
Khan tersenyum simpul saat Vefe melepas tangannya dan bertanya. Tidak menjawab hanya mempersilahkan Vefe duduk di gazebo. Dan ikut duduk di sebelah Vefe setelah dia duduk dan sambil melepas sepatunya.
"Mas pulang ke Jakarta kapan?"
"Belum tahu sih, tergantung Vefe."
"Apa hubungannya dengan Ve?"
Khan gelagaban saat di tanya oleh Vefe. Tadi menjawab dengan sekenanya dan yang ada dalam pikirannya. Sekarang jadi bingung harus menjawab dengan alasan yang tepat.
"Maksud Mas, siapa tahu Ve memiliki tujuan lain selain pertandingan, Mas bisa mengantar."
"Tidak ... Ve tidak memiliki keluarga satupun apalagi di Surabaya."
"Ve bisa memiliki Mas." jawab Khan hanya saja di dalam hati dan Vefe tidak mendengarnya.
"Mas bawa mobil dari Jakarta ke sini?"
"Tidak sih, mungkin Mas pulang nanti malam, tetapi kemungkinan Sabtu sore kembali ke sini karena ada pekerjaan."
__ADS_1
Vefe mengerutkan keningnya berpikir sekarang hari Kamis. Hanya berbeda dua hari akan kembali. Pasti akan menghabiskan banyak uang untuk membeli tiket. Dalam bayangannya Khan menggunakan pesawat komersil bukan helikopter milik pribadi.
"Siapa tahu hari Minggu nanti naik pesawat bareng Ve, Mas sudah membeli tiket?"
Khan tersenyum mengangguk, tidak ingin bercerita jika datang menggunakan helikopter. Justru berniat sekali-kali membeli tiket pesawat komersil. Padahal pesawatpun sebenarnya dia punya.
"Boleh juga ... Ve kirim aja pesawat dan nomor penerbangan pesawat, siapa tahu Mas bisa satu pesawat dengan Ve!"
Vefe mengangguk dan mengirim tiket pesawat yang dibelinya lewat online. Tiket yang di kirim oleh Abah Guru yang membelikannya. Semua tiket dan akomodasi sudah di tanggung oleh perguruan.
Khan langsung tersenyum dan meneruskan tiket itu di kirim ke Asisten Satria. Bercerita jika nanti Sabtu sore akan kembali ke Surabaya untuk menonton pertandingan final. Berangkatnya ke Surabaya dengan helikopter tetapi pulangnya akan naik pesawat komersil bersama Vefe.
"Mas aja dulu, Ve ikut Mas aja."
"Mas belum sempat makan dari pagi, Mas memilih nasi ayam bakar madu saja, Kita langsung pesan empat porsi ya?" tanya Khan.
"Iya terserah Mas aja."
"Mau minum apa?"
__ADS_1
"Es teh saja."
Khan memesan dengan di tulis menggunakan tap yang di sodorkan oleh pelayan restoran. Menyerahkan kembali setelah selesai pesanan di tulis. Hanya menunggun tidak kurang dari sepuluh menit semua pesanan sudah berada di depan mereka.
"Ayo makan Ve!"
"Sebentar Mas, Ve panggil Gi dan Ji."
Saat Vefe akan turun dari gazebo, Khan yang terlebih dahulu turun, "Ve di sini saja, Mas yang akan memanggil mereka."
"Baiklah ...."
Saat Khan berjalan mencari Gi dan Ji, ponsel Khan yang berada di samping Vefe berdering. Vefe hanya melirik nama yang ada di ponsel itu dan membacanya lirih, "Bunda Fatia ...apakah dia itu ibu kandung dari Mas Khan? Diangkat tidak ya?" monolog Vefe sendiri.
Sampai suara dering itu mati Vefe tidak berani mengangkatnya. Ada lagi suara dering panggilan masuk di ponsel Khan. Kali ini hanya tercantum nomor ponsel dengan ada wajah wanita cantik.
Vefe hanya melihat saja tetap tidak berani mengangatnya sama sekali. Dia hanya bertanya dalam hati siapa wanita cantik yang sudah menghubungi. Bahkan dering itu sampai tiga kali berbunyi.
Khan datang bersama dengan Gi dan Ji. Bersamaan dengan nada dering ponsel Khan berbunyi lagi dengan nomor dan wajah wanita cantik yang sama. Khan melihat sambil mengerutkan keningnya saat ponsel itu tidak berhenti berdering.
__ADS_1
Dengan sengaja ponsel langsung di matikan oleh Khan tanpa di jawab atau di terima. Vefe jadi bingung dan heran, "Mengapa tidak di terima panggilan ponselnya, Mas?"