
Hati nya sudah sangat sakit dan memilih untuk pergi.
Saska mengejar nya, namun Minhui mengabaikan nya.
Namun tetap saja Saska memanggil nya sambil menangis.
Jeki mengambil Saska dan mengejar Minhui keluar.
"Kamu mau kemana? aku mohon kamu jangan pergi," Ucap Jeki.
"Lupakan saja, tidak ada gunanya aku di sini," ucap Minhui.
Jeki menahan tangan Minhui. "Aku minta maaf, kamu boleh marah padaku, tapi jangan meninggalkan Saska."
"Dia adalah keponakan mu, anak adik mu. Kamu bisa mengurus nya Tampa aku karena kami tidak ada kaitan apapun."
Minhui melepaskan tangan Jeki dan pergi begitu saja.
Keesokan harinya...
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Jeki kepada Jeki karena Jeki datang ke rumah nya.
"Aku sangat butuh bantuan mu, aku titip Saska sementara."
Vincent menatap Saska. "Bagaimana aku merawat nya? Kania sudah pergi dan aku tidak tau dia ada dimana."
"Kania pergi?" tanya Jeki kaget.
"Dia masih belum bisa menerima semua nya, dia pergi dan sekarang aku bingung mau mencari nya kemana."
"Kenapa kamu membawa Saska? Minhui kemana?"
"Kami berantem karena hal ini juga, dan sekarang Minhui kembali ke kota nya, aku harus mencari nya sebelum orang tua nya bertemu dengan nya."
"Bagaimana bisa kalian berantem sampai Minhui pergi?" tanya Vincent. "Cerita nya sangat panjang, tapi aku harus pergi sekarang."
"Aku juga akan mencari Kania, kalau aku membawa Saska dia akan sulit memaafkan aku."
Kelihatan nya Saska juga tidak mau lepas dari Jeki. Mau tidak mau dia harus membawa Saska dengan nya.
Di rumah Ulfa. Dia melihat Kania yang terbaring di kasur karena tadi malam tiba-tiba badan nya tidak enak.
"Kamu yakin to mau Kerumah sakit? Aku bisa mengantar kan kamu ke rumah sakit sebelum aku ke kampus."
Kania menggeleng kan kepala nya. "Aku gak apa-apa kok. Kamu berangkat lah ke kampus."
"Masih lama lagi kok, aku akan bantu pijit-pijit kepala kamu."
"Aku sama sekali tidak bisa tidur tadi malam, maaf yah jadi ngerepotin kamu."
"Ya ampun Kania, kamu sama sekali tidak merepotkan aku."
__ADS_1
"Sayang...." panggil Yuda.
Ulfa langsung ke depan melihat Yuda.
"Kamu sudah siap? Ayo berangkat."
"Ada apa? siapa di dalam?" tanya Yuda.
Setelah mengintip ke dalam, dia melihat Kania berbaring di kasur.
"Loh Kania, kamu kenapa bisa di sini?" tanya Yuda heran.
"Kania kurang enak badan," jawab Ulfa.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat dulu yah, kami berangkat dulu," Yuda di paksa keluar oleh Ulfa.
"Ada apa dengan Kania? Tidak biasanya dia tidur di rumah kamu."
"Dia ada masalah dengan suami nya," ucap Ulfa.
"Masalah apa?" Ulfa menceritakan semua nya kepada Yuda.
"Menurut kamu jalan keluar nya seperti apa?" tanya ulfa.
Yuda menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak tau mau memberikan kesimpulan seperti apa, tapi ini adalah masa lalu yang sama sekali tidak di dalam kendali."
Ulfa menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak tau Yuda, tapi mau bagaimana pun aku sangat tidak suka kepada Paman Vincent yang menutupi semua nya."
"Aku juga setuju sih dengan itu karena kejujuran adalah nomor satu."
"Aku di mana ini? Kenapa aku bisa sampai di sini?" tanya nya karena dia ketiduran selama di dalam bus.
Dia berjalan mencari tau di mana dia sekarang.
"Ya ampun.. kenapa aku bisa sejauh ini?" batin Minhui.
