
Yang awalnya Vefe kesal karena melihat Kak Mursida sedang mabuk. Mendadak tertawa terbahak-bahak mendengar ucaman Pak Umar. Laki-laki setengah baya itu sekali berucap langsung menohok sampai ke jantung.
"Rayu saja Bang Satria, biar di jemur di tiang bendera sama Mbak Nina," kata Vefe sambil melirik Asisten Satria.
"Ogah banget sama Kak Mur, orangnya aneh begitu," jawab Asisten Satria dengan kesal.
"Kamu saja tidak mau apalagi aku, sana dibuang saja pasangan baut itu ke laut." Khan ikut berkomentar karena kesal melihat siaran langsung di ponsel milik Asisten Satria.
"Paling tidak dia sekarang ini sudah menyadari jika yang dilakukan adalah salah, Menyadari juga setelah teman dan keluarga sebagian meninggalkan Kak Mur," kata Vefe lagi.
"Kalau begitu kita pulang yok, Mami!"
"Eee enak aja mau pulang, Mami berencana tinggal di sini lebih dari satu bulan," jawab Vefe dengan mengerucutkan bibirnya.
Khan dan Asisten Satria saling pandang, baru beberapa hari saja pekerjaan mulai menumpuk. Perbedaan waktu dan jarak akan membuat perbedaan cara mengerjakan pula. Tidak cukup satu atau dua minggu untuk menyesuaikan diri.
"Kenapa, apakah Papi berniat pulang sekarang?" tanya Vefe terlihat emosi.
"Slow Mami, sampai lahiran di sini Papi tidak masalah."
"Mengapa Papi dan Bang Satria wajahnya seperti itu, apa sedang berkencan ingin bertemu Kak Mur karena kasihan?"
"Jangan menuduh yang macam-macam dong, Nyonya. Mendengar namanya saja saya sudah ilfil," jawab Asisten Satria.
"Mami sekarang curiga aja sih sama Papi. Tidak mungkinlah Papi mau sama pasangan baut itu."
Satu bulan berlalu, Vefe semakin nyaman tinggal di villa yang ada di Sulawesi. Udara yang masih bersih dan tidak banyak polusi. Tidak banyak kemacetan saat perjalanan keluar villa. Ditambah dengan menu makanan ikan yang sangat cocok di lidah Vefe selama hamil, membuat Vefe enggan kembali ke Jakarta.
Tidak mengalami mabuk berat dalam satu bulan ini. Hanya muntah saat bangun tidur dan akan berkurang setelah minum jahe hangat. Selama hamil paling sering makan sea food tanpa menggunakan nasi dengan olahan masyarakat setempat.
Mendengar kabar Kak Mursida mulai memimpin perusahaan lagi. Baby Ara diasuh saudara yang datang dari Kalimantan. Tidak juga membuat Vefe berniat untuk pulang ke Jakarta.
__ADS_1
Dalam satu bulan ini, Khan mengadakan meeting penting ke Jakarta dua kali. Itupun hanya meeting saja dan langsung kembali menyusul Vefe dan baby Aaron. Bahkan mampir ke rumah saja tidak dilakukan oleh Khan.
Minggu ini waktunya Vefe periksa kandungan. Saran Dokter Ega bulan lalu agar melakukan USG. Jadi harus ke rumah sakit untuk pemeriksaan bulan ini.
Malam ini pukul sebelas malam, Vefe meminta Pak Gun membuatkan menu ikan kakap palumara. Masakan ikan berkuah kuning berpadu tomat dan belimbing wuluh terasa sangat segar dan gurih. Vefe bisa tambah beberapa kali jika makan tanpa nasi.
"Mau tambah lagi, Mami?" tanya Khan menemani Vefe makan ikan kakap palumara di ruang makan.
"Tunggu dulu, Pi. Ini masih ada mangkuk yang kedua belum habis."
"Ini kira-kira masih ada dua mangkuk lagi, Mi."
"Papi aja yang makan, Mami satu lagi saja."
"Jadi Papi harus makan ini?" Khan dari tadi hanya menemani Vefe makan, tetapi tidak ikut makan.
"Iya cepat Papi makan juga, enak banget ini!"
Sambil menikmati makan ikan palumara. Khan teringat har Minggu ini harus periksa dokter kandungan, "Mami mau periksa di rumah sakit sini atau sama Dokter Ega?"
