Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 124. Bubur Menado


__ADS_3

Sebelum Eno mengetuk pintu rumah Khan. Cak Mus membuka pintu sambil menunjukkan senyuman yang menawan. Eno tersentak kaget sampai memundurkan badannya beberapa langkah.


Yang di harapkan tuan rumah bukan tukang parkir yang pernah mengejarnya gegara pelet semar mendem. Dari tadi pagi memperhatikan rombongan bus yang berwisata. Hanya sayangnya tidak ada oang yang ingin di temuinya.


"Hai cantik ... Ingin bertemu Cak Mus yang gagah perkasa seberti gatutkaca," sapa Cak Mus sambil mengedipkan mata.


"Idih ... gatutkaca kok seperti tengkorak hidup, Eno ingin bertemu Mas Khan."


"Orangnya tidak ada, mereka sedang berwisata, aku yang menunggu rumah ini sekarang."


Eno menengok ke arah dalam rumah. Memperhatikan ke tangga dan area ruang tamu dan dapur yang terlihat jauh. Suasananya terlihat sepi seperti tak berpenghuni.


"Jangan bohong, Eno tahu karena dari tadi melihat bus yang berangkat tidak ada Mas Khan."


Cak Mus tergelak saat Eno menyebutkan rombongan bus. Tidak mungkin seorang Khan naik bus bersama rombongan. Padahal dia memiliki mobil pribadi yang nyaman digunakan.


"Eno sadar apa yang kamu katakan?" tanya Cak Mus.


"Mengapa tanya begitu, apa maksudnya?"


"Tidak mungkinlah seorang Khan naik bus. seorang sultan seperti dia cocoknya naik lambogini."


Eno menganggguk setuju ucapan laki-laki gaek yang ada didepannya. Tadi hanya fokus memeperhatikan bus saja. Tidak memperhatikan mobil yang berangkat bersamaan bus berangkat.


"Benar juga ya?"


"Ke sini mau ngapain?" tanya Cak Mus lagi.


"Eno hanya mau memberikan oleh-oleh dari luar kota. Eno baru pulang dari Papua."


"Bawa sini nanti Cak Mus sampaikan. Ini Buat Khan atau buat Bunda Fatia?"


Eno menggelengkan kepala sambil melirik ke dalam rumah lagi. Masih berharap ingin bertemu dengan pemilik rumah. Ingin bertemu langsung karena sudah lama tidak melihat orang yang pernah di kejarnya.


"Terus buat siapa oleh-oleh itu, jangan bilang itu oleh-oleh untuk Ayah Jose, kamu tidak dapat putranya kamu ingin mengejar ayahnya?" tanya Cak Mus asal.


Eno langsung melotot kesal mendengar pertanyaan Cak Mus, "Enak saja, selera Eno bukan om-om atau aki-aki seperti Cak Mus."


"Terus itu oleh-oleh buat siapa?"


Eno tidak menjawab pertanyaan Cak Mus. Dia termenung dan melihat arah dapur yang ada bayangan seseorang. Bahkan dia sampai melihat dengan membuka mata lebar-lebar.


Cak Mus yang mengetahui Eno sedang memperhatikan sesuatu. Dia ikut menengok ke arah mata Eno. Takut dia melihat Khan yang sedang bersembunyi.


"Halo ....!" teriak Cak Mus.

__ADS_1


"Eee apa sih Cak Mus ini?"


"Eno memperhatikan siapa?"


"Ada bayangan orang di dapur."


"Ada dua bibi yang sedang memasak di dapur. kalau kamu tidak perecaya Cak Mus panggilkan!"


"Tidak perlu, Eno pulang saja," jawab Eno berbalik badan.


Oleh-oleh yang dipegang Eno tidak jadi diberikan. Membuat Cak Mus kembali mencurigai Eno. Kemungkinan dalam oleh-oleh itu ada jampi-jampi seperti dulu lagi.


Cak Mus langsung berteriak dengan keras, "Eno ... mengapa oleh-oleh itu kamu bawa pulang lagi atau jangan-jangan ada ramuan semar mendem lagi ya?"


Eno langsung menghetikan langkahnya. Berbalik badan dan kembali mendekati Cak Mus, "Sembarangan kalau ngomong, ini buat Cak Mus saja deh!"


