
Padahal hati Khan sudah mulai mencair ingin menghentikan mengerjai Merry. Setelah mendengar dia menggerutu, Khan kembali melanjutkan niatannya, "Ke sini, Kamu!"
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud menghina istri Anda."
"Aku mendengar jelas ucapan kamu tadi."
"Maaf ...."
Ibu pemilik butik datang karena mendengar suara Khan yang meninggi. Padahal saat di tinggal tadi Khan mulai tersenyum dan merayu istrinya. Sekarang menjadi was-was jika Khan membatalkan pembelian gaun.
"Merry, kamu membuat ulah apa lagi?"
"Merry tidak bermaksud ...?" Merry menunduk tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Khan menatapnya dengan tajam.
Vefe mengusap lengan Khan agar tidak emosi. Dia langsung berbisik di telinga Khan, "Jangan emosi lagi, Mas. Ve sudah laper, cepat milih gaunnya."
Khan menjadi punya ide saat Vefe lapar ingin makan, "Ve ingin makan apa?"
"Makan bakso di depan butik itu saja." Vefe juga menjawab dengan berbisik.
Khan segaja menjawab dengan suara keras agar pemilik butik mendengar, "Sayang mau makan bakso?" Vefe nenjawab dengan mengangguk.
Dengan cepat pemilik butik memerintahkan Merry untuk membelinya, "Merry ... Kamu saja yang membelikan bakso!"
"Tapi ... Bu?"
"Jangan membantah, kerjakan sekarang, karena kamu telah membuat kesalahan besar hari ini!"
"Itu biasanya pekerjaannya cleaning service, Bu." Merry masih membantah perintah pemilik butik.
"Hari ini kamu turun jabatan karena atitutmu yang rendah, sekali lagi kamu membantah, Ibu turunkan jabatanmu menjadi cleaning service betulan kamu mau?"
__ADS_1
"Jangan dong, Bu. Baiklah Merry pesan baksonya sekarang."
Merry berlari keluar butik dengan tergesa-gesa. Dia hampir menabrak pelanggan butik yang baru datang. Ingin menghindar sampai kaki Merry tertekuk dan sepatu high heels terpecok.
"Aaarrgh ....." Merry berjalan terpincang.
Merry baru ingin keluar pintu utama butik, pemilik butik berteriak dan memanggil lagi, "Merry ...!"
"Iya Bu!"
"Kamu belum bertanya kepada Nyonya Khan bakso apa yang diinginkan main pergi saja, kembali ke sini cepat!"
"Baiklah."
Dengan jalan terpincang Merry mendatangi Vefe dengan wajah di tekuk. Membungkukkan badannya dan mencoba untuk tersenyum, "Nyonya bakso apa yang Anda inginkan?"
"Bakso urat di tambah sayuran dan sambal serta saos, jangan diberikan kecap," jawab Vefe.
"Dua jus jeruk."
"Dua gelas?"
"Iya dua gelas yang satu untuk suamiku."
"Ooo baiklah."
Pemilik butik langsung memberikan perintah lagi, "Baksonya dua porsi Merry, untuk Tuan Khan juga!"
"Ok siap, Bu."
Khan tersenyum puas melihat teman Vefe mendapatkan hukuman. Semoga akan membuat dia berpikir ulang jika akan bertindak hal yang kurang sopan. Tak seorangpun boleh menghina orang yang sangat di cintai.
__ADS_1
Khan sudah memilih gaun tujuh pics untuk Vefe sebelum Merry datang. Dia langsung memberikan kartu ATM black card pada pemilik butik. Bersamaan Merry membawa bakso dan jus jeruk sesuai pesanan.
"Ini baksonya, Tuan. Selamat menikmati."
"Terima kasih, kamu boleh beristirahat. Lain kali jaga mulut kamu jika kamu ingin dihargai oleh orang lain." Khan mengibaskan tangannya agar Merry pergi.
"Baik, Tuan. Sekali lagi maaf."
Khan tidak menjawab ucapan Merry. Dia langsung mengambil mangkuk berisi bakso, "Sayang sini Mas saja yang suapin baksonya!"
"Eee Ve mau makan sendiri."
"Jangan dong, Sayang. Nanti kalau kakinya tambah besar bagaimana?"
"Tidak ada hubungannya, Mas."
Khan tersenyum melihat Vefe menjawab sambil mengerucutkan bibirnya, "Ayo buka mulutnya!"
Sambil menungu kasir menggesek kartu milik Khan. Khan menyuapi Vefe dengan telaten. Tidak memperdulikan orang yang memandang mereka dengan heran.
Keluar dari butik Vefe bertemu dengan Merry lagi di depan butik. Dia sedang bersama seorang pria yang memakai seragam security. Terlihat Merry bercerita dengan emosi dan pria itu hanya mendengarkan saja.
Vefe sangat mengenal pasangan yang sedang berdiri di depan butik. Saat SMA mereka adalah pasangan yang tidak terpisahkan. Mereka selalu menjadi idola dan menjadi panutan siswa lainnya.
Pria itu termasuk idaman para siswi karena tampan dan pemain basket. Dia juga pintar, juara kelas dan berprestasi di bidang olahraga. Dia juga yang pernah di taksir oleh Vefe.
Saat Vefe lewat dengan tangan di gandeng oleh Khan. Pria itu tersenyum dan membungkukkan badannya kepada Khan. Dia tidak lagi mendengarkan cerita Merry yang menggebu-gebu.
"Tuan ... selamat malam."
"Ngapain kamu di sini?"
__ADS_1