Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 32. Menyusul ke Surbaya


__ADS_3

Khan mendengarkan cerita Umi Maryam sambil menikmati kopi. Dua hari yang lalu Vefe berangkat ke Surabaya. Dia mendampingi murid perguruan ikut kompetisi silat tingkat yunior seluruh Indonesia.


Salah satu murid yang di dampingi adalah anak laki-laki penghuni panti asuhan. Rata-rata yang ikut bertanding masih duduk di bangku SMP. Lima hari Vefe di Surabaya dan kemungkinan hari Minggu sore baru pulang kembali ke Jakarta.


Sampai di rumah, Khan termenung sendiri teringat Vefe ada di Surabaya. Seharusnya ini kesempatan untuk bisa labih dekat dengan dia. Jika bisa menyusul ke sana yang notabene Surabaya adalah tanah kelahiran Khan sendiri.


Hanya sayangnya di Surabaya ada si ganjen Eno. Jika Khan pulang sekarang pasti Eno akan besar kepala. Pasti Eno berpikir Khan menyusulnya ke Surabaya.


Sampai pagi hari, Khan masih bingung belum bisa memutuskan untuk menyusul ke Surbaya atau tidak. Jika dipikir dengan logika, Khan memilih menunggu Vefe pulang. Hanya saja hati ingin sekali bertemu dengannya.


Saat Asisten Satria keluar dari rumahnya. Dia melihat ada mobil milik Retno Wulandari melintas di depan rumah. Dengan langkah panjang Asisten Satria ke rumah Khan melewati pintu samping.


Asisten Satria harus bergegas masuk rumah sebelum Khan keluar. Jam saat ini biasanya dia sudah siap untuk berangkat.


Khan selesai sarapan bergegas keluar rumah ingin cepat berangkat ke kantor. Asisten Satria bergegas masuk rumah sebelum tuannya itu sampai di teras rumah, "Tuan ... Tunggu!"


"Ada apa?"


"Di luar gerbang ada Nona Eno."

__ADS_1


"Berani sekali dia ke sini, Apakah dia sudah turun dari mobil?"


"Belum, Tuan."


"Apakah dia tadi melihat kamu ke sini?"


"Tidak ... Saya masuk lewat pintu samping setelah melihat mobil dia berhenti di depan gerbang."


"Ayo kita kerjain lagi dia!" Khan tersenyum mempunyai ide untuk membuat dia tidak bisa bertemu di rumah atau di kantor.


"Bagaimana caranya, Tuan."


Khan menghubungi Pak Bowo untuk membukakan pintu untuk Eno masuk. Mempersilahkan Eno parkir di halaman sebelah timur. Dengan senang hati Eno memarkirkan mobil miliknya seperti arahan Pak Bowo.


Bergegas Khan mengajak Asisten Satria masuk garasi dan berangkat sesaat Eno masuk. Sehingga mereka berselisih jalan. Bahkan Eno tidak memperhatikan Khan keluar dari garasi dan keluar rumah.


Tujuan Khan bukan ke kantor dia langsung naik ke lantai paling atas perusahaan PT KURNIA. Di sana ada hanggar helikopter milik perusahaan. Sebelum sampai lantai atas, Khan menghubungi pilot untuk bersiap terbang ke Surabaya sekarang juga.


Khan pagi ini juga berangkat ke Surabaya tanpa di dampingi oleh Asisten Satria. Asisten Satria mengantar Khan sampai hanggar helikopter. Sambil memberikan instruksi tentang pekerjaan selama di tinggal nanti.

__ADS_1


"Tolong rahasiakan perjalananku kali ini, aku hanya sehari. Kemungkinan aku tidak mampir ke rumah!" perintah Khan.


"Anda akan menemui Nona Vefe saja, Tuan?"


"Iya ... kamu tangani semua pekerjaan hari ini, jika penting kita bisa atur meeting lewat online saja!"


"Siap ... selamat berjuang!" Asisten Satria memberikan semangat dengan mengepalkan tangan.


"Satu lagi, kamu tangani soal Eno, pindahkan dia ke Sulawesi. bilang saja ini hanya sementara di sana ada masalah dan memerlukan tenaga tambahan."


"Apakah perlu saya menggunakan nama Anda agar Eno setuju berangkat ke Sulawesi, Tuan?"


"Tidak perlu, bilang saja ini darurat."


"Bagaimana jika dia bertanya ke mana Anda?"


Khan mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak, lebih baik mengetahui jika sekarang ini yang dicari ada di Sulawesi, "Bilang saja aku ada di Sulawesi."


Asisten Satria mengangguk dan tersenyum, "Siap laksanakan."

__ADS_1


Helikopter langsung berangkat ke Surabaya pagi ini. Dengan senyum mengembang Khan berteriak penuh semangat, "Ve ... Mas datang!"


__ADS_2