantu Bunda Fatia packing. Mempersiapkan apa yang diperlukan untuk dibawa ke Manhatten besok. Terutama pesanan si cantik Freya yang hampir satu koper sendiri.


Khan pulang kerja langsung mencari Vefe setelah ada foto dia di media sosial. Dia sedang menolong kakeknya sendiri. Yang lebih parahnya seolah Vefe dan ketua anggota dewan itu saling tidak mengenal sama sekali.


"Mami Sayang, apakah kakek itu tidak mau mengakui Mami sebagai cucunya?" tanya Khan dengan emosi.


"Jangan marah dan sabar dulu, Pi!"

__ADS_1


"Papi emosi ini, Papi sebut saja kakek itu adalah kakek yang durhaka dengan cucunya sendiri."


"Waduh ...!"


__ADS_2