
Khan sedang duduk berhadapan dengan Kakek Raharjanto. Ada Asisten Satria di samping Khan sambil memangku baby Aaron. Mendengarkan dengan seksama Kakek Raharjanto yang bercerita dengan setengah emosi.
Dari dulu Kakek Raharjanto sudah melarang Tante Suprapti untuk ikut perkumpulan arisan dan koperasi ibu-ibu sosialita. Akan menurunkan elaktibilitas seorang mantan ketua dewan jika putrinya ikut tergiur arisan dan investasi yang ilegal. Namun Tante Suprapti tidak mendengarkan nasihat ayahnya.
Setelah sekarang hampir terbukti bermasalah arisan dan koperasi. Tante Suprapti tidak mau disalahkan dengan alasan investasi sudah di tarik dua minggu lalu. Walaupun masih ada sepuluh persen yang masih di investasikan pada kelompok ibu-ibu sosialita.
"Apakah Kakek sudah menyelidiki tentang perkumpulan sosialita dari Tante Prapti?" tanya Khan setelah Kakek Raharjanto selesai bercerita.
"Belum ... Kakek ingin Nak Khan saja yang mencari informasi karena tadi Prapti bercerita jika pimpinan arisan itu pernah dijodohkan sama Nak Khan."
Khan hanya nyengir kuda saja mendengar ucapan Kakek Raharjanto. Sebenarnya enggan membicarakan wanita yang dulu selalu mengejar. Dan selalu berusaha mendekati dengan memaksa walau sudah di tolak berkali-kali.
Akhirnya Asisten Satria yang bercerita tentang Eno kepada Kakek Raharjanto. Khan menggendong baby Aaron yang terbangun dan mencari maminya. Sudah biasa jika putranya bangun tidur yang pertama dicari adalah Vefe, jika tidak ada pasti akan menangis sejadi-jadinya.
"Kita cari Mami, jangan nangis, ok!"
Baby Aaron tetap menangis sambil mengeluarkan bahasa yang tidak bisa diartikan. Walaupun Khan berbicara dan menghibur putranya, tetap saja dia terus menangis. Sambil berlari menuju rumah Tante Suprapti dan tergelak agar putranya diam, "Mami ... Papi dan Aaron ingin Mami sekarang!" teriak Khan.
Baby Aaron tergelak walau air mata masih membasahi pipi setelah melihat Vefe. Dengan spontan ibu-ibu teman Tante Suprapti menengok ke arah Khan. Vefe langsung berlari mendekati suami dan putranya, "Papi ... malu iiih kalau ingin Mami jangan di sini tetapi di rumah saja!"
"Eeee apa yang di pikirkan, Mami?" bisik Khan di telinga Vefe sambil melirik ibu-ibu yang melihat ke arahnya.
"Tadi Papi ngomong apa?"
Dengan tergelak sambil mengajak baby Aaron berbincang, "Ternyata sekarang Mami lagi ingin sesuatu, Nak. Kalau Aaron ingin apa pada Mami?"
Baby Aaron mulai tertawa renyah sambil bergumam bahasa planet yang susah diartikan. Perkembangan putranya semakin hari semakin bertambah. Jika diajak berbincang seolah bayi gembul itu ingin menjawab walaupun tidak diketahui apa jawabannya.
__ADS_1
"Aaron mau ASI?" tanya Vefe mengalihkan perhatian agar tidak membahas apa yang ada dipikirannya saat ini.
Khan langsung mengedipkan matanya, "Jangan pura-pura lupa, Papi juga mau seperti apa yang ada di pikiran Mami tadi."
"Otak Mami sekarang sering ketularan Papi, ngeres terus."
"Waaah Papi malah suka, jangan di sapu ya, Mi!"
Vefe hanya menggelengkan kepalanya sambil berjalan menuju rumah Kakek Raharjanto. Ingin memberikan ASI di kamar tamu yang berada di samping ruang tamu. Vefe langsung masuk ke kamar memberikan ASI untuk putranya.
Khan bergabung dengan Kakek Raharjanto dan Asisten Satria. Bersamaan Asisten Satria selesai bercerita tentang sepak terjang Eno. Satu yang menjadi perhatian dari Kakek Raharjanto yaitu calon suami dari Eno.
"Coba ceritakan tentang Toni Prawira!" perintah Kakek Raharjanto.
"Kakek kenal pengusaha itu?" tanya Khan.