Dia bingung harus mencari bus ke tujuan nya sebelum nya.
Melihat uang nya sudah tidak ada membuat nya kebingungan sekali.
"Heh! Apa yang kau lakukan?" tiba-tiba seseorang meneriaki nya karena berdiri di tengah-tengah jalan.
Dia langsung ke pinggir. Karena kebingungan dia jadi tidak fokus..
Minhui duduk di kursi pinggir jalan.
"Seharusnya aku tidak ketiduran tadi nya," ucap Minhui.
Dia mencari pertolongan ke orang sekitar, dia ingin minjam handphone seseorang untuk menghubungi teman yang ingin dia kunjungi sebelumnya.
Untung saja bisa, dan tidak beberapa lama akhirnya teman nya datang menjemput dia.
__ADS_1
"Minhui... Apa ini benar-benar kamu?" tanya Pria yang sangat tampan baru keluar dari dalam mobil hitam.
Minhui sangat malu sekali, dia hanya menundukkan kepala nya. Akhirnya dia membawa ke tempat makan terlebih dahulu.
"Jadi selama ini, Jeki yang sudah menyembunyikan kamu dan membuat kamu seperti ini?" tanya Fikri.
Minhui mengangguk. "Aku sudah bilang dari dulu agar kamu jangan mau terpengaruh oleh nya, namun kamu sangat keras kepala semua nya jadi seperti ini."
"Aku menyesal tidak mau mendengar kan kamu," ucap Minhui.
"Sudah-sudah, tidak perlu di bahas lagi, sekarang kamu mau kembali ke rumah orang tua kamu?"
Minhui menggeleng kan kepala nya. "Tidak mungkin aku pulang dalam keadaan seperti ini."
"Kalau begitu kamu bisa tinggal dengan ku untuk sementara," ucap Fikri.
"Aku gak ngerepotin kamu kan?"
"Enggak kok, ayo pergi dari sini sebelum pria itu menemukan kamu di sini."
Selama perjalanan Minhui tidak banyak berbicara, dia tidak berhenti memikirkan Jeki dan juga Saska.
Sesampainya di rumah Fikri, dia di suruh untuk istirahat terlebih dahulu.
Fikri masih tinggal sendirian karena dia hanya menyukai Minhui, hanya saja dia tidak bisa mengutarakan nya mengingat pertemanan mereka.
"Kamu istirahat saja yah, ini adalah kamar kamu."
Sementara Jeki sudah sampai di rumah orang tua Minhui. Namun kedatangan nya di sambut dengan baik seperti tidak terjadi masalah apapun.
Dia tau kalau Minhui tidak datang kesana. Tidak bisa lama di sana, sebelum matahari terbenam dia harus menemukan Minhui.
"Kenapa aku harus mengatakan hal kasar dan melakukan hal itu, sekarang semua nya seperti ini," Jeki terlihat sangat prustasi sekali.
Dia melihat Saska, karena memikirkan keadaan Minhui dia sampai lupa kalau Saska dan dirinya belum makan.
Mereka mencari makanan terlebih dahulu. Tidak beberapa lama dapat Saska tidak berselera makan sementara Saska sangat lahap sekali di suapin oleh Jeki.
Vincent juga sudah prustasi, namun dia baru ingat Ulfa.
Tidak lama dia langsung menghubungi nomor Ulfa. "Seperti nya Paman Vincent sudah tau kalau Kania di rumah ku, itu sebabnya dia menelpon ku," ucap nya kepada Yuda.
"Halo Paman?"
"Kania di rumah mu kan? jangan berbohong!"
Ulfa terdiam sejenak. "Katakan!"
Ulfa tidak ingin mengatakan nya, tapi dia tidak bisa berbohong kepada pria yang sangat di hormati nya itu.
"I-Iyah Paman, tapi sebaiknya paman jangan mengganggu nya terlebih dahulu, biarkan dia untuk istirahat sampai dia tenang."
__ADS_1
"Saya hanya ingin melihat keadaan nya," Ucap Vincent.
"Untuk sekarang Kania baik-baik saja pak, saya akan memberikan kabar tentang Kania kepada bapak setiap waktu."