
Khan hanya bisa menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan sambil menggelengkan kepala. Lepas dari obsesi Eno sekarang harus menghadapi Sania Parwati. Dua wanita yang sama-sama teropsesi dan tidak mau mengerti.
Sudah di tolak berkali-kali namun mereka masih ingin berjuang. Ditolak secara halus ataupun dengan cara terang-terangan. Ke duanya masih tetap saja mengharapkan cinta karena alasan restu Bunda Fatia.
"Ini masih ada satu lagi, Tuan. Voucer makan gratis untuk semua pimpinan PT KURNIA termasuk Anda." Asisten Satria memberikan dua lembar voucer.
Khan tergelak tidak menerima voucer gratis yang di sodorkan oleh Asisten Satria, "Buat apa voucer gratis? kayak tidak mampu membeli makan saja, buat kamu saja."
Khan meninggalkan Asisten Satria yang belum selesai laporan. Ingin cepat mengistirahatkan otaknya yang mulai emosi lagi. Persoalan perjodohan yang seolah tidak berujung.
"Tuan ... tunggu!"
Khan menghentikan langkahnya dan berbalik badan, "Ada apa lagi, Satria?"
"Tadi Nyonya Bunda menelepon, Beliu bertanya mengapa ke Surabaya tidak mampir ke rumah?"
"Dari mana Bunda tahu kalau aku ke Surabaya?"
"Pilot yang mengantar Anda bercerita kepada Nyonya Bunda."
__ADS_1
"Kamu bilang apa sama Bunda?"
"Bertemu rekan bisinis."
Setelah Khan membersihkan diri beristirahat di kamar. Menghubungi Bunda Fatia menggunakan sambungan telepon selular. Bercerita ke Surabaya hanya untuk pekerjaan yang mendesak.
Tidak sempat mampir ke rumah karena di samping di rumah hanya ada pengurus rumah tangga. Khan enggan jika bertemu dengan orang tua dari Eno. Rumah yang hanya berjarak tiga rumah, pasti mereka akan mengetahui jika pulang.
Khan juga berecerita jika Sabtu sore akan kembali ke Surabaya. Meeting dengan rekan bisnis sampai Minggu sore. Kemungkinan juga tidak akan mampir ke rumah, hanya akan tidur di kantor yang ada kamar pribadinya.
Saat di tanya Bunda Fatia mengapa tidak mau tidur di rumah? Dia hanya menjawab waktu yang sempit dan banyak yang harus di kerjakan. Saat menjawab bibirnya tersenyum membayangkan sibuk melihat gadis yang selalu diingatnya dalam hati.
Sania Parwati berkunjung ke kantor Khan sebelum istirahat siang. Berharap bertemu Khan untuk memastikan hari Minggu bisa hadir di kafe barunya. Kemarin saat berkunjung ke rumah tidak bertemu walau hanya sekedar memandang wajahnya.
"Asisten Satria ...!" panggil Sania di depan kantornya yang kebetulan pintu terbuka.
"Nona Sania, ada apa Anda ke sini?"
"Saya ingin bertemu ...?" Sania Parwati tidak melanjutkan ucapannya setelah Asistern Satria meletakkan jari telunjuk di bibir.
__ADS_1
"Maaf, Nona ... Ini kantor. Anda dilarang memanggil CEO PT KURNIA dengan sebutan mas!"
"Maaf ... Di mana Tuan Khan?"
"Tuan tidak di tempat, Beliau sedang berada di perusahaan cabang. Anda perlu apa?"
"Aku ingin memastikan Tuan Khan datang jam berapa di pembukaan kafe minggu besok?"
"Nona ... Anda sebenarnya sudah tahu jawabannya, Lebih baik jangan berharap banyak."
Sania Parwati menunduk tanpa menjawab perkataan Asisten Satria. Dari pertama melangkah ke perusahaan sudah tahu jawabannya. Hatinya yang masih susah menerima jika sebenarnya tidak ada harapan sama sekali.
Sering menghubungi Bunda Fatia tanpa Khan tahu. Dan masih sering meminta restu. Padahal sangat tahu jika laki-laki yang di sukainya menolak berkali-kali.
"Aku masih ingin berusaha mendapatkan perhatiannya walaupun sedikit."
Asisten Satria memandang dengan lekat wanita yang ada di depannya. Memandang dengan heran. Berpikir antara Eno dan Sania sama-sama teropsesi dengan orang yang sama.
"Saran saya lebih baik mundur saja, Nona. Di luar sana masih banyak laki-laki. Mengapa harus mengejar yang jelas-jalas tidak mau?"
__ADS_1
"Tidak bisa Asisten Satria, sebelum ada janur kuning melengkung Aku akan selalu mengejar Tuan Khan."