Cask Mus tergelak sambil menerima oleh-oleh satu tas paper bag berukuran sedang, "Terima kasih cantik, semoga ini ada ramuan semar mendemnya lagi, jadi Cak Mus bisa terrgila-gila dengan Eno."


"Jangan mimpi setinggi langit, Cak. Nanti kalau jatuh akan terasa sakit." Eno langsung meninggalkan rumah Khan.


"Asal jatuhnya di pelukan Eno, Cak Mus rela lho!"


"Sorry deh ogah banget."


Cak Mus bergegas menutup pintu setelah Eno keluar dari pintu gerbang. Mencari Khan yang tadi bersembunyi. Tidak tahu di mana persembunyian dia.


Khan keluar dar balik lemari pertisi yang ada di dekat ruang keluarga, "Mengapa diterima oleh-oleh itu, Cak?" tanya Khan duduk di samping Cak Mus.


"Ini oleh-olehnya buah merah khas Papua, apa mungkin ada ramuan magic?"


"Tidak tahu juga, Cak Mus saja yang makan."


"Siapa takut, nanti aku bawa pulang saja."


"Cak Mus ke sini mau bertemu ayah Jose atau hanya sekedar berkunjung?"


"Dua-duanya."


"Cak Mus kangen bermain karambol dengan ayahmu, apakah dia juga ikut berwisata?"


"Iya semua ke sana, kalau mau Cak Mus bisa menyusul ke sana."Bagaimana dengan tiket masuknya?"


"Gambang ... Ini uang transport dan tiket, nanti langsung gabung saja dengan mereka setelah sampai Trans Studio!" Khan memberikan tiga lembar uang gambar Suekarno dan Muhammad Hatta.


Vefe sempat mengintip saat ada suara pintu gerbang terbuka. Saat itu Vefe sedang membuka pintu balkon. Melihat juga dari atas tangga saat Khan bersembunyi di balik lemari pertisi.

__ADS_1


Khan langsung menuju kamar setelah Cak Mus berpamitan pulang. Mencari Vefe di kamar ternyata tidak ada, "Sayang ... Ve di mana?"


"Ve di balkon, Mas!"


Khan duduk berjongkok melihat kaki Veve yang di luruskan di sofa panjang. Ingin melanjutkan rayuan yang tadi terputus. Padahal tadi pagi sudah mampir berhasil.


"Kok kakinya sudah tidak bengkak lagi?"


"Alhamdulillah sudah sembuh, Mas."


"Yaaah padahal Mas ingin memberikan terapi rileks lagi pagi tadi."


"Tidak usah modus masih pagi."


"Ini sudah mau siang, Sayang. Mau makan sekarang atau nanti?"


Vefe bisa menebak kemungkinan suaminya hanya ingin makan dirinya alias berburu, "Mas mau makan apa?"


"Kalau disuruh memilih, Mas lebih memilih makan Ve saja."


Vefe mengerucutkan bibirnya. Dugaannya benar pasti sebelum dia berhasil jika ingin berburu. Pasti dia akan terus modus dan merayu.


"Jangan mengajak berburu sekarang. Ve lapar beneran ini."


"Ve pingin makan apa?"


"Bibi masak apa?"


"Tidak tahu, ayo kita turun!"


Saat mereka masih di pintu tangga hidung sudah mencium masakan bibi. Vefe tersenyum karena hanya menciun baunya saja air liur seolah menetes. Perpaduan harum ikan asin dan tidak tahu nama masakan satunya.


"Bibi, harum banget, masak apa ini?"


"Ini namanya Bubur Menado, Non."


"Mengapa ada ikan asin segala?"


"Bubur menado ini memang pasangannya harus menggunakan ikan asin agar lebih nikmat."


"Ooo Ve baru tahu, bubur di campur banyak saturan begini, apa aja ini sayurannya Bibi?"


Banyak sekali, Non. Ada kangkung, jagung, labu merah, kemangi dan bayam."


"Waaah lengkap sekali ya."

__ADS_1


Khan ikut melihat bubur Menado karena mendengar Vefe yang sangat antusias dan terlihat sangat senang karena ada kondimen ikan asin. Khan mengerutkan keningnya saat melihat warna bubur yang terlihat kuning dan lembek. Otaknya membayangkan hal aneh-aneh karena dia juga baru pertama kali melihatnya.


"Kok bentuk dan warnanya seperti itu, bubur apa itu?"


__ADS_2