Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 221. Puber ke Tiga


__ADS_3

Yang awalnya Khan mulai mengawali untuk ke ronde kedua. Diurungkan karena melihat wajah Vefe yang terlihat khawatir. Khan mengusap pipi dan duduk di pinggir tempat tidur, "Ada apa Mami Sayang?"


"Ayo kita mandi dulu, Pi. Ditunda sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan ronde keduanya!" Vefe langsung loncat dan turun dari tempat tidur berlari ke kamar mandi walau masih polos.


"Iiiih ... Mami, ditunda tetapi kok berjalan polos begitu membuat senjata tombak tomahawk dag dig dug," gerutu Khan masih tetap duduk di pinggir tempat tidur.


"Maaf ... Mami buru-buru, ayo cepat ... Papi ikut atau tidak ke panti asuhan?"


"Ada apa sih di panti asuhan?"


Vefe sudah masuk ke kamar mandi saat Khan bertanya. Vefe tidak mendengar karena pintu sudah tertutup, "Yaaaah ... Mami, tega banget sih membuat Papi penasaran."


Dengan gontai Khan menyusul Vefe ke kamar mandi. Sambil cemberut dan mengerucutkan bibir karena gagal modusnya yang ke dua. Ikut juga berjalan polos tanpa ada benang sehelaipun yang menempel di badan.


Masuk kamar mandi melihat Vefe mandi dengan cepat, "Mi ... tunggu Papi, jangan buru-buru dong!"


"Cepat dong, Pi. Mami di tunggu Umi!"


"Ada apa dengan Umi?"


"Nanti saja Mami ceritakan, ayo cepat Mami bantu biar Papi cepat selesai!"


"Eeee nanti Papi malah tidak tahan, Papi mandi sendiri saja."


"Baiklah ... cepat ya, Mami keluar duluan. Ingat mandinya cepat jangan lama-lama, kalau perlu mandi bebek saja!"


"Apa itu mandi bebek?"


"Mandi tanpa sabunan," jawab Vefe sambil nyengir kuda dan berlari ke luar kamar mandi sambil menyambar handuk yang menggantung.


"Lah ... apa rasanya mandi tidak pakai sabun?"


Khan mandi tetap memakai sabun. Keramas dan melakukan ritual mandi besar juga dengan cepat. Tidak ingin ditinggal oleh Vefe ke panti asuhan.


Khan keluar kamar mandi sudah tidak melihat Vefe. Khan menyambar baju yang sudah dipersiapkan Vefe di atas tempat tidur. Melempar handuk begitu saja tanpa dikembalikan di tempatnya.


"Mami ...!" teriak Khan berjalan setengah berlari menuruni tangga.


"Nyonya sudah menunggu Anda di garasi, Tuan," jawab Bibi dari arah dapur.


"Pak Gun ke mana, Bi?"


"Pak Gun sudah berangkat duluan bersama Nyonya Bunda dan Tuan Jose."


"Aaron ikut siapa, Bi?"


"Digendong Nyonya Bunda, Tuan."


"Ooo terima kasih, Bi."


"Sama-sama, Tuan."

__ADS_1


Sambil berjalam cepat menuju garasi. Khan terus memikirkan yang terjadi di panti asuhan. Tambah penasaran karena kedua orang tua juga ikut ke sana.


"Mami ...!"


"Ayo cepat, Pi!" Vefe duduk di kursi kemudi mobil yang mesin sudah menyala.


"Eeee geser, jangan Mami yang menyetir!"


"Tetapi ngebut ya, Pi!"


"Mami ini ... tidak boleh."


Setelah mobil keluar dari rumah dan berjalan dengan kecepatan sedang di jalan raya, "Sebenarnya ada apa sih, Mi?"


"Entahlah ... Mami juga kurang jelas, kata Umi ada Kakek Raharjanto di panti asuhan."


"Apakah karena Kakek Raharjanto, Umi marah dan emosi?"


"Sepertinya begitu."


"Kakek salah apa?"


"Mami juga tidak faham, Pi."


"Mengapa Ayah dan Bunda ikut ke sana juga?"


"Kalau mereka ingin berkunjung ke panti asuhan saja, tidak ada hubungannya dengan Umi Maryam yang marah. Mami tidak bercerita."


"Ooo ...."


