
Sania Parwati langsung berdiri saat papar bag melayang sampai meja kerjanya. Isi makanan yang di kirim ke Khan ada saos BBQ sehingga saos itu tumpah mengenai meja dan menetes terkena rok mininya.
"Yang sopan ya masuk kantor orang!" teriak Sania Parwati sambil mengusap rok mininya menggunakan tisu.
"Itu belum seberapa ya, dibanding dengan kelakuan kamu, gara-gara lamu aku dan resepsionis terkena murka Tuan Khan."
"Apa salahku?" Sania Parwati pura-pura tidak tahu dan terus mengusap roknya yang masih basah.
"Dasar otak udang, kamu masih tanya apa salahmu, apa mau aku tumpahkan saos ini ke otakmu biar kamu sadar?"
Asisten Satria mengambil kembali paper bag. Mengangkatnya ke atas kepala Sania Parwati. Saos itu menetes sampai di lantai samping kaki Sania Parwati berdiri.
"Jangan ... Apa salahku? aku hanya mengirim makan siang untuk Mas Khan!" teriaknya.
"Kamu bertanya apa salah kamu, apakah perlu aku ratakan dengan tanah kafe ini agar kamu mengerti?" Asisten Satria semakin marah setelah Sania Parwati mengakui mengirim makanan kepada Khan.
__ADS_1
"Di mana letak kesalahahnku?"
"Di otakmu yang tidak penuh itu, Tuan Khan merasa kamu merendahkan dia, dia masih mampu membeli makannya sendiri, tidak perlu kamu kirimi makanan gratis, Kamu mengarti?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku ...!" Tangan Asisten Satria membanting paper bag ke lantai, sampai dia tidak melanjutkan ucapannya.
Saos BBQ berserakan di lantai setalah paper bag itu terjatuh. Emosi Asisten Satria semakin memuncak saat Sania malah menendang paper bag itu. Saos BBQ semakin banyak berserakan di lantai.
"Biarkan saja sekalian kotor kantorku, nanti akau viralkan seorang asisten perusahaan ternama telah menganiaya calon istri Tuannya," kata Sania Parwati emosi.
Sania Partwati terdiam dan berdiri terpaku. Tidak lagi menjawab perkataan Asisten Satria. Ucapan dan ancamannya membuat nyalinya ciut.
Asisten Satria membuka ponsel dan sengaja mengambil foto ruang kantor berkali-kali, "Ini sudah aku foto, silahkan kamu foto juga, kita tanding siapa yang akan menang perang viral, satu yang harus kamu ingat aku punya banyak bukti kalau Tuan Khan menolak kamu!" Kembali Asisten Satria berteriak karena kesal.
"Tidak jadi," Sania duduk di kursinya kembali sambil membersihkan saos yang ada di meja karjanya.
__ADS_1
"Dasar wanita gila, sekali lagi kamu mengirim paket makanan ke Tuan Khan foto kamu, dan foto yang baru saja aku ambil akan aku viralkan."
"Jangan dong, Satria!" teriaknya.
"Kamu mengerti tidak kata-kata di tolak ingat kamu sudah ditolak berkali-kali, hah?" Asisten Satria semakin emosi dan marah.
Sania Parwati tidak menjawab pertanyaan Asisten Satria. Dia terus saja membersihkan meja menggunakan tisu tanpa melihat wajah Asisten Satria yang semakin marah. Seolah pikiran dan hatinya tidak sejalan saat ini.
"Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan karena tingkahmu yang konyol dan gila itu, sekali lagi kamu membuat ulah di kantor, tidak hanya Tuan Khan yang akan meratakan dengan tanah kafe ini, aku sendiri yang akan membawa bulldozer ke sini!"
Sania Parwati membelalakkan matanya, "Apakah Mas Khan mengatakan akan meratakan dengan tanah kafe milikku?"
"Iya bukan hanya meratakan dengan tanah dia sudah muak dengan tingkahmu, dia ingin mengirim kamu ke rumah sakit jiwa agar mengerti arti dari ditolak."
Asisten Satria keluar dari kantor Sania Parwati dengan membanting pintu dengan keras. Membuat Sania Parwati kaget dan memegangi dadanya. Tidak memperdulikan orang memandang dengan heran karena dia keluar kafe dalam keadaan marah.
__ADS_1