Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 10


__ADS_3

"Aku tidak marah karena Paman kalah, aku marah karena Paman tidak menepati kata-kata paman." ucap Kania.


"Paman bilang tidak akan ikut campur dengan urusan ku, namun paman setiap hari membuat ku kesal." ucap Kania.


"Paman..."


"Paman! Paman! Paman! terus saja mengatakan kalau paman melakukan itu karena perduli kepada ku, itu semua bohong! Aku sudah terlanjur kecewa dan aku sangat menyesal karena pernah mencintai pria seperti Paman!" ucap Kania.


Vincent mendengar Kania berbicara seperti itu dia langsung diam.


Tidak mengatakan apa-apa lagi Kania langsung masuk ke kamar nya.


"Huff!" Vincent merasa sangat kesal.


"Awas saja pria itu!" ucap Vincent dengan kesal.


Handphone Vincent berbunyi. Telpon dari Minhui.


"Halo sayang, kamu di mana? malam ini jadi kan kita makan malam di luar ngajak keponakan kamu?" tanya Minhui.


"Humm"


"Pasti jadi kan? aku sudah memilih restoran yang bagus dan cocok untuk Kania, oh iya aku juga sudah memesan makanan kesukaan Kania." ucap Minhui.


"Ya udah kalau begitu aku mau siap-siap dulu." ucap Minhui dan menutup telponnya.


Vincent mengetuk pintu kamar Kania.


Kania membuka pintu dia menatap Vincent dengan wajah datar.


"Kamu..."


"Apa lagi paman?" tanya Kania.


"Malam nanti kamu gak kemana-mana kan? Paman mau ngajakin kamu makan malam merayakan ujian kamu sudah selesai." ucap Vincent.


"Paman hanya ingat tentang seperti ini saja. Coba saja kalau tidak tentang ujian, pelajaran, nilai dia tidak akan pernah perduli kepada ku." batin Kania.


"Nanti malam aku ada janji sama teman-teman ku." ucap Kania.


"Tapi paman sudah memesan makanan kesukaan kamu."


"Jangan paksa aku!" ucap Kania dan menutup pintu.


Vincent menghela nafas panjang.


"Kania kamu tidak sopan menutup pintu seperti ini. Paman belum selesai bicara buka pintu nya!" ucap Vincent.


"Aku mau mandi." ucap Kania.


"Buka pintu nya! Kamu jangan bersikap seperti ini kepada orang yang lebih tua! Paman yakin karena kamu bergaul dengan pria itu!" ucap Vincent.

__ADS_1


Kania mengabaikan nya. Vincent berhenti berteriak di balik pintu dan langsung mandi.


Di malam hari nya Minhui sudah menunggu Vincent dan juga Kania.


"Pasti Kania sangat senang melihat semua makanan kesukaan nya ini." ucap Minhui.


"Sayang akhirnya kamu datang juga. Kania mana? Kok kamu sendiri?" tanya Minhui melihat Vincent datang sendirian.


"Humm Kania seperti nya tidak bisa datang. Dia ada janji dengan teman nya." ucap Vincent.


"Kok kamu gak ngomong sih? Aku sudah menyiapkan semua nya." ucap Minhui. Vincent tersenyum tipis dia sedikit tidak enak kepada Minhui.


"Sudah tidak apa-apa. Lain kali kan bisa." ucap Vincent.


"Aku kenapa merasa kania gak suka sama aku yah sayang?" ucap Kania.


"Maksud nya?"


"Sudah berapa kali aku mencoba untuk mendekat kan diri kepada dia, namun tetap saja dia slow respon." ucap Minhui.


"Sikap dia memang seperti itu, sulit untuk di dekati, butuh waktu yang cukup Lama." ucap Vincent.


"Ya udah deh kalau begitu kita makan saja. Tentang Kania nanti saja bahas nya." ucap Vincent langsung.


Minhui mengangguk.


Kania dan Ulfa sampai di Cafe.


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Kenapa sih Kania? Cerita saja kepada ku!" ucap Ulfa.


