Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 191. Aksi Vefe


__ADS_3

Besok terpaksa Bunda Fatia dan Ayah Jose harus kembali ke Manhatten. Pekerjaan yang lama hanya dikerjakan lewat online. Harus mulai dilakukan dengan kehadiran CEO perusahaan.


Siang ini Bunda Fatia harus mencari pesanan si cucu cantik Freya. Meminta Vefe untuk menemani mencari pesanan ke mall ternama di Jakarta. Sambil mendorong stroller baby Aaron mereka menyusuri mall yang terlihat ramai.


Hari ini Vefe mengenakan celana panjang jeans dan kaos bermerk yang nyaman. Topi bulat, kaca mata hitam serta rambut yang dibiarkan terurai. Penampilannya terlihat modis dan trendi layaknya ibu muda sosialita.


Satu persatu pesanan Freya terkumpul. Mulai boneka, makanan favorit sampai pernak-pernik khas Indonesia. Hanya tinggal papan permainan congklak yang belum didapat.


Papan permainan congklak milik Freya rusak. Sehingga dia meminta untuk dibawakan langsung dari Indonesia. Biasanya dijual di toko khusus untuk anak-anak.


"Ayo kita lihat di toko yang ada di pintu utama mall, Bun!" ajak Vefe.


"Iya ... boleh juga, khusus yang congklak ini harus dapat, Nak."


"Apakah itu permainan favorit Freya, Bun?"


"Sebentar tidak juga, itu karena saat dia umur lima tahun dia mendapatkan piala karena congklak itu, dia sangat bangga karena di bilang telah melestarikan permainan dari tanah kelahiran."

__ADS_1


"Ceritanya Freya ikut lomba?"


Bunda Fatia bercerita saat cucunya masuk sekolah taman kanak-kanak di Manhatten. Ada lomba permainan yang berasal dari negara masing-masing. Bertepatan dia ulang tahun saat itu.


Khan memberikan hadiah papan permainan congklak. Bukan anak Indonesia jika tidak mengenal permainan tradisional itu. Itu pesan Khan saat itu dan tidak lupa mengajari cara bermainnya.


Saat dibawa ke sekolah dan ikut dilombakan. Freya meraih juara satu karena dalam permainan itu ada edukasi tentang menghitung. Piala pertama yang di terima sangat terkesan sampai saat ini.


Jika rusak pasti Freya akan meminta untuk dibelikan langsung dari Indonesia. Gadis kecil itu tidak mau dianggap melupakan tradisi negara sendiri. Menganggap congklak adalah jati diri dan cara mencintai Indonesia.


Bunda Fatia belum sempat menjawab ucapan Vefe. Ada rombongan masuk dengan di kawal oleh pasukan khusus. Sebagian pengunjung harus memberikan jalan kepada rombongan.


Pasukan khusus sibuk mengatur agar perjalanan rombongan lancar. Tanpa sengaja ada benda yang terjatuh dari lantai atas. Benda itu terjun tepat menuju rombongan.


Vefe langsung berlari dengan cepat. Mengambil ancang-ancang dan melompat tinggi. Menendang dengan menggunakan kaki kanan sambil melayang ke udara.


Benda yang terjatuh dari atas tepat di tendang Vefe melesat ke pojok lift. Membentur pinggir pintu lift dengan keras. Sehingga orang yang hampir terkena terselamatkan atas aksi Vefe.

__ADS_1


Suara benturan benda dan lift terdengar keras. Banyak orang yang melihat aksi Vefe. Aksinya seperti sedang berjalan di udara dan menendang benda dengan cepat.


Saat Vefe menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ternyata yang diselamatkan adalah kakeknya sendiri. Kebetulan benda itu hampir mengenai kepalanya.


Bergegas Vefe menurunkan sedikit topi agar wajahnya tidak terlihat. Tidak ingin diketahui identitas dirinya. Tidak ingin dituduh mencari perhatian atau pencintraan diri.


Banyak orang yang mengabadikan adegan itu. Terutama saat Vefe melompat dan menendang benda yang terjatuh dari atas. Hanya wajah Vefe yang tidak terlihat jelas karena topi bulat dan kaca mata.


Sesaat perhatian tertuju pada ketua anggota dewan yang hampir terkena lemparan benda. Apalagi pengawal langsung berlari menuju lantai untuk memastikan orang yang telah melemparkan benda. Ada juga pengawal yang memeriksa benda yang tergelak di samping lift.


Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Vefe untuk mundur tanpa diketahui. Berjalan menunduk sambil memasukkan kedua tangannya di celana jeans. Berjalan di antara mereka yang fokus sedang memperhatikan pengawal yang sedang sibuk menyelidiki benda yang jatuh.


Belum diterima dan diakui oleh kakek kandung, Vefe tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan wajahnya. Tidak ingin kecewa lagi untuk yang kedua kalinya. Lebih baik pergi dan kembali bergabung dengan Bunda Fatia yang juga kaget melihat Pak Raharjanto.


Belum sempat Vefe mendekati Bunda Fatia. Posisi wajahnya masih membelakangi rombongan anggota dewan. Tiba-tiba langkah Vefe terhenti karena ada panggilan dari kakeknya, "Tunggu ...!" teriak.


" ...?"

__ADS_1


__ADS_2