Khan yang bercerita tentang Toni Prawira. Tidak banyak yang diceritakan tentang laki-laki gaek itu. Karena Khan tidak terlalu mengenalnya, yang dikenalnya adalah adiknya Doni Prawira.
"Kakek sangat mengenal ayahnya."
"Maksud Kakek mengenal Pak Prawira?"
"Ya laki-laki yang memiliki tato kupu-kupu di lengan."
Kakek Raharjanto hanya bercerita sekilas tentang keluarga Prawira. Dia adalah teman sekaligus tetangga kampung dari Almarhumah istrinya. Dahulu laki-laki itu pernah mengejar cinta istrinya.
Ayah dari Doni dan Toni Prawira adalah cerminan dari dua putranya. Yaitu seorang casanova ulung dan pandai merayu wanita. Namun jaman dulu disebut play boy cap kapak bukan casanova.
__ADS_1
"Tidak perlu kalian selidiki lagi deh, Kakek sudah bisa menebak bagaimana akhir ceritanya nanti," kata Kakek Raharjanto setelah selesai bercerita.
"Maksudnya, Kek?" tanya Khan.
"Kakek tidak bisa mengatakan sekarang, semoga saja tidak terjadi apa yang Kakek pikirkan saat ini. Semoga keluarga Prawira sekarang menjadi lebih baik, kita positif thingking saja."
Khan dan Asisten Satria hanya menganggukkan kepala. Tidak berani bertanya lagi tentang hal yang dipikirkan oleh Kakek Raharjanto. Hanya bisa menebak saja kemungkinan akan terjadi hal yang buruk sebentar lagi.
Dua hari kemudian, Khan sedang mengunjungi perusahaan yang ada di Bandung. Di dampingi oleh Asisten Satria dan mengajak Vefe dan baby Aaron. Akan ada acara hari eniversery perusahaan yang didirikan paling terakhir diantara perusahaan PT KURNIA.
Vefe masih terus dihubungi oleh Tante Suprapti tentang arisan dan koperasi ibu-ibu sosialita. Yang kemarin menduga kemungkinan mereka juga akan di berikan undangan dan tiket pesawat. Ternyata sampai hari ini kurang tiga hari lagi acara pernikahan undangan tidak kunjung datang undangan itu.
Tante Suprapti juga bercerita saat ini anggota ibu-ibu sosialita sedang mengadakan penggalangan dana untuk membeli tiket. Mereka ingin sekali menghadiri pernikahan walaupun tanpa undangan. Sebagian besar dari anggota itu mulai tidak sabar karena berita yang simpang siur.
Ada satu kabar lagi yang saat ini membuat ibu-ibu sosialita meradang. Tentang wakil Eno yang kemarin hilang bak di telan bumi. Nomor ponsel dan WA tidak bisa di hubungi, namun media sosialnya masih aktif.
Salah satu anggota ibu-ibu sosialita melihat postingan dari sang mantan asisten. Wakil Eno yang bernama Mayasari saat ini sedang berada di negara kincir angin Belanda. Bersama dengan seorang laki-laki yang hanya terlihat punggungnya saja.
Mayasari adalah perawan tua yang berumur tiga puluh lima tahun. Berasal dari Bogor dan pernah bekerja di salah satu Bank ternama. Kecakapannya dalam menjalankan tugas tidak diragukan lagi seperti kemampuan Eno.
Dia tinggal di sebuah apartemen bersebelahan dengan Eno. Hanya sayangnya saat dikunjungi apartemen itu sekarang sudah berpindah tangan. Sebelum mengundurkan diri Mayasari telah menjual apartemen kepada orang lain.
Vefe langsung menghubungi tantenya saat tantenya bercerita bahwa uang tiket sudah terkumpul dalam waktu setengah hari saja. Lengkap dengan akomodasi menginap di hotel selama beberapa hari. Dan di tambah berwisata juga di daerah Surabaya dan sekitarnya.
"Apakah Tante juga akan ikut ke Surabaya?" tanya Vefe melalui hubungan ponsel.
"Pasti itu, Nak. Tante juga penasaran tentang Jeng Wulan."
__ADS_1
Vefe terdiam sejenak teringat Kakek Raharjanto yang marah kepada Tante Suprapti tentang arisan dan koperasi ibu-ibu sosialita, "Apakah kakek dan suami mengizinkan, Tante?"