"Pasti ini tentang paman kamu lagi kan?" ucap Ulfa.


"Enggak kok." ucap Kania.


"Kamu tidak bisa berbohong Kania. Katakan saja." ucap Ulfa.


"Aku takut kamu terganggu dengan cerita ku, aku takut kamu muak mendengar ku." ucap Kania. Ulfa menggeleng kan kepala nya.


"Walaupun setiap hari kamu membahas ini terus, aku tidak akan mual selagi kamu mau bercerita dan terbuka kepada ku." ucap Ulfa.


Kania tersenyum.


"Sekarang coba ceritakan ada apa?" tanya Ulfa.


"Aku tidak tau apa yang terjadi kepada diri ku, hanya saja aku merasa marah." ucap Kania.


"Tentang Paman kamu lagi?"


Kania mengangguk dia menceritakan kejadian sore tadi.

__ADS_1


Ulfa menghela nafas panjang.


"Yang di katakan Paman kamu ada benarnya juga Kania. Dia hanya menjaga kamu." ucap Ulfa.


Kania menghela nafas panjang. "Sudah lah aku tidak mau membahas itu lagi." ucap Kania dia memesan minuman.


"Loh kamu pesan apaan Kania?" tanya Ulfa kaget melihat minuman keras yang di bawa ke meja mereka.


"Walaupun kamu patah hati, cinta kamu tidak terbalas kan, aku mohon jangan sampai mabuk Kania." ucap Ulfa memohon.


"Apa an sih Ulfa lebai banget, aku hanya memesan jus sama seperti kamu."


"Lalu ini?"


"Ini untuk meja sebelah mbak," ucap pelayan. Ulfa sangat malu karena jadi berfikir yang aneh-aneh.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka selesai makan dan keluar dari Cafe itu.


"Aku pulang duluan yah Kania." ucap Ulfa.


"Kamu pulang pakai apa? Aku cariin Taksi yah." ucap Kania. Ulfa akhirnya pulang duluan.


Kania Masih ingin berjalan-jalan di taman yang tidak jauh dari sana.


"Ternyata seperti ini yah rasanya menghabiskan waktu sendirian di luar." ucap Kania dia bisa melihat dari sana jembatan yang sangat panjang di penuhi lampu dan juga sungai yang sangat luas.


Dia terus berjalan-jalan. Sampai ketemu ayunan dia duduk di sana.


Setelah beberapa lama dia duduk di sana ternyata Yuda juga sedang berada di sana.


"Eh itu seperti Kania, apa benar itu Kania?" ucap Yuda karena tidak yakin kalau Kania masih di luar jam segini.


"Humm kalian lanjut duluan yah, kakak mau ke sana sebentar." ucap Yuda karena sedang bersama orang tua dan adik-adik nya.


Yuda duduk di sebelah Kania membuat Kania kaget.


"Yuda! Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Kania.


Yuda langsung tersenyum menunjukkan semua gigi nya.


"Kau bertanya kenapa kamu di sini dan kamu bisa tau aku di sini dari mana?"


"Aku tadi lagi sama orang tua ku dan juga adik ku jalan-jalan. Dan tidak sengaja melihat kamu di sini." ucap Yuda.


"Oohh. Enak yah jalan-jalan seperti ini di luar bersama keluarga." ucap Kania.


Yuda mengangguk. "Kenapa kamu jam segini masih di luar? ini sudah hampir jam sebelas malam dan taman juga sudah mulai Sepi. Bagaimana kalau paman kamu marah?" ucap Yuda.


"Tidak apa-apa, biasa nya malam Minggu seperti ini dia pasti tidak pulang." ucap Kania.


"Tapi tetap saja kamu perempuan, kamu tidak boleh di luar seperti ini sendiri."

__ADS_1


"Kamu sama saja seperti paman ku, dia tidak mengijinkan aku keluar, aku masih ingin di sini. Aku tidak tau kapan kesempatan ini ada lagi." ucap Kania.


__ADS_2