"Assalamualaikum." Khan dan Vefe mengucapkan salam bersamaan.


"Walaukum salam."


Setelah Khan dan Vefe mencium punggung tangan Kakek Raharjanto bergantian. Khan ikut duduk bergabung di ruang tamu. Vefe melihat area panti asuhan mencari Umi Maryam.


"Di mana Umi?"


"Tadi pamit ke kamar mandi," jawab Kakek Raharjanto.


"Terima kasih, Kek. Ve mau menemui Umi sebentar."


"Iya sana!"


Vefe langsung menuju kamar Umi Maryam. Mengetuk pintu perlahan sambil memanggilnya. Pintu terbuka sedikit dan Vefe langsung di tarik masuk ke dalam kamar.


"Diam ... Nak, jangan berisik," kata Umi Maryam sambil meletakkan jari di bibir.


"Ada apa, Umi?" tanya Vefe juga ikut berbisik.


"Sini duduk dulu!"

__ADS_1


"Ya ... terima kasih."


"Umi sedang kesal sama kakek kamu."


"Ada apa dengan kakek, Umi?"


Umi Maryam bercerita sambil berbisik agar tidak terdengar dari ruang tamu. Namun matanya terlihat merah karena menahan amarah. Terlihat Umi Maryam kesal dan sangat marah.


Umi Maryam menceritakan hampir satu minggu ini Kakek Raharjanto selalu datang ke panti asuhan. Banyak alasan yang digunakan setiap kali datang. Bahkan sehari terkadang dia datang dua sampai tiga kali.


Setiap datang selalu membawa makanan untuk anak panti. Terkadang membawa sembako demgan jumlah besar. Terkadang hanya mengantar kebutuhan satu anak panti saja.


Setiap datang Kakek Raharjanto tidak akan pulang sebelum bertemu Umi Maryam. Umi Maryam sedang istirahat pun ditunggu sampai mau menemui. Terkadang sampai malam baru berpamitan pulang.


Kakek Raharjanto selalu datang sendiri tanpa ada yang mendampingi. Mengendarai mobil sendiri tanpa diantar oleh sopir. Padahal di hari biasa, Kakek selalu di antar oleh sopir dan di kawal ajudan.


Vefe menutup mulut karena tidak ingin tawanya didengar tamu. Mendengar cerita Umi Maryam yang emosi dan marah. Namun Vefe justru tertawa walau ditahan.


"Mengapa Nak Ve malah tertawa?"


"Kalau mendengar cerita dari Umi, sepertinya Kakek Raharjanto sedang puber ketiga, Umi."


"Maksudnya kakek tua itu sedang jatuh cinta?"


Vefe mengangguk sambil menahan tawa. Mulutnya terus di tutup agar tidak terdengar. Tidak ingin para tamu mengetahui jika Umi Maryam tidak berada di kamar mandi.


"Jatuh cinta sama siapa?"


"Ya sama Umi lah, sama siapa lagi?"


"Eeee ngawur aja, dari mana Nak Ve bisa menyimpulkan seperti itu?"


"Dari cerita Umi barusan."


Umi Maryam mengerutkan keningnya melihat Vefe yang terus menahan tawa. Dari kemarin merasa risih karena kakeknya Vefe itu selalu datang. Terkadang datang saat di waktu yang tidak tepat.


"Apakah Umi tidak merasakan getaran cinta pada puber ketiga?" tanya Vefe sambil bercanda.


"Idih ... tidak ada puber ketiga, Umi sudah tua dan tidak mau macam-macam."


"Maaf ... Umi, Ve hanya bercanda."


"Bercandanya tidak lucu, jadi bagaimana ini?"


Vefe hanya tersenyum dan mengusap pundak Umi Maryam. Dari kecil sangat mengenal pribadi ibu angkat yang merawatnya sejak bayi. Wanita tangguh yang selalu setia dan cinta kepada almarhum Abi Syam sang suami.


Vefe tahu jika Umi Maryam tidak pernah berniat menikah lagi setelah di tinggal Abi Syam. Walau Umi Maryam dan Abi Syam tidak memiliki keturunan. Umi Maryam tidak pernah berpaling dan tidak pernah berniat menikah lagi.


"Jadi bagaimana ini, Nak?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


yok mampir ke novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih.



__ADS_2