"Mami maunya Dokter Ega, kemarin Mami sudah melihat daftar dokter yang di rumah sakit sini dokter kandungan laki-laki semua. Apakah Papi mengizinkan Mami periksa ke dokter laki-laki?"
"Enak aja, tidak boleh dong. Itu hanya milik Papi."
"Kita sudah berapa hari di sini, Papi?"
"Satu bulan setengah."
Vefe terdiam sejenak, teringat dulu tujuan awal ingin meredam emosi agar tidak marah dengan yang dilakukan Kak Mursida. Saat tahu waktu itu kemungkinan hamil, berusaha tidak ingin emosi demi bayi yang ada dalam kandungan.
"Minggu malam saja kita pulang, Senin pagi Papi buat janji dengan Dokter Ega!"
__ADS_1
"Perintah di laksanakan."
Harapan dan keinginan Khan terkabul setelah dua kali periksa ke rumah sakit dalam dua bulan ini. Bayi yang akan lahir nanti adalah bayi perempuan. Khan semakin memperhatikan Vefe dengan menjadi suami siaga.
Memasuki kandungan enam bulan Bunda Fatia tinggal di Jakarta. Hanya Ayah Jose dan Asisten Ardi dan keluarga yang tinggal di Manhatten. Ditambah keluarga Elya yang menemai Ayah Jose.
Dengan di bantu Umi Maryam, Bunda Fatia selalu memperhatikan kesehatan selama Vefe hamil. Juga membantu mengasuh baby Aaron yang semakin besar dan tidak lagi minum ASI.
Setelah kandungan Vefe memasuki bulan ke delapan, Mommy Astrid juga datang. Tidak ingin melewatkan momen penting putri kandung. Tekat Mommy Astrid ingin menebus masa lalu yang terlewat dulu.
Tanpa terasa waktu terus berlalu, Vefe tinggal menunggu hari untuk melahirkan. Bukan hanya Khan yang menjadi suami siaga. Tiga oma cantik juga menjadi oma siaga. Mereka merawat dan menunggu ibu hamil dengan bergantian.
Waktunya lahir tiba, tidak hanya Khan yang mendampingi. Tiga oma cantik juga masuk ruang bersalin memberikan semangat. Ruang bersalin seperti pasar karena celotehan tiga oma yang panik.
Dokter Ega hanya menggelengkan kepala saat mendengar tiga oma yang panik sendiri. Ditambah Khan yang berkaca-kaca melihat perjuangan Vefe melahirkan. Suasana semakin tidak karuan saat Vefe berkali-kali kehabisan napas ditengah jalan saat bayi hampir keluar.
"Para Oma cantik diam sebentar, Satu orang saja yang bemberikan aba-aba. Siap ya ambil napas panjang, doroooong!!"
"Aarrgh!" teriak Vefe bersamaan lahirnya bayi mungil, putih dan cantik berwajah blasteran.
"Alhamdulillah."
Air mata Khan menetes di pipi, antara bahagia dan tidak tega melihat perjuangan Vefe, "Sudah lahir putri kita, Pi. Kok malah cengeng?"
"Terima kasih Mami memang yang terbaik dan terkuat. baby Khanza Melinda Alhakhan ada bersama kita sekarang."
Hari-hari Vefe dan Khan dipenuhi kebahagiaan kini. Kehadiran putra dan putri mereka menambah kehidupan semakin berwarna. Ditambah oma dan opa yang sangat menyayangi cucu mereka, semakin membuat kehidupan menjadi lebih sempurna.
Bisnis semakin berkembang dan semakin besar seiring Aaron dan Khanza tumbuh besar. Tidak ada lagi yang berani mendekati Khan setelah Vefe selalu siaga satu bagi siapa saja yang berusaha menyukai suami tercinta. Mereka hidup bahagia dengan lika-liku yang penuh warna.
TAMAT.
__ADS_1
Shobat Anna terima kasih selalu mengikuti cerita Khan dan Vefe sampai tamat. Langsung ke novel Elfa dan Juan ya. Insyaallah nanti akan author lanjutkan cerita Aaron dan Khanza. Mohon maaf jika ada salah kata dan tidak berkenan di hati Sobat Anna semua. Terima kasih.